Selasa, 16 Desember 2014

DI ANTARA PENGERTIAN LEBARAN



DI ANTARA PENGERTIAN LEBARAN

          Segala puji bagi Allah I yang menyempurnakan agama untuk kita, menyempurnakan nikmat atas kita, meridhai Islam sebagai agama kita. Shalawat dan salam semoga terus tercurah kepada nikmat yang diberikan dan rahmat yang dihadiahkan, yaitu Nabi kita Muhammad bin Abdullah r, keluarga, para sahabat, dan orang yang setia kepadanya. Amma ba'du:
          Sesungguhnya lebaran merupakan salah satu penampakan  dan syi'ar agama  yang diagungkan, yang mengandung hukum yang besar, pengertian yang besar, rahasia  yang indah yang tidak diketahui semua umat dalam berbagai hari besarnya.
          Ied dalam pengertian agama adalah bersyukur kepada Allah I atas kesempurnaan ibadah yang tidak hanya diucapkan seorang mukmin dengan lisannya, akan tetapi bergelora dalam batinnya sebagai bentuk ridha dan tenang, nampak pada lahirnya karena senang dan dengan muka berseri, membuka di antara jiwa orang-orang beriman dengan muka cerah dan akrab, dan menghapus jarak di antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin.
          Ied dalam pengertian kemanusiaan adalah hari bertemunya kekuatan orang kaya dan kelemahan orang miskin di atas cinta, kasih sayang dan keadilan dari wahyu langit yang berjudul: zakat, ihsan, dan lapang dada.
          Ied nampak pada orang kaya, maka ia melupakan ketergantungannya pada harta, turun dari ketinggiannya seraya merendahkan diri kepada manusia dan siap menerima kebenaran, mengingat bahwa semua orang yang ada di sisinya adalah para saudara dan penolongnya, maka ia menghapus kesalahan setahun dengan ihsan satu hari.             
          Ied nampak pada orang fakir, maka ia membuang sakit hatinya, naik dari ufuk yang tinggi, melupakan kesusahan dan kepayahan selama satu tahun, keceriaan di hari lebaran menghapuskan bekas kedengkian dan rasa jemu dari dirinya, dan lari di sisinya rasa putus asa di saat menangnya dorongan harapan.
          Ied (lebaran) dalam pengertian kejiwaan adalah garis pemisah di antara ikatan yang jiwa tunduk baginya dan anggota tubuh merasa tenang kepadanya, dan d kebebasan yang tanpa batas untuk memuaskan hawa nafsunya.
          Ied dalam pengertian waktu adalah bagian dari masa yang ditentukan untuk melupakan kesedihan dan mengesampingkan beban, serta istirahat (rileks)nya kekuatan yang capek dalam kehidupan.
          Ied dalam pengertian sosial adalah hari anak-anak yang melimpah rasa bahagia pada mereka, hari para fakir miskin yang mendapatkan kemudahan dan keluasan rizqi, hari seperti rahim yang mengumpulkannya di atas kebajikan dan menyambung silaturrahim, hari kaum muslimin yang menyatukan mereka di atas saling memaafkan dan mengunjungi, hari handai taulan yang diperbaharui pada mereka ikatan kecintaan, hari jiwa yang mulia yang melupakan tekanannya. Maka berkumpul setelah berpisah, menjadi bersih setelah kotor, terbuka setelah sebelumnya mengerut.
          Dalam semua merupakan renovasi (rekonstruksi) ikatan sosial yang terkuat dalam bentuk rasa cinta dan persaudaraan.
          Dan padanya ada rasa akrab yang merasuk kalbu, rasa bahagia dalam jiwa, dan rasa lapang yang dirasakan tubuh.
          Dan padanya ada maksud sosial juga, yaitu mengingatkan berita masyarakat terhadap hak orang-orang yang lemah dan papa, sehingga rasa bahagia dirasakan setiap rumah dan kenikmatan merata di setiap keluarga.
          Kepada pengertian sosial ini disyari'atkan zakat fitrah di hari raya iedul fitri atau pada hari-harinya yang diberikan tangan-tangan yang baik di jalur-jalur yang baik. Maka tidak bersinar matahari lebaran kecuali senyuman terlihat di setiap bibir dan rasa bahagia meliputi setiap hati.
          Di hari lebaran, orang-orang yang tidak beruntung merasakan angin keberuntungan, orang-orang yang terjepit merasakan udara keluasan. Dan padanya orang-orang yang papa merasakan rizqi yang baik dan orang-orang yang mampu menikmati kesenangannya.
          Di hari lebaran, jiwa yang keras mengalirkan arahnya kepada kebaikan dan menggerakkan jiwa yang kering kepada kebaikan.
          Di hari lebaran, ada hukum-hukum yang menekan hawa nafsu, di belakangnya ada hikmah yang memberikan gizi kepada akal, dari bawahnya ada rahasia yang membersihkan jiwa, di hadapannya ada kenangan yang membuahkan untuk mengikuti kebenaran dan kebaikan, dalam isinya ada pelajaran yang mengungkapkan hakikat, timbangan yang menegakkan keadilan di antara golongan yang berbeda di antara manusia, tujuan yang benar dalam menjaga persatuan, memperbaiki perkara, pelajaran praktik yang tinggi dalam pengorbanan, mengutamakan orang lain dan kecintaan.
          Di hari lebaran, nampak keutamaan ikhlas yang meliputi semua orang, orang-orang saling memberikan hadiah hati yang ikhlas kepada yang lain. Lebaran seolah-olah adalah ruh satu keluarga dalam semua umat.
          Di hari lebaran, ruh tetangga menjadi luas, sehingga kembali kota yang besar dan seolah-olah penduduknya tinggal di satu rumah yang terwujud padanya persaudaraan dalam arti pengamalan.
          Di hari lebaran, bertolak tabiat di atas fitrahnya dan nampak rasa simpati belas kasihan di atas hakikatnya.
          Lebaran dalam Islam merupakan ketenangan dan kedamaian, mengagungkan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, dan jauh dari sebab-sebab kebinasaan dan masuk neraka.
          Dan bersama semua itu, lebaran merupakan lapangan berlomba menuju kebaikan, peluang bersaing dalam kemuliaan.
          Di antara bukti yang menunjukkan keagungan lebaran ini, bahwa Islam menyertakan setiap lebaran dari dua lebaran yang agung dengan salah satu syi'arnya yang umum, yang mempunyai kedudukan besar dalam rohani, memiliki peranan agung dalam masyarakat, baginya ada angin yang bertiup dengan kebaikan, kebajikan dan kasih sayang. Baginya ada pengaruh yang dalam pada pendidikan pribadi dan jamaah, yang umat tidak pantas ada serta bermanfaat keberadaannya kecuali dengannya. Dua syi'ar tersebut adalah bulan Ramadhan yang datangnya iedul fitri merupakan penutupnya yang indah, ungkapan syukur atas kesempurnaannya dan haji yang mana iedul adha merupakan bagian dari hari-harinya dan waktu yang mengisyaratkan keagungan hukumnya.
          Maka inilah ikatan Ilahi di antara dua lebaran dan di antara dua syi'ar ini sudah cukup dalam memutuskan atasnya, membuka hakikat padanya. Dan keduanya merupakan dua hari besar agama dengan sunnah-sunnah yang disyari'atkan padanya. Bahkan sampai hal-hal yang dianjurkan padanya, yang secara lahir hanyalah duniawi semata seperti memakai yang baik, berpakaian, memakai minyak wangi, memberi infak yang banyak terhadap keluarga, menjamu tamu, bersenang-senang, bermain-main yang tidak keluar kepada batas berlebih-lebihan, mencari yang mahal, dan kebanggaan yang tercela. Semua perkara yang dibolehkan ini termasuk dalam taat apabila baik niatnya. Maka di antara keindahan Islam bahwa yang dibolehkan, apabila baik niat padanya dan untuk merealisasikan hikmah Allah I dengannya atau mensyukuri nikmat-Nya niscaya berubah menjadi ibadah, sebagaimana sabda Nabi r: "Sehingga sesuap (nasi) yang engkau berikan di mulut istrimu."
          Kedua sisi lebaran dalam makna Islam adalah keindahan, kebesaran, kesempurnaan, ikatan dan hubungan, rasa bahagia yang menyentuh kalbu, ketenangan yang menyertai jiwa, dan meninggalkan kesedihan dan sakit hati.
          Rahasianya bukan pada hari lebaran yang harinya dimulai dengan terbitnya matahari dan berakhir dengan tenggelamnya. Sesungguhnya rahasianya adalah pada amal perbuatan yang dibangun pada hari itu, yang meliputinya berupa kebaikan, yang meliputi jiwa yang disiapkan untuk kebaikan padanya berupa ketinggian dan kesempurnaan. Maka lebaran sesungguhnya adalah pengertian yang ada pada hari lebaran itu, bukan harinya.
          Inilah sebagian pengertian ied sebagaimana yang kita pahami dari Islam, dan sebagaimana direalisasikan oleh kaum muslimin yang benar. Di manakah kita pada hari ini dari lebaran ini? Di manakah lebaran-lebaran ini dari kita? Apakah bagian kita dari pengertian ini? Di manakah bekas ibadah dari pengaruh kebiasaan dalam lebaran kita?
          Sesungguhnya yang disayangkan bahwa sebagian kaum muslimin melepaskan lebaran-lebaran ini dari pakaian agama, mengosongkannya dari nilai-nilai kerohnian yang menyejukan jiwa dengan kesenangan dan ketenangan. Bahkan sebagian kaum muslimin menghadapi lebaran dengan semangat yang lemah dan perasaan yang dingin, sehingga lebaran seolah-olah kegiatan perdagangan yang mengikuti kesuburan dan kekeringan, terpengaruh dengan kesusahan dan kemudahan, keuntungan dan kerugian, tanpa ungkapan rohani yang mempengaruhi dan tidak terpengaruh.
          Sungguh di antara hak lebaran adalah bahwa kita merasa bahagia dan di antara hak kita adalah bahwa kita saling mengucapkan selamat dan menghilangkan kesedihan serta saling memberikan muka ceria, maka sesungguhnya hak saudara-saudara kita yang tersuir lagi tersiksa di timur dan barat adalah bahwa kita merasa berduka karena kesedihan mereka, dan memperhatikan persoalan mereka. Maka masyarakat yang bahagia adalah masyarakat yang memiliki akhlak yang tinggi di hari lebaran dan perasaan kemanusiannya memanjang sejauh mata memandang. Dan hal itu nampak di hari lebaran saling tolong menolong lagi saling berkasih sayang, sehingga hatinya dipenuhi dengan rasa cinta, kebajikan, dan kasih sayang. Dan  ikut merasakan musibah saudara-saudara mereka di berbagai penjuru dunia saat mereka mendapat bencana dan musibah.
          Bukanlah maksudnya mengucurkan air mata dan memakai baju duka cita sebagaimana orang yang berduka saat kehilangan kekasih atau kerabat, dan bukan pula tidak mau makan seperti yang dilakukan oleh orang yang puasa.
          Namun maksudnya adalah bahwa di hari lebaran, kita nampak dengan penampilan umat yang mengerti, yang selalu seimbang di antara kesenangan dan kesedihan, maka perayaan kita dengan hari lebaran jangan menghalangi perasaan kita terhadap musibah yang menimba saudara kita.
          Yang dimaksudkan dari hal itu bahwa kita sederhana dalam kebahagiaan dan berbelanja, agar kita bisa membantu umat kita dalam pertarungannya yang pahit lagi berdarah.
          Juga maksudnya adalah kita merasakan persaudaraan yang kuat di hari lebaran, maka nampak dalam pembicaraan kita tentang bencana dan perjuangan saudara-saudara kita yang menguatkan semangat, membuka tangan untuk memberi dan mengucapkan doa, inilah duka cita yang diterjemahkan kepada amal nyata.
          Wahai  muslim yang berbahagia dengan hari lebaran: tidak diragukan bahwa engkau bersiap-siap atau sudah bersiap-siap untuk lebaran siapapun engkau, atau engkau ibu atau anak muda, atau wanita remaja. Tidak diragukan bahwa engkau telah menyiapkan segala kebutuhan lebaran berupa pakaian, makanan dan yang lainnya. Tambahkanlah atas semua itu persiapan sebagai ungkapan rasa syukur, menambahkan cahaya catatan amalmu. Persiapan yang lebih mulia di sisi Allah I dan lebih pasti dalam pandangan persaudaraan.
          Ketahuilah, ia adalah persiapanmu untuk melapangkan kesusahan orang yang ada di sekitarmu, orang-orang yang tidak mampu dari para tetangga, atau kerib kerabat atau semisal mereka. Perhatikanlan mereka, tanyakanlah kebutuhan mereka, dan segeralah masukkan rasa senang di relung hati mereka.
          Jika keuangan tidak menolongmu, maka setidaknya engkau bisa memberikan kata-kata yang baik, senyuman yang indah, dan anggukan kepala yang suci.
          Ingatlah di hari lebaran, sedang engkau mengecup kedua orang tuamu, menyalami istri, saudara, anak-anak dan karib kerabatmu. Maka berkumpul semuanya di atas makanan enak, minuman yang segar. Ingatlah anak-anak yatim yang di pagi hari itu tidak merasakan kasih sayang sang ayah, para janda yang tidak mendapatkan senyuman suami, bapak-bapak dan ibu-ibu yang tidak mendapatkan anak, dan jamaah yang banyak dari saudaramu yang terusir secara zalim, tercabik-cabik. Maka apabila di hari lebaran mereka beruari air mata, menyetrika dengan api, dan tidak mendapat ketenangan.
          Ingatlah di hari lebaran, engkau tinggal di tempat yang teduh, tempat tinggalmu yang luas, kasurmu yang empuk. Ingatlah saudara-saudaramu yang berkasurkan debu, berselimut khadhra, dan menderita di tempat terbuka.
          Ingatlah bahwa ketika engkau mengobati luka mereka dan menutupi kebutuhan mereka sesungguhnya engkau menutupi kebutuhanmu dan mengobati luka mereka:
﴿ وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ [التوبة:71]،
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain.. (QS. at-Taubah:71)
﴿ وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ فَلأنفُسِكُمْ [البقرة:272]،
Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya. (QS. at-Taubah 272)
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلِنَفْسِهِ 
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri (QS. Fashshilat :46)
من نفّس عن مؤمنٍ كربة من كرب الدنيا نفّس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة، والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه      
"Barangsiapa yang melapangkan kesusahan dari seorang mukmin dari kesusahan dunia niscaya Allah I melapangkan darinya kesusahan dari kesusahan hari kiamat. Allah I selalu menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya."
من لم يهتم بأمور المسلمين فليس منهم
"Barangsiapa yang mengurus perkara kaum muslimin maka ia bukan dari mereka."
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد، إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر.
"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kasih sayang, kecintaan mereka adalah bagaimana satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh mengeluh niscaya semua tubuh ikut merasakan panas dan tidak bisa tidur."    
          Semoga Allah I memberi berkah untuk kaum muslimin di hari lebaran mereka, meneguhkan untuk mereka agama mereka yang Dia  ridha untuk mereka. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya .
Poskan Komentar