Minggu, 01 Juni 2014

Shifat Ma'ani

قُدْرَة Qudrah (Mahakuasa) Mustahil Allah lemah.
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah (2): 20]
Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan. [QS. Ya Sin (36): 83]
Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” [Q.S. Ali 'Imran: 49]
Pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan dengan nama Bapa, itulah yang memberikan kesaksian tentang aku (bahwa aku adalah seorang rasul). [Yohanes 10:25]
Dan Ia (ALLAH) telah memberikan kuasa kepadanya (kepada Yesus) [Yoh. 5:27]
Yesus berkata: Anak tidak mengerjakan sesuatu dari dirinya sendiri. Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki Bapa. [Yoh. 5: 19, 21]
Yesus berkata: Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri. [Yoh. 5: 30]
Yesus berkata: “Kepadaku telah diberikan segala kuasa…” [Mat. 28:18]
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi." Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Dan Yesus pun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu." [Matius 21: 23-27]
Dalam Al-Qur`an dan Alkitab dijelaskan bahwa kuasa Yesus adalah berasal dari ALLAH, bukan dari dirinya sendiri.
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwa makhluq diciptakan oleh Allah. Begitu pula perbuatannya serta sifatnya. Allah Berkuasa atas makhluq. Sifat dan perbuatan dari suatu makhluq adalah makhluq. Sedangkan makhluq tidak berkuasa. Makhluq tidak bisa bergerak untuk beribadah atau pun menghindari ma’siat. Sifatnya lemah, lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa, maka makhluq tidak kuasa berbuat apa-apa. Yang Berbuat hanyalah Allah. Allah Yang Membolak-Balikkan hati. Tetapi ingat, Allah Maha Tahu, Maha Adil, Maha Bjaksana dan Mengetahui Hikmah (Al Hakam). Sedangkan manusia sangat bodoh dan zhalim. Apa yang diketahui manusia sangat sedikit jika dibandingkan dengan apa yang tidak diketahui oleh manusia. Maka tidak pantas manusia menyombongkan dirinya yang lemah. Sungguh tiada daya untuk menghindari kejahatan dan tiada kekuatan untuk berbuat kebajikan kecuali dengan Kasih-Sayang dan Kuasa Allah.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk tawadhu`, tidak takabbur, dan banyak takut kepada Allah Ta’ala.

إِرَادَة Iradah (Mahaberkehendak). Mustahil Allah tidak memiliki kehendak.
فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
Allah berbuat seperti apa yang Dia Kehendaki. [Al Buruj (85) : 16]
Yesus berkata: “Aku tidak menuruti kehendakku sendiri, akan tetapi aku menuruti kehendak Dia yang mengutus aku.” [Yohanes 5:30]
Aku datang bukan atas kehendakku sendiri, akan tetapi atas kehendak Dia yang mengutus aku. [Yoh. 8:42]
Maka jelaslah bahwa Yesus dikuasai oleh kehendak dan kuasa ALLAH. Yesus tidak berkuasa atas dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Tuhan dikuasai? Maka Yesus bukanlah Allah, dia bukanlah Tuhan. Yesus hanyalah utusan Tuhan.
Tuhan itu Mahaberkehendak dan berbuat seperti apa yang dia kehendaki, bukan seperti yang dikehendaki oleh pihak lain. Apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi. Apa yang tidak dikehendaki oleh Allah pasti tidak terjadi (tidak ada). Jika Ia Menghendaki sesuatu, maka ia cukup berfirman, “Kun (Jadi)”, maka terjadilah (lihat Yaa Siin ayat 82). Dan Allah adalah Yang Baik. Yang dikehendaki oleh Allah adalah kebaikan. Tetapi kebodohan manusia tidak dapat menembus Hikmah Al Hakam.
Setiap peristiwa itu berhubungan dengan waktu. Jika Allah Berkalam, “Kun” pada setiap peristiwa dan waktu berarti Allah terperangkap pada waktu? Tidak, tidak demikian. Allah Berkalam, “Kun” dan semua peristiwa dari awal hingga akhir di alam semesta tercipta. Tetapi manusia merasakan tiap frame dari kehidupan secara bergantian sehingga mereka merasa bahwa waktu itu ada. Padahal waktu, sebagaimana materi, hanyalah imajinasi.
Anda mungkin pernah bermimpi yang mana dalam mimpi tersebut Anda merasa menjalaninya dengan sangat lama. Tetapi sewaktu Anda terbangun, ternyata Anda hanya tertidur selama beberapa puluh menit. Apa yang Anda rasakan sebagai waktu ternyata hanyalah imajinasi.
Dalam surat Al-Hajj ayat 14, Allah menjelaskan bahwa yang memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal shalih adalah Allah. Begitulah Allah berbuat apa-apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. [QS. Al-Hajj (22): 14]
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala atas tiap ni’mat dan bershabar atas tiap mushibah.

عِلْمٌIlmun (Tahu) Mustahil Allah jahil (bodoh).
وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم
Dan Allah dengan tiap sesuatu adalah Maha Mengetahui. [Al Hujurat (49) : 16]
Lihat pula 2:29,231,282; 6:115; 9:115; 57:3.
(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang saat itu (hari akhir), kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (kepada saat itu, hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. [QS. An-Nazi'at (79): 42-46]
Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan anak pun tidak, hanya Bapa sendiri. [Matius 24:36]
Allah Mengetahui segala sesuatu, walupun sesuatu itu -menurut kita- belum terjadi. Allah Mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang tersingkap.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk takut berbuat ma’siat kepada Allah , sebab Allah Ta’ala Maha Mengetahui atas tiap perbuatan kita.

حَيَاةٌ Hayah (Hidup) Mustahil Allah mati.
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوتُ
Dan serahkan dirimu (tawakkal) kepada Yang Hidup Dzat Yang tidak mati. [Al Furqan (25) : 58]
Lihat juga 2:255;3:2
Tuhan itu Hidup. Hidup Tuhan tidak berasal dari siapa pun, melainkan Tuhan Hidup dengan Sendiri-Nya. Dan mustahil Tuhan itu mati. Sedangkan kehidupan makhluq berasal dari Allah.
Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam Diri-Nya, demikian juga diberikan-Nya anak mempunyai hidup dalam dirinya. [Yoh. 5:26]
Allah tidak mungkin mati. Tetapi kita pasti mati. Tiada Yang Kuasa selain Allah. Dan sesungguhnya termasuk ujian yang sangat berat adalah maut. Kita  tidak ada, lalu diadakan, maka kepada Allah tempat kita kembali.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk bertawakkal (berserah diri) kepada Allah Ta’ala.

سَمْعٌ Sama’ (Mendengar). Mustahil Allah tuli.
وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan Allah Ta’ala Mahamendengar lagi Mahamengetahui. [Al Baqarah (2) : 256]
Allah Mahamendengar. Dia mendengar dan mengabulkan doa yang ditujukan kepadaNya. Adapun mengenai pengabulan doa, adakalanya Allah kabulkan seperti apa yang kita kehendaki, adakalanya Allah kabulkan seperti apa yang Allah kehendaki, dan itu baik bagi si pendoa, dan adakalanya Allah tangguhkan doanya itu dan diganti dengan yang lebih baik di akhirat kelak. Jadi doa itu bukanlah untuk meminta apa yang kita kehendaki. Tetapi untuk menyampaikan keinginan kita. Dan Allah menyukai hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Dengan kesukaan-Nya itu, maka Allah berikan yang terbaik bagi si hamba. Jika apa yang dikehendaki si hamba itu memang baik, maka Allah kabulkanlah seperti yang dikehendaki. Jika yang dikehendaki si hamba itu berakibat buruk, atau kurang baik, maka Allah berikan yang lebih baik dari apa yang dikehendaki si hamba. Dan jika dikabulkan di dunia ini seperti yang diinginkan si hamba itu buruk, maka Allah menangguhkannya dan menggantinya dengan yang lebih baik, yaitu dengan ampunan dan kasih-sayang-Nya di akhirat kelak. Tetapi ada kalanya, seseorang itu berdoa, dan itu dapat berakibat buruk baginya, lalu Allah mengabulkannya sehingga ia semakin jauh dari Allah. Maka yang demikian itu adalah istidraj. Allah membiarkan dia terlena dalam keni’matan, sehingga di hari kiamat, Allah dapat menyiksanya dengan siksa yang pedih diakibatkan kekufurannya.
Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui [QS. Al-Baqarah (2): 256]
Yesus berdoa: “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Mat. 26:39]
Bahkan Yesus berdoa semalaman dengan penuh kesungguhan agar diselamatkan dari penyaliban. Dan dia menyerahkan kepada Allah, apa yang terbaik baginya. Sebab Allah Mahamengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya yang Dia sayangi. Dari sini, apakah Anda mau berkata bahwa Yesus bersedia disalib? Tidak, Yesus tidak bersedia disalib. Tidak ada yang namanya ‘penyelamatan melalui penyaliban Yesus’. Yesus diutus bukan untuk disalib, tetapi untuk menyelamatkan Israel dari kebinasaan dengan mengajarkan aqidah dan cara hidup (syariat) yang diridhoi Tuhan. Penyaliban Yesus bukanlah perintah Tuhan. Jika itu perintah Tuhan, mengapa Yesus enggan disalib. Sedangkan Abraham dan anaknya pun bersedia menjalankan perintah Tuhan. Penyaliban Yesus itu adalah buah kedengkian imam-imam Yahudi. Supaya tidak dipersalahkan, mereka buatlah doktrin yang aneh ini melalui mulut Paulus yang penuh dengan dusta.
Allah Mahamendengar segala perkataan kita. Bahkan apa yang kita ucapkan dalam hati. Allah Mahamendengar atas segala ucapan yang baik dan yang buruk.
Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk tidak berkata yang haram, sebab Allah  Mahamendengar atas segala perkataan.

بَصَرٌ Bashar (Melihat). Mustahil Allah buta.
وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. [Al Hujurat (49) : 18]
Maka patut bagi mu`min mu’taqad bahwa ia tiada membuat ma’siat, sebab Allah Ta’ala Maha Melihat segala perbuatan.

كَلامٌ Kalam (Berkata/Berfirman). Mustahil Allah bersifat kelu (bisu).
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
Dan berkata Allah Ta’ala kepada Musa dengan sempurna/sebenar-benarnya Berkata. [An Nisa` (4) : 164]
Segala sesuatu dijadikan oleh Allah dengan kalam-Nya, “Kun” (jadilah), maka jadilah segala sesuatu. Dengan Asma-Nya segala sesuatu itu terjadi, dengan Asma-Nya segala sesuatu bermula, dan kepada-Nya segala sesuatu kembali.
Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. [QS. Al-Mu`min (40): 68]
Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. [QS. Ya Sin (36): 82]
Oleh Firman Tuhan langit dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentara-Nya. [Mazmur 33:6]
Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada. [Mazmur 33:9]
Berfirmanlah Allah: “Jadilah…” [Kej. 1:3,6,9,11,14,20,24,26]

Maka patut bagi mu`min mu’taqad untuk banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala dengan pengharapan Asma Allah 
Poskan Komentar