Minggu, 03 November 2013

Bahaya Menggunjing

Bahaya Menggunjing
Segala puji hanya untuk Allah Shubhanahuwata’alla, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Kami berwasiat kepada diri saya sendiri, dan juga kepada kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Shubhanahuwata’alla, maka Allah Shubhanahuwata’alla akan mencukupinya. Dan barangsiapa yang takut kepada manusia, maka sesungguhnya, manusia tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun di hadapan Allah Shubhanahuwata’alla. Kita juga harus menyadari, bahwa tidak ada yang bisa mendapatkan rahmat kecuali orang-orang yang bertakwa. Tidaklah mendapatkan pahala, kecuali orang-orang yang berada di atas ketakwaan. Nasihat untuk bertakwa ini sangatlah banyak. Akan tetapi, betapa disesalkan, karena yang melaksanakannya ternyata sangat sedikit. Semoga Allah Shubhanahuwata’alla menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa.
Sebagai agama yang sempurna, Islam mengajak bicara akal, hati, perasaan dan jiwa, akhlak dan pendidikan. Agama yang mulia ini menggariskan adanya peraturan-peraturan agar seorang muslim dapat memiliki hati yang selamat, perasaan yang bersih, menjaga kehormatan lisan, dan menjaga rahasia pribadinya, serta dapat berakhlak mulia terhadap Rabb-nya, dirinya dan seluruh manusia. Allah Shubhanahuwata’alla berfirman :

قال الله تعالى: ﴿يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَءَامَنُواْٱجۡتَنِبُواْكَثِيرٗامِّنَٱلظَّنِّإِنَّبَعۡضَٱلظَّنِّإِثۡمٞۖ وَلَاتَجَسَّسُواْ ١٢ ﴾ [الحجرات:12] 
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. [alHujurat/49 : 12].

Pesan al Qur`an
ini, merupakan jawaban atas fenomena yang kita lihat saat ini. Yakni, agar kita terhindar dari perbuatan ghibah (menggunjing), mencari-cari kesalahan orang lain. Karena menggunjing ini dapat menyebabkan terlanggarnya kehormatan, keselamatan hati dan ketenangan di masyarakat. Perbuatan menggunjing, merupakan salah satu dosa besar yang membinasakan, merusak agama para pelakunya, baik sebagai pelaku ataupun orang yang rela ketika mendengarkannya.
Allah Shubhanahuwata’alla berfirman di dalam al Qur`an :

قال الله تعالى: ﴿ وَلَاتَجَسَّسُواْوَلَايَغۡتَببَّعۡضُكُمبَعۡضًاۚ أَيُحِبُّأَحَدُكُمۡ أَنيَأۡكُلَلَحۡمَأَخِيهِمَيۡتٗافَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْٱللَّهَۚ إِنَّٱللَّهَتَوَّابٞ رَّحِيمٞ ١٢﴾ [الحجرات:12] 
Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah Shubhanahuwata’alla. Sesungguhnya Allah Shubhanahuwata’alla Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [alHujurat/49 : 12].

Menggunjing orang lain, tidak lepas dari salah satu dari tiga istilah, yang semuanya disebutkan al Qur`an. Yaitu : ghibah, ifku dan buhtan.
Apabila yang Anda sebutkan tentang saudara Anda itu ada padanya, maka inilah ghibah. Apabila Anda menyampaikan semua yang  Anda dengar, maka ini adalah ifku. Dan apabila yang Anda sebutkan tidak ada pada diri saudaramu, maka ini adalah buhtan. Ghibah (menggunjing) adalah, setiap yang dapat dipahami dengan maksud penghinaan, baik berupa perkataan, isyarat atau tulisan. Ghibah ini, juga bisa berupa penghinaan terhadap seseorang tentang agama, kondisi fisik, akhlak, harta dan keturunannya. Barangsiapa yang mencela ciptaanAllah Shubhanahuwata’alla, berarti ia telah mencela penciptanya.
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyeru pelaku perbuatan ini dengan sabdanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ » []
Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun keimanan itu belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah (menggunjing) kaum Muslimin. Jangan pula mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, (maka) Allah Shubhanahuwata’alla akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah Shubhanahuwata’alla mencari-cari aibnya, niscaya Allah Shubhanahuwata’alla akan membeberkan aibnya, meskipun dia di dalam rumahnya.

Tentang bahaya menggunjing ini, al Hasan berkata : “Ghibah, demi Allah Shubhanahuwata’alla, lebih cepat merusakkan agama seseorang daripada ulat yang memakan tubuh mayit”. Maka sungguh aneh, jika ada orang yang mengaku sebagai ahlul haq dan ahlul iman, ternyata ia melakukan perbuatan ghibah (menggunjing), sedangkan dia mengetahui akibat buruk perbuatan tersebut. Firman Allah Shubhanahuwata’alla mengingatkan :

قال الله تعالى: ﴿أَيُحِبُّأَحَدُكُمۡ أَنيَأۡكُلَلَحۡمَأَخِيهِمَيۡتٗافَكَرِهۡتُمُوهُۚ﴾ [الحجرات:12] 
Sukakahsalahseorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? [alHujurat/49 : 12].
                                                                   
Seburuk-buruk ghibah, yaitu menggunjing para pemimpin, para ulama, orang-orang berkedudukan, orang-orang shalih, dan orang yang mengajak berbuat adil. Pelaku ghibah ini telah mencabik-cabik kehormatan orang-orang terpandang yang memiliki kedudukan. Pelaku ghibah ini juga merendahkan kedudukan mereka, menghilangkan kewibawaan mereka, menghilangkan kepercayaan terhadap mereka, mencela perbuatan dan usaha mereka, dan meragukan kemampuan mereka. Bayangkan, tidak disebut seorang yang mulia di hadapannya, kecuali direndahkannya. Tidaklah muncul seorang yang mulia, kecuali dicelanya. Tidak pula orang shalih, kecuali dia akan menuduhnya. Pelaku ghibah ini, senang menuduh orang-orang terpercaya, menggunjing orang-orang shalih. Pelaku ghibah menanamkan permusuhan dan membingungkan orang-orang kebanyakan, memutuskan silaturahmi dan memecah persatuan.
Allahu Akbar! Apakah seorang muslim layak bersikap demikian kepada saudaranya?
Wahai pelaku ghibah! Setiap orang pasti dicintai dan dibenci, diridhai dan dimarahi, disukai dan dimusuhi.
Orang yang berakal, dalam mencintai kekasihnya, ia tidak akan berbuat secara berlebihan; sebab, mungkin suatu hari orang yang dikasihinya tersebut akan dibencinya. Sebaliknya, manakala seorang muslim harus membenci, maka dia pun bersikap sewajarnya; sebab, mungkin suatu hari orang yang dibencinya akan menjadi kekasihnya. Oleh karena itu, jadilah orang yang selalu menegakkan kebenaran dan bersikap adil. Jangan sampai ketidaksukaan membuatmu bersikap zhalim. Allah Shubhanahuwata’alla berfirman :

قال الله تعالى: ﴿ يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَءَامَنُواْكُونُواْقَوَّٰمِينَلِلَّهِشُهَدَآءَبِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَايَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُقَوۡمٍعَلَىٰٓ أَلَّاتَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْهُوَأَقۡرَبُلِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْٱللَّهَۚ إِنَّٱللَّهَخَبِيرُۢ بِمَاتَعۡمَلُونَ﴾ [المائدة:8] 
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karenaAllah Shubhanahuwata’alla, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. [alMaidah/5 : 8].

Jika dikatakan kepada Anda : “Fulan telah meggunjingmu, sampai kami merasa kasihan kepadamu”. Maka jawablah dengan perkataan : “Seharusnya, dialah yang seharusnya engkau kasihani”. Bertakwalah kita kepada Allah Shubhanahuwata’alla. Sungguh beruntung orang yang bisa menahan diri, tidak berlebihan dalam berbicara. Sungguh beruntung orang yang bisa menguasai lisannya. Sungguh beruntung orang yang terhindar dari menggunjing orang lain, karena ia mengetahui yang ada pada dirinya. Sungguh beruntung orang yang berpegang denganpetunjuk al Qur`an, kemudian menghadapAllah Shubhanahuwata’alla dengan hati yang khusyu’, lisan yang jujur, dan ikhlas mencintai saudaranya.


قال الله تعالى: ﴿وَٱلَّذِينَجَآءُومِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَرَبَّنَاٱغۡفِرۡ لَنَاوَلِإِخۡوَٰنِنَاٱلَّذِينَسَبَقُونَابِٱلۡإِيمَٰنِوَلَاتَجۡعَلۡ فِيقُلُوبِنَاغِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْرَبَّنَآ إِنَّكَرَءُوفٞ رَّحِيمٌ١٠﴾ [الحشر:10] 
Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang. [alHasyr/59 : 10].

Kami mengingatkan kembali, hendaklah kita jauhi perbuatan ghibah atau menggunjing orang lain. Ketahuilah, orang yang mendengarkan ghibah, ia mendapatkan dosa yang sama seperti pelakunya. Sehingga orang yang mendengarkan ghibah tidak selamat dari dosa, kecuali jika ia mengingkari dengan lisannya, atau dengan hatinya. Apabila bisa, hendaklah ia tinggalkan majelis atau tempat tersebut, atau memutusnya dengan mengalihkan kepada pembicaraan yang lain. Karena, orang yang diam ketika mendengar ghibah, maka ia termasuk bergabung dengan pelakunya. Sehingga Ibnu Mubarak mengingatkan: “Pergilah dari orang yang menggunjing, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa”. Setiap orang memiliki cacat dan aib, kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, kita jangan merasa mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Daripada mengurusi aib orang lain, mengapa kita tidak menyibukkan diri dengan aib sendiri? Jagalah hak dan kehormatan saudaramu! Dalam sebuah hadits dinyatakan :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ ذَبَّ عَنْ لَحْمِ أَخِيهِ بِالْغِيبَةِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ » []
Barangsiapa yang membela daging (kehormatan) saudaranya dari ghibah, maka menjadi hak Allah Shubhanahuwata’alla untukmembebaskannya dari api neraka.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ » []
Barangsiapa yang berkata tentang seorang mu`min yang tidak ada padanya, (maka) Allah Shubhanahuwata’alla akan menempatkannya padalumpur ahli neraka, sampai dia keluar dari apa yang dia ucapkan.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ » []

Barangsiapa berbuat kezhaliman terhadap saudaranya (orang lain), hendaklah dia meminta maaf atas kezhalimannya. Karena (pada hari Kiamat), di sana tidak ada dinar (dan) tidak pula dirham sebagai penebusnya, sebelum diambil kebaikan dari dirinya untuk saudaranya tersebut. Apabila dia tidak memiliki kebaikan, maka diambillah kejelekansaudaranya tersebut dan dilimpahkan kepadanya.
Poskan Komentar