Kamis, 22 Mei 2014

HAL RINGAN YANG BERAT TIMBANGANNYA

HAL RINGAN YANG BERAT TIMBANGANNYA


922/1216. Dari Abdullah bin Amru, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
خلتان لا يحصيهما رجل مسلم إلا دخل الجنة وهما يسير ومن يعمل بهما قليل قيل وما هما يا رسول الله قال يكبر أحدكم في دبر كل صلاة عشرا ويحمد عشرا ويسبح عشرا فذلك خمسون ومائة على اللسان وألف وخمسمائة في الميزان فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم يعدهن بيده وإذا أوى إلى فراشه سبحه وحمده وكبره فتلك مائة على اللسان وألف في الميزان فأيكم يعمل في اليوم والليلة ألفين وخمسمائة سيئة قيل يا رسول الله كيف لا يحصيهما قال يأتي أحدكم الشيطان في صلاته فيذكره حاجة كذا وكذا فلا يذكره

"Dua hal yang bila dihitung1 seorang muslim pasti masuk surga, dan keduanya itu hal yang ringan namun yang mengerjakannya sedikit." Ditanyakan, "Apa keduanya wahai Rasulullah?," Rasulullah menjawab, "Seseorang di antara kalian bertakbir sqruluh kali setiap selesai shalat, bertahmid sepuluh kali dan bertasbih sepuluh kali, itu adalah seratus lima puluh pada lidah, dan seribu lima ratus pada timbangan (Miizaan)."
Lalu Saya melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghitungnya dengan tangannya.2
"Bila beranjak ke tempat tidur, beliau bertasbih, bertahmid, dan bertakbir,3 sebanyak seratus kali pada lisan, dan seribu dalam timbangan. Siapakah di antara kalian yang mengerjakan dua ribu lima ratus kejelekan dalam sehari semalam? Ditanyakan, "Wahai Rasulullah! bagaimana ia tidak menghitung keduanya?" beliau bersabda, "Syetan datang kepada seseorang di antara kalian dalam shalatnya, lalu ia mengingatkan kebutuhan ini dan itu, maka dia tidak berzikir mengingatnya."4
Shahih, di dalam kitab Takhriijul Kalim (112), Takhrijul Misykah (2406). Shahih Abu Daud (1346). [Abu Daud, kitab Al Adab, Bab At-Tasbih 'indan-Naum, hadits (5060). Tirmidzi, 45- kitab Ad-Da'awah, 25-Bab Minhu, Haddatsana Ahmad bin Mani].

_______________________
1      Artinya: mengamalkan keduanya, maksudnya terus atau kontinyu setiap setelah shalat wajib.
2      Yaitu dengan tangan kanan, sebagaimana dalam riwayat Abu Daud (1502) dan orang-orang sekarang yang masih pemula dalam ilmu ini menyangka bahwa itu adalah tambahan yang dijejalkan dari Syaikh Abu Daud: Muhammad bin Qudamah -itu karena kebodohanya-. Juga itu adalah tambahan yang menafsirkan riwayat "Biyadihi" (dengan tangannya), yang sesuai dengan keagungan dzikir kepada Allah dan Tasbih, seperti yang ditunjukkan oleh perkataan Aisyah Radliyallahu Anha : "Adalah tangan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam yang kanan untuk (hal-hal berkaitan) bersuci dan makannya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sedangkan tangan kirinya untuk hajat dan yang kotor." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih (Shahih Abu Dawud : 26). Dan seorang yang cerdik tidak ragu-ragu bahwa tangan kanan lebih berhak untuk bertasbih daripada makanan, tapi tidak boleh disamakan dengan " Apa-apa yang kotor" ! Ini sudah terang dan jelas Insya Allah, intinya barang siapa yang bertasbih dengan tangan kirinya sungguh ia telah durhaka, dan barang siapa yang bertasbih dengan dua tangan bersama-sama sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang, sungguh mereka (telah mencampur aduk amal shalih dengan yang jelek, semoga saja Allah memberi taubat kepada mereka) dan barang siapa yang mengkhususkan dengan tangan kanan, sungguh ia telah mendapat petunjuk dan beramal dengan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
3      Yaitu semuanya berjumlah 33 kali kecuali takbir dengan 34 kali seperti dalam riwayat Abu Dawud dan lainnya. Itulah seratus yang ada pada lisan.
4      Yaitu syetan membuatnya lalai dari dzikir setelah shalat. Adapun dalam hal ketika seseorang hendak tidur, maka syetan mendatanginya dan menidurkannya, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Hibban.

Poskan Komentar