Kamis, 04 Desember 2014

Beberapa Sebab Keselamatan Umat Islam



Beberapa Sebab Keselamatan Umat Islam
Segala puji hannya bagi Allah Yang Maha Esa, yang telah menolong hamba -Nya, memuliakan tentara -Nya dan hanya Dia yang menghancurkan seluruh kelompok musuh….. Aku hanya memuji dan bersyukur kepada Allah semata, dan aku memohon taubat dan ampunan kepada -Nya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, dan aku bersaksi bahwa penghulu dan nabi kita Muhamamd adalah hamba dan Rasul -Nya, Dia mengutusnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, beliau telah bersabar dan teguh dalam berjuang, berjihad dan berhijrah sehingga mercusuar agama ini tegak dan kekar dan sungguh terjadi apa yang semestinya diberlakukan kepada orang-orang yang kafir….shalawat dan keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, kepada kaluarga dan para shahabatnya yang terbaik dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti beliau dengan kebaikan….
                Wahai sekalian hamba Allah yang Maha Penyayang….
                Aku berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri untuk selalu bertaqwa, muraqabah dan takut kepada Allah baik dalam kondisi tersembunyi atau kondisi terlihat.
                Wahai sekalian orang-orang yang beriman….sesungguhnya umat ini telah diangkat, dimuliakan oleh Allah dengan diturunkannya agama ini bagi mereka melalui pemimpin manusia Muhammad bin Abdullah semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan  bagi beliau sampai hari kiamat kelak…
                Maka apabila umat ini menyia-nyiakan dan mengentengkan agama ini maka dia akan terhina dalam pandangan Allah, rahasia kemuliaan dan keagungan dan kebangiktannya akan sirna. Realita inilah yang kita lihat sekarang ini diberbagai belahan dunia Islam. Disebuah negeri kita melihat para penguasa diktator mengobrak-abrik kehidupan kaum muslimin dengan membunuh, mengusir dan memarjianlkan kehidupan mereka. Di negeri yang lain, kaum muslimin tercabik-cabik dengan berbagai perang saudara yang sangat menakutkan, kita melihat seorang muslim membunuh saudaranya seiman, darah mengalir hanya untuk kesenangan dunia dan jabatan…dan di seberang sana kehidupan kaum muslimin digoncang oleh badai kelaparan, penyakit, banjir dan gempa bumi juga bencana alam lainnya….
“..dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan dia sendiri”. QS. Al-Mudatsir: 31.
Kalau kehinaan ini sabagai siksa dari Allah, maka apakah faktor-faktor yang bisa menghilangkan dan menghapuskan kesengsaraan tersebut?..
Dia antara faktor yang bisa menghilangkan kehinaan dan menjaga bangsa dan sebuah Negara adalah:

Pertama: Merealisasikan Tauhid
Yaitu mengesakan Allah dalam ubudiyan dan rububuiyah Allah, mengesakan Allah dengan sifat-sifat yang sempurna baik dalam zat dan nama-nama, mengesakan Allah dalam segala sifat dan perbuatan -Nya sebgaimana dijelaskan di dalam kitab sunnah, maka tiada seorangpun yang ditakuti, diharapkan dan disembah selain Allah Yang Maha Esa.
                Dan hendaklah seorang hamba mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak akan terjadi di dalam kekuasaan Allah kecuali apa-apa yang dikehendaki oleh Allah, apa yang dikhendaki oleh Allah maka dia mesti terjadi dan apa-apa yang tidak dikehendakinya maka dia tidak akan pernah terjadi, Dialah Allah yang memperkenankan permohonan orang-orang yang dalam kondisi gawat apabila orang tersebut berdo’a memohon kepada -Nya, Dialah yang menghpuskan keburukan, membela orang-orang yang beriman, menyayangi para hamba yang penyayang terhadap orang lain, menolong kekasih -Nya di dunia dan hari kiamat kelak.
Di antara buah positif mewujudakan tauhid adalah: Terbentuknya jiwa yang selalu bertawakkal kepada –Nya dengan tawakkal yang sebenarnya:
"Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal". (QS. Ali Imron: 122).
"dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman". ( QS. Al-Maidah: 23.)
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya  maka Sungguh Dia akan memberikan kepada kalian rizki sebagaimana dia telah memberikan rizki kepada burung, yang berangkat pada waktu pagi dalam keadaan perut kosong lalu kembali dengan perut kenyang.



Kedua: Iman kepada Allah.
Maksudnya adalah membenarkan segala janji-janji Allah dan ancamanNya yang ada di dalam gaib.

قال الله تعالى: ﴿ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴾ [البقرة: 3] 
"(yaitu) mereka yang beriman[13] kepada yang ghaib[14], yang mendirikan shalat[15], dan menafkahkan sebahagian rezki[16] yang kami anugerahkan kepada mereka". (QS. Al-Baqarah: 3)
Allah  Subahanahu Wa Ta’ala telah memberikan janji -Nya kepada orang-orang yang beriman bahwa Dia akan menyelamatkan mereka dari siksa -Nya yang melanda sebuah masyarakat, Allah Ta’ala telah menyelamatkan kaum Nabi Yunus dari siksa. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ﴾ [ىونس: 98] 

"Dan Mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu". (QS. Yunus: 98)
Selain itu Allah Ta’ala juga memberikan jaminan bagi orang yang beriman bahwa Dia akan membela mereka dalam menghadapi para musuh. Allah Ta’ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang Telah beriman". (QS. Al-Hajj: 38).
Oleh karenanya setiap orang yang beriman diharuskan untuk merealsasikan keimanannya, menjauhi segala perkara yang bisa mengurangi dan merusak kesempurnaan keimanan sehingga dengannya Allah mewujudkan janji -Nya untuk menjaga dan menolong orang-orang yang beriman.
Wahai orang-orang yang beriman diantara faktor yang menyebabkan sebuah bencana, nasib buruk dan petaka bisa dihilangkan adalah dengan:

Ketiga: Do’a.
Dialah ibadah dan itulah inti ibadah itu sendiri
قال الله تعالى: ﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴾ [ غفور : 60] 

"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Gafir: 60).
Dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Do’a adalah inti ibadah.
Do’a adalah ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla, sebab pada saat seorang hamba  menengadahkan tangannya kepada Tuhannya dia meyakini bahwa tiada siapapun yang mampu menghilangkan apa yang dirasakannya baik kesusahan dan penyakit kecuali Allah Azza Wa Jalla dan tiada seorangpun yang mampu merubah nasibanya baik senang atau susah kecuali Allah.
Do’a adalah ibadah dan keikhlasan, pujian, kesyukuran dan permohonan bantuan dan seandainya tanpa do’a maka suatu kaum pasti lenyap binasa namun Allah menyelamatkan mereka karena adanya do’a:
"Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): "Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya)", (QS. Al-Furqan: 77).
Cukuplah kita mengukur urgensi bagi do’a ini di   saat Allah berkehendak menghancurkan Kaum Yunus mereka segera berhamburan kepada Allah dengan do’a-do’a mereka sehingga Allah menghindarkan mereka dari siksa setelah tanda-tanda datang dan ciri-ciri datang nya siksa telah nampak. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada yang mampu menolak keputusan Allah kecuali do’a.
                Di antara perkara yang bisa menghilangkan bencana dan melenyapkan krisis adalah istigfar.

Keempat: Istighfar.
Istighfar ini adalah faktor yang sangat penting dalam meraih kebaikan dan menghilangkan keburukan di dunia dan akherat. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ وَأَنِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُمَتِّعۡكُم مَّتَٰعًا حَسَنًا إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى [هود: 3] 

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada -Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan”. (QS. Hud: 03).
Isitighfar adalah salah satu faktor yang bisa menyebabkan turunnya pertolongan dan karunia  baik harta, anak dan buah-buahan serta turunnya keberkahan dari langit dan bumi. Di antara manfaat istigfar adalah turunnya ampunan Allah dan turunnya hujan, bertambahnya harta dan anak, keberkahan dalam buah dan makanan. Selain dia sebagai faktor yang bisa membawa keberkahan di dunia istigfar juga sebagai bekal di akherat pada saat suasana yang genting mengauasai manusia. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sangat beruntunglah orang yang melihat catatan amalnya dipenuhi oleh istigfar yang banyak”.
                Isitghfar memberikan kekuatan bagi seorang hamba pada jasadnya dan dengannya dia bisa menikmati kesempuirnaan tubuhnya dan akalnya, selain itu istigfar memberikannya tenaga untuk selalu taat kepada Tuhannya, dia adalah tenaga dalam segala keadaan baik pada masa sekarang atau yang akan datang.
Sementara itu, meninggalkan istigfar adalah sebab utama terjadinya siksa dari Allah yang menimpa negeri dan manusia:

قال الله تعالى: ﴿ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ﴾ [الا نفا ل: 33] 

"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun". (QS. Al-Anfal: 33).
Istighfar akan membawa keamanan bagi penduduk di dunia sehingga mereka terbebas dari azab duniawi, sebab Allah Ta’ala telah memberikan bagi umat ini dua jaminan keamanan, yaitu: Jaminan keamanan yang telah berlalu dengan adanya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam di tengah-tengah manusia dan jaminan kemanan yang kedua tetap kekal selamanya yaitu istighfar. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ لَوۡلَا تَسۡتَغۡفِرُونَ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴾ [النمل : 46] 

“….hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat". QS. Al-Naml: 46.
 Maka istighfar adalah salah satu faktor yang menyebabkan turunnya rahmat, dan orang yang dirahmati oleh Allah tidak akan pernah binasa.

Khutbah Kedua

Segala puji hanya milik Allah yang Maha Esa dalam kebesaran dan kemuliaan, yang memiliki sifat-sifat yang sempurna, yang suci dari segala kemiripan dan kesamaan dengan yang lain. Aku memuji Allah Yang Maha Suci dan bersyukur kepada -Nya dengan rasa syukur yang menambah segala kenikmatan dan menjaganya dari kelenyapan. Aku bersaksi bahawa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada beliau, kepada keluarga dan shahabatnya sampai hari kiamat….
Amma Ba’du…..
Sesungguhnya kalam yang paling benar adalah kitab Allah, petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dan perkara yang paling buruk adalah perakra-perkara yang bid’ah dan setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan di api neraka.
Wahai sekalian hamba Allah yang Maha Rahman…
Kita masih membicarakan tentang faktor-faktor yang membuat umat ini menjadi bangkit dan selamat, bahagia dan mulia. Di antara sebab tersebut adalah:
Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Amar ma’ruf nahi mungkar adalah penyangga tegakknya suatu masyarakat, dia sebagai unsur penting kebaikan, solidaritas dan kekokohan yang di landasi saling mencintai antar sesama di dalam sebuah masyarakat. Di mana saling menasehati dan membantu serta perbaikan terhadap kesalahan sosial tanpak di dalam masyarakat tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang melihat suatu kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengan lisannya dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengan hatinya dan itulah cermin selemah-lemah keimanan”.
                Maka pada saat tiang ini dijaga di saat itulah masyarakat terjaga dari segala kehancuran dan kebinasaan serta dia akan tetap dijaga dan di lindungi oleh Allah. Cukuplah firman Allah menjelaskan tentang keadaan ini:

قال الله تعالى: ﴿ وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهۡلِكَ ٱلۡقُرَىٰ بِظُلۡمٖ وَأَهۡلُهَا مُصۡلِحُونَ      [ الهو د: 117 ] 
"Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan". (QS. Hud : 117).
Maksudnya adalah berbuat kebaikan dengan berda’wah kepada Allah dengan cara menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak cukup bagi seorang muslim untuk hanya menikmati kesalehan pribadinya untuk dirinya sendiri namun dia harus menularkan kesalehan tersebut kepada orang lain dan saudaranya dari kalangan kaum muslimin. Dan dampak perbaikan dan da’wah yang dilakukannya akan mengabadi berabad-abad, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh generasi salaf dan orang-orang terbaik dari umat ini dan orang-orang setelah mereka seperti Imam Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Hambal dan Muhamad bin Abdul Wahhab.
                Setelah itu, seseorang juga dituntut untuk menjauhi kezaliman. Kezaliman adalah bertindak aniaya terhadap orang lain baik pada darah, harta dan kehoramatan mereka tanpa didasarkan kebenaran. Kezaliman adalah faktor yang paling besar yang bisa memancing datangnya siksa dan berkuasannya orang-orang yang zalim terhadap sebagian yang lainnya:
"Dan Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain". (QS. Al-An’am: 129).
قال الله تعالى: ﴿ وَتِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰٓ أَهۡلَكۡنَٰهُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ وَجَعَلۡنَا لِمَهۡلِكِهِم مَّوۡعِدٗا ﴾ [الكهف : 59] 

"Dan (penduduk) negeri Telah kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Telah kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka". (QS. Al-Kahfi: 59).
Maka janganlah seseorang begitu berani berbuat kezaliman dan janganlah orang yang zalim tergiur dengan kehendak Allah yang menangguhkan akibat perbuatan zalim. Di dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahun alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah akan menangguhkan siksa bagi orang yang zalim sehingga apabila saat siksanya telah tiba maka dia tidak akan bisah berkilah, kemudian beliau membca firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ ﴾ [الهود: 102] 
"Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras". (QS. Hud: 102).
Kezaliman banyak sekali terjadi di tengah-tengah masyarakat pada zaman sekarang ini. Menggunjing orang lain, mengadu domba, hasad, dengki, berkata bohong, menipu dan berkhianat, berbohong dan melontarkan dakwaan yang bathil, memakan harta manusia secara bathil, mencuri, merampok, menyuap, bertransaksi secara riba adalah termasuk kezaliman yang akibatnya akan menciptakan kegelapan pada hari kiamat kelak. Oleh karena itulah Allah menjadikan akibat positif dan terpuji bagi mereka yang tidak menghendaki kerusakan dan kesombongan di muka bumi ini adalah kemuliaan di dunia dan kekal di dalam surga di akherat kelak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih berhak untuk disegerakan akibatnya di dunia selain berbuat aniaya dan memutuskan tali silaturrahmi”.
                Do’a orang-orang yang dizalimi sangat mustajab diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bahwa dia bersabda: Do’a orang yang dizalimi diangkat oleh Allah menuju awan dan Dia berfirman: Demi Kemuliaan dan Ketinggian -Ku sungguh Aku akan menolongmu walau setelah beberapa saat”.
                Setelah itu, di antara faktor yang membawa keselamatan bagi umat Islam adalah shadaqah. Shadaqah adalah bentuk solidaritas seorang muslilm yang telah diberikan karunia oleh Allah kepada saudaranya yang beriman yang  membutuhkan, di mana orang yang fakir merasa bahwa dirinya dicintai oleh saudaranya.
                Dampak positif dari shadaqah di dunia atau akherat adalah:
-Padamnya murka Allah, Zat yang selalu kita minta agar Dia  melindungi kita dan kita mohon kepada -Nya agar Dia mengangkat siksa yang mungkin menimpa kita akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh tangan-tangan makhluk.
Menghindarkan seseorang dari kematian yang buruk seperti yang disabadakan oleh nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam: "Sesungguhnya shadaqah itu akan memadamkan amarah Allah dan menolak kematian yang buruk”. Selain itu, dia juga menghapuskan dosa dan kesalahan seperti yang disebutkan di dalam hadits Mu’adz.
Shadaqah juga memadamkan api dosa dan kesahalan sebagaimana air memadamkan api.
Menunaikan shadaqah akan mendatangkan rizki, kemanangan dan ketenangan jiwa sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits: "Perbanyaklah mengeluarkan shadaqah baik dalam keadaan terang-terangan atau rahasia niscaya kalian akan limpahkan rizki, dikaruniakan pertolongan dan diberikan ketenangan”.
Shadaqah sebagai sebab tertolaknya bencana. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Bersegeralah menunaikan shadaqah sebab benacana itu tidak akan melangkahinya dan dia akan menutup tujuh puluh pintu keburukan”.
-Shadaqah menutup tujuh puluh pintu keburukan.
-Shadaqah bisa memadamkan panasnya alam kubur. "Sesungguhnya shaqaqah itu akan memadamkan panasnya hawa kubur bagi penghuninya”.
-Shadaqah sebagai obat yang manjur dalam mengobati berbagai penyakit hati dan badan. Nabi Muhammad shallallahun alaihi wa sallam bersabda: Obatilah orang yang sakit di antara kalian dangan cara bersedeqah”.
-Tidak menunaikan shadaqah dan zakat akan menyebabkan hujan tidak turun dari langit. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dan tidaklah mereka mencegah diri mereka menunaikan zakat kecuali hujan akan tertahan dari mereka”.

Poskan Komentar