Senin, 09 Juni 2014

Memelihara Kelangsungan Amalan-amalan

   
 

Memelihara Kelangsungan Amalan-amalan

Allah Ta'ala berfirman:
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, supaya hati mereka itu khusyu' untuk mengingat-ingat kepada Allah dan kebenaran yang turun kepada mereka itu - yakni al-Quran. Janganlah mereka itu berkeadaan yang serupa dengan orang-orang yang telah diberi kitab-kitab pada masa dahulu - sebelum mereka, tetapi mereka telah melalui masa yang panjang, kemudian menjadi keras lah hati mereka tersebut - yakni enggan menerima kebenaran." (al-Hadid: 16)
Allah Ta'ala berfirman lagi:
"Kemudian Kami -  Allah - iringkan di belakang mereka dengan beberapa Rasul Kami dan Kami iringkan pula dengan Isa anak Maryam, serta Kami berikan Injil kepadanya.  Kami memberikan perasaan kasih sayang dalam hati para pengikutnya. Keruhbaniahan itu mereka ada-adakan saja. Kami tidak mewajibkan demikian itu atas mereka. Yang Kami perintahkan - tidak lain kecuali mencari keredhaan Allah, tetapi mereka tidak memelihara itu sebagaimana mestinya yang ditentukan." (al-Hadid: 27)
Keterangan:
Keruhbaniahan, ertinya hidup dalam kelompok bagi para penganut atau pendeta-pendeta agama Nasrani. Ini bukan berasal dari ajaran Nabiullah Isa a.s. dan itu hanyalah buatan kepala-kepala agama yang datang sepeninggalan beliau. Islam juga tidak membenarkan adanya ruhbaniah.
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Janganlah engkau semua itu seperti perempuan yang menghuraikan benangnya menjadi lepas kembali setelah dipintal kuat-kuat." (an-Nahl: 92)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datanglah keyakinan - dan maksudnya kematian - kepadamu." (al-Hijr: 99)
Adapun Hadis-hadis yang menerangkan bab di atas itu, di antaranya ialah Hadisnya Aisyah: "Mengerjakan agama yang tercinta di sisi Allah ialah yang dikekalkan oleh orangnya - yakni tidak bosan-bosan melakukannya sekalipun sederhana." Hadis ini telah disebutkan dalam huraian sebelum ini - Lihat Hadis nombor 142.
Selain Hadis di atas ialah:

153. Dari  Umar al-Khaththab r.a., katanya:  Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang tertidur sehingga kelupaan membacakan hizibnya di waktu malam atau sebahagian dari hizibnya itu, kemudian ia membacanya antara waktu shalat fajar dengan zuhur, maka dicatatlah untuknya seolah-olah ia membacanya itu di waktu malam harinya." (Riwayat Muslim)

154. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w. pernah bersabda kepadaku:
"Hai Abdullah, janganlah engkau seperti si Fulan itu. Dulu ia suka bangun bersembahyang malam, kemudian ia meninggalkan bangun malam itu."                                                  (Muttafaq 'alaih)

155. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. itu apabila terlepas dari shalat malam, baik kerana sakit ataupun lain-lainnya, maka beliau bersembahyang di waktu siangnya sebanyak dua belas rakaat." (Riwayat Muslim)



 
 
     
Poskan Komentar