Senin, 06 Januari 2014

Makkah, Keutamaan Dan Keharamannya

Makkah, Keutamaan Dan Keharamannya
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba'du:
Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla, Sang Maha Pencipta telah menciptakan segala sesuatu, dan telah melebihkan ciptaan -Nya tersebut satu sama lain serta memilih mereka sesuai yang -Dia kehendaki, hal itu seperti dijelaskan oleh Allah ta'ala dalam firman -Nya:

﴿ وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٦٨ ﴾ [ القصص: 68 ]
"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang -Dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)".  (QS al-Qashash: 68).
Diantara tempat-tempat yang mempunyai kelebihan, sebagaimana telah Allah ta'ala lebihkan dari tempat lainnya ialah kota Makkah. Negeri yang menjamin keamanan bagi siapa saja yang memasukinya, negeri tempat turunnya wahyu pertama serta sumber risalah. Itulah negeri yang Allah ta'ala telah bersumpah dengannya, seperti ditegaskan dalam firman -Nya:

﴿ لَآ أُقۡسِمُ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ١ وَأَنتَ حِلُّۢ بِهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٢ ﴾ [ البلد: 1-2 ]
"Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah). Dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini".  (QS al-Balad: 1-2).

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan: "Ini adalah sumpah dari Allah azza wa jalla dengan kota Makkah, Umul Quro, yang menjelaskan betapa agungnya kedudukan kota Makkah bagi penghuninya, pada saat mereka melakukan manasik dibanding dengan saat-saat tidak mengerjakan rangkaian manasik. Bahwa negeri ini adalah negeri yang aman sebagaimana dijelaskan dalam firman -Nya yang lain:

﴿ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ٣ ﴾ [ التين: 3 ]
"Dan demi kota (Mekah) ini yang aman". (QS at-Tiin: 3).[1]

Ada sekian banyak nash yang menjelaskan tentang kelebihan serta haramnya kota Makkah, diantaranya yaitu:
Pertama: Disanalah berdiri rumah Allah Shubhanahu wa ta’alla, bangunan pertama untuk ibadah yang dibangun untuk manusia. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla sendiri yang menceritakan hal tersebut melalui firman -Nya:

﴿إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِينَ ٩٦﴾ [ ال عمران: 96 ]
"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia". (QS al-Imran: 96).

Dalam sebuah hadits dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَوَّلِ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِى الأَرْضِ. قَالَ : الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ . قُلْتُ: ثُمَّ أَىٌّ؟ قَالَ: الْمَسْجِدُ الأَقْصَى. قُلْتُ: كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: أَرْبَعُونَ عَامًا » [أخرجه البخاري و مسلم]
"Aku pernah bertanya kepada Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam tentang bangunan masjid pertama yang dibangun dimuka bumi. Beliau menjawab: "Masjidil Haram". Aku bertanya lagi: "Kemudian mana lagi? Beliau mengatakan: "Masjid al-Aqsa". Berapa jarak pembangunannya antara keduanya, tanyaku kembali. Beliau menjelaskan: "Jarak pembuatan antara keduanya selama empat puluh tahun". HR Bukhari no: 3366. Muslim no: 520. [2]

Kedua: Allah ta'ala menjadikan kota Makah haram serta aman bagi penghuninya, tidak boleh menumpahkan darah disana. Tidak boleh pula menebang pepohonan serta tumbuh-tumbuhannya, membikin lari hewan buruan, dan memungut barang temuan untuk pribadinya, namun, dirinya boleh memungutnya hanya sebatas untuk diumumkan siapa pemiliknya.
Hal itu, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Suraih radhiyallahu 'anhu, beliau mengatakan: "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ مَكَّةَ حَرَّمَهَا اللَّهُ وَلَمْ يُحَرِّمْهَا النَّاسُ فَلَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَسْفِكَ بِهَا دَمًا وَلَا يَعْضِدَ بِهَا شَجَرَةً فَإِنْ أَحَدٌ تَرَخَّصَ لِقِتَالِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا فَقُولُوا إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذِنَ لِرَسُولِهِ وَلَمْ يَأْذَنْ لَكُمْ وَإِنَّمَا أَذِنَ لِي فِيهَا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ثُمَّ عَادَتْ حُرْمَتُهَا الْيَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالْأَمْسِ وَلْيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ » [أخرجه البخاري و مسلم]
"Sesungguhnya Makah adalah negeri yang telah Allah haramkan, bukan manusia yang mengharamkannya. Maka tidak boleh bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah disana, tidak boleh untuk menebangi pepohonannya. Kalau sekiranya ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulallah diberi keringanan untuk melakukan peperangan didalam kota Makah, maka hendaknya kalian katakan padanya: "Sesungguhnya Allah telah mengizinkan pada Rasul -Nya, namun, tidak bagi kalian". Hanya saja Allah mengizinkan untuk berperang padaku, hanya beberapa waktu saja. Kemudian keharamannya hari ini kembali lagi seperti kemarin, oleh karena itu, hendaknya orang yang hadir pada saat ini menyampaikan pada orang lain". HR Bukhari no: 104. Muslim no: 1354.

Ketiga: Adanya nash yang menjelaskan tentang keutamaan sholat di masjidil Haram.
Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad didalam musnadnya dari haditsnya Jabir radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ » [أخرجه أحمد]
"Sholat yang dikerjakan dimasjdiku ini lebih utama dari seribu sholat dibanding sholat yang dikerjakan dimasjid-masjid lain kecuali masjidil Haram, karena sholat disana itu lebih baik daripada sholat dimasjid lainnya sebanyak seratus ribu sholat ". HR Ahmad 23/46 no: 14694.

Para ulama mencoba mencari kejelasan maksud dalam hadits ini, yaitu tentang kelebihan sholat, apakah ini berlaku bagi seluruh kota Makah atau khusus bagi masjidil Haram saja? Yang kedua apakah dilipat gandakan pahalanya ini berlaku untuk seluruh amal sholeh atau hanya sholat saja? Adapun masalah yang pertama maka telah diterangkan dalam hadits yang terdahulu, dimana Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ » [أخرجه أحمد]
"Sholat yang dikerjakan dimasjidil Haram itu lebih utama daripada sholat yang dikerjakan dimasjid lain sebanyak seratus ribu kali sholat" . HR Ahmad.

Kedua, bahwa nash-nash yang ada dalam al-Qur'an maupun hadits yang menyebutkan tentang Masjidil Haram maka yang dimaksud didalamnya adalah kawasan yang masuk dalam batas haram kota Makah secara keseluruhan. Seperti misalnya firman Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ ذَٰلِكَ لِمَن لَّمۡ يَكُنۡ أَهۡلُهُۥ حَاضِرِي ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ ١٩٦  ﴾ [ البقرة: 196 ]
"Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah)".  (QS al-Baqarah: 196).

Demikian pula seperti yang disinggung dalam firman -Nya:

﴿ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ ١ ﴾ [ الإسراء: 1]
"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba -Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram". (QS al-Israa: 1).

 Dan beliau melakukan perjalanan isra itu dari rumahnya Ummu Hani radhiyallahu 'anha.
Diantara dalil sunah yang menjelaskan akan hal tersebut ialah, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah. Maka jika masuk sholat beliau masuk ke kawasan tanah Haram lalu beliau sholat disana. HR Ahmad 31/220 no: 1891.
Adapun masalah kedua. Ada beberapa atsar dari ulama salaf yang menjelaskan bahwa dilipat gandakannya pahala ini mencakup seluruh amal sholeh. Dan bagi siapa saja yang mau mencamkan makna firman Allah ta'ala akan mengetahui hal tersebut, yaitu:

﴿ وَمَن يُرِدۡ فِيهِ بِإِلۡحَادِۢ بِظُلۡمٖ نُّذِقۡهُ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ٢٥ [ الحج: 25 ]
"Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih".  (QS al-Hajj: 25).
Dirinya akan merasa yakin bahwa mengagungkan keharaman Haram itu menunjukan akan keutamaannya. Dan masalah ini sangatlah panjang untuk disebutkan semua, oleh karenanya saya cukupkan disini hanya sekedar memberi isyarat saja.

Keempat: Allah ta'ala mengabarkan pada kita bahwa Makah adalah Umul Quro sebagaimana disebutkan dalam salah satu firman -Nya:
﴿ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ٧ ﴾ [ الشورى: 7 ]
"Supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya".  (QS asy-Syuura: 7).
Al-Qura seluruhnya mengikuti Makah serta yang ada disekilingnya.

Kelima: Dijadikan sebagai kiblat bagi penduduk bumi, maka tidak ada dimuka bumi ini tempat yang menjadi arah untuk mengerjakan sholat selain ke masjidil Haram. Hal itu, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah ta'ala:

﴿ وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ ١٥٠﴾[ البقرة: 150]
"Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram". (QS al-Baqarah: 150).

Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, beliau menceritakan: "Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari Ka'bah lalu beliau melakukan sholat dua raka'at ke arah Ka'bah, kemudian seusai sholat beliau bersabda: "Inilah kiblat (kalian)". HR Bukhari no: 398. Muslim no: 331.

Keenam: Adanya jaminan keamanan bagi siapa saja yang masuk kedalamnya. Seperti ditegaskan dalam salah satu firman -Nya:

﴿ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ ٩٧ ﴾ [ ال عمران: 97 ]
"Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia". (QS al-Imran: 97).

Dan ayat ini bisa mempunyai maksud pemberitaan namun bermakna perintah, karena boleh dalam khabar yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beritakan untuk berganti makna. Atau bisa bermakna kabar tentang syari'at dan agama -Nya yang Allah Shubhanahu wa ta’alla syari'atkan didalam tanah Haram. Dan makna yang ketiga bisa bermakna kabar tentang perkara paten yang senantiasa terus berlaku di tanah Haram semenjak zaman Jahiliyah hingga zamannya Islam. Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu firman -Nya:

﴿ أَوَ لَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّا جَعَلۡنَا حَرَمًا ءَامِنٗا وَيُتَخَطَّفُ ٱلنَّاسُ مِنۡ حَوۡلِهِمۡۚ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ يَكۡفُرُونَ ٦٧﴾ [ العنكبوت: 67 ]
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?. (QS al-Ankabut: 67).

Demikian juga dalam firman -Nya:

﴿ وَقَالُوٓاْ إِن نَّتَّبِعِ ٱلۡهُدَىٰ مَعَكَ نُتَخَطَّفۡ مِنۡ أَرۡضِنَآۚ أَوَ لَمۡ نُمَكِّن لَّهُمۡ حَرَمًا ءَامِنٗا يُجۡبَىٰٓ إِلَيۡهِ ثَمَرَٰتُ كُلِّ شَيۡءٖ ٥٧ ﴾ [ القصص: 57 ]
"Dan mereka berkata: "Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami". dan apakah kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan)".  (QS al-Qashash: 57).[3]

Ketujuh: Diharamkan menghadap serta membelakangi kiblat manakala sedang membuang hajat, berbeda dengan tempat-tempat lain maka tidak ada keharaman akan hal tersebut.
Hal itu, berdasarkan sabdanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam shahih Bukhari dan Muslim dari haditsnya Abu Ayub al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا بِبَوْلٍ وَلاَ غَائِطٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا » [أخرجه البخاري و مسلم]
"Apabila kalian hendak buang hajat, maka janganlah menghadap ke arah kiblat jangan pula membelakanginya manakala buang air kecil maupun besar, namun menghadaplah ke arah timur atau ke barat". HR Bukhari no: 294. Muslim no: 264.

Kedelapan: Allah ta'ala memilihnya sebagai tempat untuk rangkaian manasik haji, serta menjadikan tujuan ke sana sebagai bentuk ibadah yang akan mengangkat derajat dan menghapus kesalahan.
Hal itu sebagaimana tercantum dalam haditsnya Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ » [أخرجه البخاري و مسلم]
"Barangsiapa yang berhaji karena Allah, dengan tidak melakukan rafats (berkata keji) tidak pula berbuat fasik, maka dia kembali seperti manakala dia baru dilahirkan". HR Bukhari no: 1521. Muslim no: 1350.

Kesembilan: Dijadikannya Makkah sebagai negeri mulia dan yang paling dicintai oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya.
Hal itu, seperti dijelaskan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dari Abdullah bin Adiy radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ » [أخرجه الترمذي]
"Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah negeri Allah yang paling baik, negeri Allah yang paling dicintai oleh Allah, kalaulah sekiranya aku tidak dipaksa keluar (oleh kaumku) dari sana tentulah aku tidak akan keluar". HR at-Tirmidzi no: 3925. Beliau berkata: Hadits hasan gharib shahih.

Dalam riwayat lain, dari haditsnya Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Makkah:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « ما أطيبك من بلد وأحبك إلي. ولولا أن قومي أخرجوني منك ما سكنت غيرك » [أخرجه البخاري و مسلم]
"Tidak ada negeri yang lebih baik dan paling aku cintai daripada kamu, kalaulah sekiranya kaumku tidak memaksaku untuk keluar dari sini tentu aku tidak akan tinggal ditempat lain". HR at-Tirmidzi no: 2926. Beliau berkata: Hadits ini hasan shahih.

Kesepuluh: Allah ta'ala menjadikan sebagai tempat permulaan perjalanan Nabi -Nya Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam pada malam isra' menuju langit. Sebagaimana Allah ta'ala ceritakan dalam firman -Nya:
   
﴿ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١ ﴾ [الإسراء: 1 ]
"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya -Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui".  (QS al-Israa': 1).

Sebelas: Sebagai tempat tujuan sebuah perjalanan safar, karena dilarang bagi seseorang melakukan perjalanan khsusus melainkan menuju tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.
Hal itu, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى » [أخرجه البخاري و مسلم]
"Janganlah kalian melakukan perjalanan (pada suatu tempat) melainkan menuju tiga masjid, Masjidil Haram, Masjidnya Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam, dan masjid Aqsha".  HR Bukhari no: 1189. Muslim no: 1397.

Dua belas: Allah azza wa jalla menyandarkan Baitul Haram yang ada di Makkah kepada Dirinya. Sebagaimana yang tercantum dalam salah satu firman -Nya:

﴿ وَطَهِّرۡ بَيۡتِيَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلۡقَآئِمِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ ٢٦ ﴾ [ الحج: 26 ]
"Dan sucikanlah rumah -Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku dan sujud". (QS al-Hajj: 26).

Maka diambil kesimpulan bahwa penyandaran secara khusus semacam ini mengandung makna sebagai bentuk pengagungan dan pemuliaan serta kecintaan padanya. Karena, kalau sekiranya tempat tersebut tidak mempunyai kemulian tentu tidak usah adanya penyandaran Dirinya kepada tempat tersebut secara khusus, maka penyandaran seperti ini sudah cukup sebagai bukti akan kemulian serta keagungan yang dimilikinya. [4]

Tiga belas: Allah azza wa jalla menyatukan hati pada baitul haram serta menjadikannya sebagai tempat berkumpul manusia.
Allah ta'ala telah nyatakan hal tersebut melalui firman -Nya:

﴿ وَإِذۡ جَعَلۡنَا ٱلۡبَيۡتَ مَثَابَةٗ لِّلنَّاسِ ١٢٥ ﴾ [ البقرة: 125 ]
"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia". (QS al-Baqarah: 125).

Yaitu dijadikan tempat berkumpulnya manusia dari segala penjuru dunia sepanjang tahun, bukan hanya sekedar menyelesaikan hajatnya saja, namun, tiap kali mereka sering berkunjung maka bertambah pula rasa kerinduan padanya.
Seorang penyair berkata:

Mata ini enggan untuk memejam tatkala melihatnya
           Sampai mengharap kedipan berikutnya karena begitu rindu

Berapa banyak harta dan jiwa yang dikeluarkan demi kecintaan padanya, dirinya rela untuk meninggalkan keluarga dan anak-anaknya. Bahkan orang-orang yang dikasihinya serta negeri tempat menambatkan cinta.
Berjalan menerjang segala macam rintangan dan tantangan, membuang kerinduan dan kangen bersama orang yang disayangi. Dia lakukan itu semua dengan penuh kenikmatan mengharap perjumpaan dengannya. [5]

Empat belas: Diantara perkara yang menunjukan akan keutamaannya ialah adanya ancaman bagi siapa saja yang punya keinginan buruk di Makah walaupun tidak dilakukannya. Berdasarkan Firman Allah tabaraka wa ta'ala:

﴿ وَمَن يُرِدۡ فِيهِ بِإِلۡحَادِۢ بِظُلۡمٖ نُّذِقۡهُ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ٢٥﴾ [ الحج: 25 ]
"Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara kezaliman, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih".  (QS al-Hajj: 25).

Syaikh Abdurahman as-Sa'di menjelaskan: "Hanya sekedar punya keinginan untuk berbuat dhalim atau suatu kejahatan maka itu sudah cukup baginya untuk mendapat siksa. Walaupun kita dapati adanya perbuatan yang seorang hamba tidak disiksa melainkan setelah melakukan kedaliman tersebut. Didalam ayat yang mulia ini menunjukan wajibnya menghormati al-Haram, sangat mengagungkan, serta peringatan bagi siapa saja yang punya keinginan berbuat maksiat serta ingin melakukannya disana". [6] Adalah Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma mempunyai dua kemah, salah satunya berada diluar batas tanah Haram dan yang satunya lagi berada dikawasan tanah Haram.
Beliau menjadikan kalau sekiranya ingin menghukum salah satu anggota keluarganya maka beliau memberi hukuman tersebut ditenda yang berada diluar batas tanah Haram. Dan jika beliau ingin sholat maka beliau sholat dikemah yang berada didalam kawasan Haram. Ini sebagai ancaman yang sangat bagi siapa saja yang melakukan perbuatan maksiat serta dosa besar di dalam kota Makkah, seperti halnya riba, zina, mengkonsumsi narkotika dengan segala macam dan jenisnya, menyiarkan acara-acara yang jelek, mendengarkan nyanyian. serta lain sebagainya dari perbuatan dan jenis maksiat serta kemungkaran.[7]
       Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya


[1] . Tafsir Ibnu Katsir 14/353.
[2] . Berkata Ibnu Qoyim menjelaskan: "Ada sedikit ketidak jelasan akan hadits ini bagi orang yang tidak mengerti maksudnya. Mereka mengatakan: 'Termasuk perkara yang telah diketahui bahwa yang membangun masjid Quds adalah Sulaiman bin Dawud, sedang jarak sejarah antara dirinya dengan Ibrahim itu kurang lebih ada seribu tahun, lantas bagaimana dikatakan jarak pembangunannya cuma empat puluh tahun?!".
        Ini adalah kejahilan orang yang mengucapkan, karena yang benar, bahwa Sulaiman hanya melakukan pemugaran masjid al-Qasha saja, dirinya tidak membangun untuk yang pertama kalinya. Karena yang  meletakan batu pembangunan untuk pertama kalinya adalah Ya'qub bin Ishaq setelah pengerjaan Ibrahim membangun Ka'bah dengan jarak yang disebutkan dalam hadits ini". Zaadul Ma'ad 1/50.

[3] . Zaadul Ma'ad 3/445.
[4] . Zaadul Ma'ad 1/53. Badai'ul Fawaid 2/6.
[5] . Zaadul Ma'ad 1/51-52.
[6] . Tafsir Syaikh as-Sa'di hal: 671.
[7] . Ahkam Haram al-Maki oleh Syaikh D. Sami ash-Shuqair hal: 21-24.
Poskan Komentar