Minggu, 25 Mei 2014

Malu antara Iman dan Kesombongan

images/index_r1_c1.gif
 
 
Malu antara Iman dan Kesombongan
 
Sahabatku, "Rasa malu adalah sebagian dari iman". Kalimat ini adalah sebagian dari sabda Nabi SAW. Namun terkadang kita mungkin sering salah dalam mengartikan dan menempatkan perasaan malu kepada keadaan yang sebenarnya. Sebagai contoh kita  merasa malu saat harus mengenakan pakaian yang tidak bermerek, kendaraan tempo dulu, Handphone jadul, dan seabreg perangkat lainnya atau yang ketinggalan zaman. Tetapi pernahkah kita bertanya kepada hati kecil kita, apakah ini rasa malu yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ?

Padahal sesungguhnya rasa malu yang kita rasakansaat ini bukanlah malu yang diinginkan Rasulullah, tetapi rasa malu yang kita rasakan adalah suatu kesombongan dan ketakaburan. Kita selalu ingin dan harus dianggap berkelas dan tampil lux, selalu berkeinginan dianggap sebagai orang yang lebih dan memiliki keistimewaan diatas orang lain. Hal ini adalah kesombongan dan bukan malu yang diinginkan oleh Rasulullah SAW.

Sahabatku, malu yang disabdakan Rasulullah SAW adalah “Istahyu minallahi haqqol hayaa, yang mengandung makna "Malulah engkau kepada Allah, dengan malu yang sesungguhnya". Kemudian para sahabat mengatakan, "Kami semua juga malu, Ya Rasulullah". Sepertinya apa yang di fahami sahabat Rasulullah SAW sama  seperti yang pernah kita fahami, yaitu malu karena makan sederhana, malu punya pekerjaan sederhana.

Dikatakan oleh Rasulullah, Laisa dzaalikum, " Bukan itu yang namanya malu ". Kemudian Rasululullah menjelaskan, "Sesungguhnya rasa malu itu ( yang merupakan sebagian dari iman ) adalah; Pertama, yaitu jika engkau menjaga kepalamu dan apa yang  dikandungnya". Artinya menjaga mata, menjaga lidah, dan telinga. Kemudian yang kedua, "Jika engkau menjaga perutmu dan apa yang disekitarnya". Artinya menjaga apa yang akan masuk ke dalam perut kita dan menjaga apa yang disekitar perut, yaitu kemaluan kita dari melakukan sesuatu yang keji.

Dari sini kita bisa pahami bahwa malu yang dimaksudkan Rasulullah SAW itu bukan malu dipandang orang, tetapi malu dipandang oleh Allah Swt. Apakah yang kita lakukan saat ini, Allah Ridho atau tidak ? Apakah Allah Cinta atau tidak ? Itulah malu yang sesungguhnya.

Dan saat inilah waktunya kita untuk koreksi diri ! Malu yang didalam diri kita itu malu yang seperti apa ? Jangan-jangan malu kita adalah kesombongan yang justru akan menjerumuskan kita kedalam kehinaan.

Sahabatku, oleh karena itu mari kita pupuk dan tumbuh suburkan malu kita kepada Allah. Jikalau memang kita harus malu kepada sesama manusia, hal itupun boleh maka sebatas itu tidak menjadikan Allah SWT murka. Hilangkan gengsi, hilangkan pamer, hilangkan hidup 'wah' karena itu semua adalah kesombongan yang menghantar kepada kerakusan, dan kerakusan akan menghadirkan kejahatan.

Maka, hiduplah secara sederhana, karena orang yang senantiasa berpegang kepada kesederhanaan, ia akan dapat menerima apa adanya dan mudah untuk mensyukuri nikmat Allah SWT.

Sahabatku. Mencari Pekerjaan itu yang penting halal, bukan yang penting banyak. Memakai Baju itu yang penting menutup aurat, bukan yang penting Glamour . Rumah itu yang penting bisa menjaga keluarga, bukan yang penting Megah. Ini adalah kunci keselamatan. Sebaliknya, orang yang hanya mementingkan kemewahan cenderung memaksakan diri, meskipun pendapatannya terbatas ia harus membeli baju yang mahal, rumah yang megah, dan kendaraan yang mewah, maka secara otomatis ia akan mudah terjerumus untuk mengambil tindakan  yang tidak diridhoi oleh Allah SWT . Itulah hilangnya rasa malu. Sungguh malu adalah benteng keselamatan kita.
Wallahu a'lam bissawab.


 
 
images/index_r1_c1.gif
Poskan Komentar