Jumat, 17 Mei 2013

Mengapa Rasulullah Muhammad Begitu dibela Umatnya?

Mengapa Rasulullah Muhammad Begitu dibela Umatnya?

Pelecehan terhadap Nabi rupanya tak berhenti. Menteri Italia Roberto Calderoli, juga memakai kaos bergambar kartun Nabi Muhammad. Tapi mengapa umat Islam selalu membela Muhammad?
 

 
Rasulullah Muhammad saw., sosok yang amat dihormati kaum muslimin, tauladan yang paling ideal bagi setiap pribadi mukmin, perkataan dan perbuatan beliau terekam dalam lembaran-lembaran kitab, dengan menyertakan sanad dan rawi tsiqah yang menjaganya dari kedustaan. Sehingga, walau sudah 14 abad lebih jarak kita dengan Rasulullah saw. tapi kita masih bisa menelaah dan menghayati kalimat demi kalimat yang pernah beliau tuturkan.

Perkataan, perbuatan serta persetujuan Rasulullah saw, sendiri memiliki posisi yang amat tinggi dalam Islam, ia adalah sumber kedua setelah Kitabullah. Dan dalam penyampaiannya pun ada adab-adab tertentu yang harus dipegang oleh seorang muhadits, sebagaimana disebutkan Imam Adzahabi, bahwa Imam Malik mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian serta mengenakan pakaian yang bagus ketika hendak menyampaikan hadist (Al Muqidzoh, hal. 67).

Bahkan Allah telah berfirman: "Diri Nabi lebih berharga daripada jiwa-jiwa orang mukmin." (Al Ahzab: 6). Dan diriwayatkan bahwa Umar ra. berkata kepada Rasulullah saw., "wahai Rasulullah, demi Allah benar-benar engkau yang paling aku cintai, melebihi cintaku terhadap segala sesuatu, kecuali terhadap diriku sendiri". Maka bersabdalah Rasulullah: "Tidak wahai Umar, sehingga engkau mencintai aku lebih dari cintamu terhadap dirimu sendiri". Lalu berkatalah Umar ra: "Demi Allah wahai Rasulullah, benar-benar engkau yang paling aku cintai terhadap segala sesuatu hingga terhadap diriku sendiri." Maka berkatlah Rasulullah saw: "Sekarang wahai Umar". (HR. Bukhari)


Penghinaan dan Ideologi Kebebasan
Umat Islam di seluruh penjuru dunia tiba-tiba terperangah, ketika ada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab merendahkan kedudukan beliau dengan memvisualkan nya dalam bentuk karikatur melecehkan yang dipublikasikan Jyllan Posten, sebuah media massa yang diterbitkan di Denmark, kemudian dipublikasikan ulang oleh media-media di Jerman, Belanda, Itali, bahkan Rakyat Merdeka pun tidak mau kalah.
Dan yang amat menyakitkan lagi, pihak-pihak yang bersangkutan ada yang merasa tidak bersalah serta tidak mau meminta ma'af dan pemerintahnya enggan menindak para pelakunya, dengan alasan yang cukup praktis, bahwa hal itu menyangkut kebebasan berekspresi.

Kebebasan bagi Barat seakan-akan wahyu yang tidak boleh disentuh, tidak boleh dikritik, bahkan ideologi ini bisa mengalahkan wahyu-wahyu yang sebenarnya. Tidak sebatas itu, pihak Barat -sebagai bangsa-bangsa yang berkuasa- telah mengampanyekan ideologi ini -salah satunya- melalui jalur-jalur LSM dan mulai memaksakan paham kebebasan ini kapada negeri-negeri muslim serta menggunakannya sebagai senjata untuk menghadang berlakunya syari'at Islam.

Sikap congkak dan arogan yang dimiliki "kaum pemuka" yang hidup di zaman ini tidaklah berbeda dengan sikap "kaum pembesar" kafir ketika berhadapan dengan risalah yang dibawa para rasul.
Muhammad Qutub mengajak kita merenungi ayat-ayat Allah tentang reaksi para penguasa dan pembesar kaum-kaum terdahulu terhadap para rasul yang diutus untuk mereka, dalam Dirasat Qur'aniyah, hal 107 dia menukil:

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa ditimpa azab hari kiamat". Para pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata."(Al A'raf: 59,60)

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata:"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?" Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." (Al A'raf: 65,66)
 
Perilaku yang serupa, juga ada pada kaum Tsamud dan penduduk Madyan,
 
Di setiap masyarakat jahiliyah selalu ditemukan "pemuka", mereka adalah para pemimpin, bangsawan bagi hamba-hamba yang mentaatinya. Di masyarakat jahiliyah merekalah yang "memiliki" dan "menghukumi". Yang membangun 'syari'at' dari hasil pemikiran mereka, untuk menjaga pengaruh dan kekekuasaanya terhadap para "hamba".

Dengan kekuasaan dan kemapanan yang dimiliki mereka mengadakan pemaksaan kapada yang lemah agar selalu tunduk terhadap paham dan hegemoni mereka.
Propaganda terus-menerus mereka lancarkan dengan segala sarana yang dimiliki, sebagai jalan utnuk mempertahankan kekuasaan serta memendung arus dakwah tauhid. Pendek kata, semua harus memiliki keyakinan sama dengan mereka, pandangan yang sama, hukum yang sama, jika tidak mereka tidak segan-segan untuk mengancam, memerangi, mengembargo, atau bahkan membasmi mereka yang enggan untuk tunduk.

Sesungguhnya loyalitas, tunduk dan taat hanyalah kepada Allah semata. Akan tetapi para "pemuka" ini menghandaki bahwa loyalitas hanyalah kepada mereka saja, dan taat hanya kepada mereka semata.
La ilaha ilallah bermakna bahwa sesunggunya kekuasaan hanyalah milik Allah, dan sesungguhnya yang berhak menghukumi hanyalah Allah, yang menghalalkan dan mengharamkan, menilai baik atau buruk, membolehkan dan melarang hanyalah Allah. Akan tetap para "pemuka" ini menginginkan bahwa kekuasaan itu ada dalam genggaman tangan mereka, dan hanya mereka yang boleh menghukumi, sarta menghalalkan dan mengharamkan dengan cara mereka sendiri.

Walhasil, umat Rasulullah saw. saat ini juga sedang menghadapi "para pemuka" bumi yang berusaha memaksakan kehendaknya. Menghadang dakwah tauhid yang mereka serukan. Menekan kaum lemah dengan berbagai cara agar tunduk di bawah kekuasaan mereka.
"Pemuka-pemuka" yang menghendaki agar umat Islam mengikuti apa saja yang mereka putuskan tanpa perlu mereka menyanggah atau bertanya. Para "pemuka" yang siap membelanjakan harta mereka untuk menyebarkan ideologi dan 'syari'at' versi mereka, sampai umat tunduk dan 'sujud' dibawah telapak kaki mereka dengan lebel "kebebasan".
 
Bahkan, jika perlu, mereka akan menghalalkan segala cara, diantaranya, termasuk melakukan image kepada sosok Muhammad, simbol kecintaan umat Islam seluruh dunia, sebagaimana baru-baru ini terjadi.
Sayangnya, para kaum 'pemuka', tak menyadari, begitu tinggi kedudukan Muhammad di mata umatnya, bahkan Allah SWT saja, sang Penguasa dan Pencipta Alam raya ini bersolawat padanya.
Dalam  Firmannya: "Sesungguhnya Allah beserta para malaikatnya bersholawat untuk nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al Ahzab: 56).
 
Karena itu, kecintaan umat Islam di seluruh dunia terhadap agama ini dan kepada junjungannya bernama Muhammad, tak akan runtuh dengan cara apapun. Sebaliknya, cara-cara yang tidak elegan, termasuk dengan pelecehan dan penghinaan seperti itu, justru menjadi bumerang baru sebagai bukti pembelaan bagi kaumnya.


Pelecehan terhadap Nabi rupanya tak berhenti. Menteri Italia Roberto Calderoli, juga memakai kaos bergambar kartun Nabi Muhammad. Tapi mengapa umat Islam selalu membela Muhammad?
 

 
Rasulullah Muhammad saw., sosok yang amat dihormati kaum muslimin, tauladan yang paling ideal bagi setiap pribadi mukmin, perkataan dan perbuatan beliau terekam dalam lembaran-lembaran kitab, dengan menyertakan sanad dan rawi tsiqah yang menjaganya dari kedustaan. Sehingga, walau sudah 14 abad lebih jarak kita dengan Rasulullah saw. tapi kita masih bisa menelaah dan menghayati kalimat demi kalimat yang pernah beliau tuturkan.

Perkataan, perbuatan serta persetujuan Rasulullah saw, sendiri memiliki posisi yang amat tinggi dalam Islam, ia adalah sumber kedua setelah Kitabullah. Dan dalam penyampaiannya pun ada adab-adab tertentu yang harus dipegang oleh seorang muhadits, sebagaimana disebutkan Imam Adzahabi, bahwa Imam Malik mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian serta mengenakan pakaian yang bagus ketika hendak menyampaikan hadist (Al Muqidzoh, hal. 67).

Bahkan Allah telah berfirman: "Diri Nabi lebih berharga daripada jiwa-jiwa orang mukmin." (Al Ahzab: 6). Dan diriwayatkan bahwa Umar ra. berkata kepada Rasulullah saw., "wahai Rasulullah, demi Allah benar-benar engkau yang paling aku cintai, melebihi cintaku terhadap segala sesuatu, kecuali terhadap diriku sendiri". Maka bersabdalah Rasulullah: "Tidak wahai Umar, sehingga engkau mencintai aku lebih dari cintamu terhadap dirimu sendiri". Lalu berkatalah Umar ra: "Demi Allah wahai Rasulullah, benar-benar engkau yang paling aku cintai terhadap segala sesuatu hingga terhadap diriku sendiri." Maka berkatlah Rasulullah saw: "Sekarang wahai Umar". (HR. Bukhari)


Penghinaan dan Ideologi Kebebasan
Umat Islam di seluruh penjuru dunia tiba-tiba terperangah, ketika ada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab merendahkan kedudukan beliau dengan memvisualkan nya dalam bentuk karikatur melecehkan yang dipublikasikan Jyllan Posten, sebuah media massa yang diterbitkan di Denmark, kemudian dipublikasikan ulang oleh media-media di Jerman, Belanda, Itali, bahkan Rakyat Merdeka pun tidak mau kalah.
Dan yang amat menyakitkan lagi, pihak-pihak yang bersangkutan ada yang merasa tidak bersalah serta tidak mau meminta ma'af dan pemerintahnya enggan menindak para pelakunya, dengan alasan yang cukup praktis, bahwa hal itu menyangkut kebebasan berekspresi.

Kebebasan bagi Barat seakan-akan wahyu yang tidak boleh disentuh, tidak boleh dikritik, bahkan ideologi ini bisa mengalahkan wahyu-wahyu yang sebenarnya. Tidak sebatas itu, pihak Barat -sebagai bangsa-bangsa yang berkuasa- telah mengampanyekan ideologi ini -salah satunya- melalui jalur-jalur LSM dan mulai memaksakan paham kebebasan ini kapada negeri-negeri muslim serta menggunakannya sebagai senjata untuk menghadang berlakunya syari'at Islam.

Sikap congkak dan arogan yang dimiliki "kaum pemuka" yang hidup di zaman ini tidaklah berbeda dengan sikap "kaum pembesar" kafir ketika berhadapan dengan risalah yang dibawa para rasul.
Muhammad Qutub mengajak kita merenungi ayat-ayat Allah tentang reaksi para penguasa dan pembesar kaum-kaum terdahulu terhadap para rasul yang diutus untuk mereka, dalam Dirasat Qur'aniyah, hal 107 dia menukil:

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa ditimpa azab hari kiamat". Para pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata."(Al A'raf: 59,60)

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata:"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?" Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta." (Al A'raf: 65,66)
 
Perilaku yang serupa, juga ada pada kaum Tsamud dan penduduk Madyan,
 
Di setiap masyarakat jahiliyah selalu ditemukan "pemuka", mereka adalah para pemimpin, bangsawan bagi hamba-hamba yang mentaatinya. Di masyarakat jahiliyah merekalah yang "memiliki" dan "menghukumi". Yang membangun 'syari'at' dari hasil pemikiran mereka, untuk menjaga pengaruh dan kekekuasaanya terhadap para "hamba".

Dengan kekuasaan dan kemapanan yang dimiliki mereka mengadakan pemaksaan kapada yang lemah agar selalu tunduk terhadap paham dan hegemoni mereka.
Propaganda terus-menerus mereka lancarkan dengan segala sarana yang dimiliki, sebagai jalan utnuk mempertahankan kekuasaan serta memendung arus dakwah tauhid. Pendek kata, semua harus memiliki keyakinan sama dengan mereka, pandangan yang sama, hukum yang sama, jika tidak mereka tidak segan-segan untuk mengancam, memerangi, mengembargo, atau bahkan membasmi mereka yang enggan untuk tunduk.

Sesungguhnya loyalitas, tunduk dan taat hanyalah kepada Allah semata. Akan tetapi para "pemuka" ini menghandaki bahwa loyalitas hanyalah kepada mereka saja, dan taat hanya kepada mereka semata.
La ilaha ilallah bermakna bahwa sesunggunya kekuasaan hanyalah milik Allah, dan sesungguhnya yang berhak menghukumi hanyalah Allah, yang menghalalkan dan mengharamkan, menilai baik atau buruk, membolehkan dan melarang hanyalah Allah. Akan tetap para "pemuka" ini menginginkan bahwa kekuasaan itu ada dalam genggaman tangan mereka, dan hanya mereka yang boleh menghukumi, sarta menghalalkan dan mengharamkan dengan cara mereka sendiri.

Walhasil, umat Rasulullah saw. saat ini juga sedang menghadapi "para pemuka" bumi yang berusaha memaksakan kehendaknya. Menghadang dakwah tauhid yang mereka serukan. Menekan kaum lemah dengan berbagai cara agar tunduk di bawah kekuasaan mereka.
"Pemuka-pemuka" yang menghendaki agar umat Islam mengikuti apa saja yang mereka putuskan tanpa perlu mereka menyanggah atau bertanya. Para "pemuka" yang siap membelanjakan harta mereka untuk menyebarkan ideologi dan 'syari'at' versi mereka, sampai umat tunduk dan 'sujud' dibawah telapak kaki mereka dengan lebel "kebebasan".
 
Bahkan, jika perlu, mereka akan menghalalkan segala cara, diantaranya, termasuk melakukan image kepada sosok Muhammad, simbol kecintaan umat Islam seluruh dunia, sebagaimana baru-baru ini terjadi.
Sayangnya, para kaum 'pemuka', tak menyadari, begitu tinggi kedudukan Muhammad di mata umatnya, bahkan Allah SWT saja, sang Penguasa dan Pencipta Alam raya ini bersolawat padanya.
Dalam  Firmannya: "Sesungguhnya Allah beserta para malaikatnya bersholawat untuk nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al Ahzab: 56).
 
Karena itu, kecintaan umat Islam di seluruh dunia terhadap agama ini dan kepada junjungannya bernama Muhammad, tak akan runtuh dengan cara apapun. Sebaliknya, cara-cara yang tidak elegan, termasuk dengan pelecehan dan penghinaan seperti itu, justru menjadi bumerang baru sebagai bukti pembelaan bagi kaumnya.
Posting Komentar