Senin, 15 Desember 2014

Menanamkan Kecintaan Kepada Allah



Menanamkan Kecintaan Kepada Allah

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du.
Sesungguhnya cinta kepada Allah adalah pondasi yang mendasari agama Islam, dengan cinta yang sempurna itulah agama ini menjadi sempurna dan dengan berkurangnya cinta tauhid seseorang menjadi berkurang. Allah SWT berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orangyang beriman sangat cinta kepada Allah..."QS. Al-Baqarah: 165
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Anas bin Malik bahwa  Nabi saw bersabda: Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang maka dia akan merasakan manisnya keimanan: Allah dan RasulNya lebih dicintainya dari selain keduanya, tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekpuruan sama seperti kebencian dirinya dicapakkan ke dalam api neraka”.[1]
Ibnul Qoyyim telah menyebutkan sepuluh perkara yang bisa mendatangkan kecintaan kepada Allah:
Pertama: Memabca Al-Qur’an dengan memhami dan merenungkan makna ayat-ayatnya dan apa-apa yang dimasksud oleh ayat-ayat tersebut. Allah SWT berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. QS. Shad: 29
Allah swt berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci”. QS. Muhammad: 24
Abdulah bin Mas’ud berkata: Janganlah kalian menaburkannya (membaca al quran) sama seperti menaburkan biji-bijian (gandum), dan jangan pula melantunkannya sama seperti melantunkan syai’ir, berhentilah pada keajaiban-keajaibannya, getarkanlah hati dengannya dan janganlah semangat kalian hanya tertuju untuk mengakhiri suatu surat”.[2]
Kedua: Bertaqarrub kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang sunnah setelah menyempurnakan yang wajib. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya bahwa dia berkata: Nabi saw bersabda: Allah SWT berfirman barangsiapa yang memusuhi hambaKu maka aku telah mengumumkan perang terhadapnya, dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub kepadaku dengan suatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah aku wajibkan baginya, dan hambaku senantisa beribadah kepadaku dengan ibadah-ibadah yang sunnah sehingga aku mencintainya, maka jika aku mencintainya maka aku menjadi pendengaran yang dipergunakannya untuk mendengar, menjadi pandangannya yang dipergunakannya untuk melihat, menjadi tangannya yang dipergunakan untuk memegang, dan menjadi kaki yang dipergunakan untuk melangkah, jika dia meminta kepadaku niscaya aku mengasihinya dan jika meminta ampun kepadaKu niscaya Aku akan mengampuninya  dan jika dia berlindung denganKu niscaya Aku pasti melindunginya, dan tidaklah aku pernah ragu melakukan sesuatu seperti keraguan diriku mengambil nyawa seorang yang beriman, dia membenci kematian dan Aku tidak suka berbuat buruk kepadanya”.[3]
Ketiga: Selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap kesempatan baik dengan lisan dan hati serta amal perbuatan. Maka dia akan mendapatkan kecintaan sebatas ini. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
 (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. QS. Al-Ra’d: 28
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: Aku seperti apa yang dipersangkakan hambaKu terhadap diriKu, dan aku tetap bersamanya pada saat dia mengingatku jika dia mengingat Diriku pada dirinya maka Akupun akan mengingatnya pada Diriku, dan jika dia mengingat diriku pada sebuah perkumpulan maka Aku akan menyebutnya pada perkumpulan yang lebih baik dari mereka”.[4]
Keempat: Mengutamakan apa yang dicintaiNya dari apa yang engkau cintai pada saat hawa nafsu menguasai. Allah SWT berfirman:
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. QS. Al-Taubah: 24
Maka seseorang harus  mengutamakan apa-apa yang dicintai dan diinginkan oleh Allah dari apa-apa yang dicintai dan diinginkan oleh hamba. Maka dia harus mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa-apa yang dibenci oleh Allah, dia berloyalitas karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik bahwa Nabi saw bersabda: Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga dia menjadikan diriku sebagai  yang paling dicintainya dari pada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia”.[5]
Di dalam shahih Bukhari Umar ra berkata: Wahai Rasulullah engkau adalah orang yagn paling aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku, maka Nabi saw bersabda: Tidak demikian demi yang jiwaku berada ditanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu”. Maka Umar berkata: Sungguh, sekarang ini engkau adalah orang yang paling aku cintai bahkan terhadap diriku Maka Nabi saw bersabda: “Sekarang wahai Umar”.[6]
Kelima: Hati menyadari makna yang tekandung dalam asma dan sifa Allah SWT, dan dia bersaksi atas kebenarannya serta melandasi hidupnya  dengan kesadaran dan cakupan asma dan sifat ini. Allah SWT berfirman:
وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. QS. Al-A’raf: 180
Keenam: Bersaksi atas kebaikan Allah dan anugrahNya serta nikmatNya yang zahir dan bathin. Allah SWT berfirman:
وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari nikmat Allah. QS. Ibrahim: 34
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. QS. Al-Nahl: 53
Di antara anugrah besar yang diberikan oleh Allah adalah nikmat petunjuk kepada agama ini. Allah SWT berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. QS. Al-Ma’idah: 3
Ketujuh: Dan inilah yang paling ajaib, yaitu bersimpuh di hadapan Allah Azza Wa Jalla. Syaikhul Islam berkata: Orang yang arif berjalan menuju Allah pada rel pengakuannya terhadap pemberian Allah dan kesadaran dirinya akan kekurangan pribadinya dan amalnya”.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Saddad bin Aus bahwa Nabi saw bersbda: Penghulu istigfar adalah seorang hamba mengatakan:…………dan dia menyebutkan sebuah hadits”. Maka dengan sabda Nabi saw: “أبوء لك بنعمتك علي وأبوء بذنبي” artinya aku mengakui semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku”. Dengan hadits ini Rasulullah saw mengumpulkan antara pengkauan akan semua anugrah Allah dan kesadaran akan kekurangan diri dan amal. Maka pengkauan terhadap nikmat akan melahirkan kecintaan dan rasa syukur kepada zat yang memberi nikmat dan anugrah, dan kesadaran akan kekurangan diri dan amal akan melahirkan kehinaan dan menyerahkan diri serta sadar akan kebutuhan dirinya kepada Allah dalam setiap waktu, dan dia tidak melihat dirinya kecuali sebagai orang yang merugi, dan pintu paling dekat yang bisa dimanfaatkan oleh seorang hamba untuk bertaqarrub kepada Allah adalah pintu kesadaran akan keadaan diri yang selalu merugi. Dia tidak melihat bagi dirinya suatu keadaan, tempat dan sebab untuk berpegang dengannya, tidak ada cara yang diharapkannya, namun dia menerobosa untuk mendekat kepada Allah dari celah kebutuhan dirinya kepada Allah semata, rugi jika tidak mendekat dengannya sama seperti menerbosnya seseroang yang hatinya telah luluh karena kemiskinan dan kehinaan sehingga mengantarkan dirinya pada kepasrahan yang paling dalam, dia melihat dirinya gumpalan dirinya yang laihir dan bathin sebagai wujud kemiskinan yang sempurna dan kebutuhan yang sempurna kepada Tuhannya, sehingga dia meyakini bahwa jika dirinya menjauh darinya sekejap maka maka dia akan binasa dan akan mengalami kerugian yang tidak bisa diganti kecuali dengan kembali kepada Allah  dan mendapat rahmat Allah”.[7]
Kedelapan: Berkhulwah pada saat turunnya Allah dan membaca kitabNya lalu dia mengakhirinya dengan beristigfar dan bertaubat. Allah SWT  berfirman:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). QS. Al-Dzariyat: 18
Rasulullah saw bersabda: Tuhan kita Yang Maha Tinggi turun pada setiap malam ke langit dunia  pada saat sepertiga malam terakhir dan Dia menyeru: Siapakah yang berdo’a kepadaKu maka Aku akan mengabulkan permohonanNya dan memohon kepadaKu maka Aku akan mengabulkan permohonannya dan barangsiapa yang meminta ampun maka aku akan mengampuninya”.[8]
Kesembilan: Duduk bersama orang-orang yang cinta kepada Allah dan jujur serta menimba perkataan-perkataan mereka yang baik dan tidak berbicara kecuali jika pembicaraan tersebut telah benar-benar baik dan dikatahui dapat memberikan tambahan bagi keadaan sekarang dan manfaat bagi orang lain. Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khattab berkata: Seandainya bukan karena tiga hal maka aku tidak suka hidup di dunia ini, yaitu berperang di jalan Allah, melewati malam-malam dengan banyak beribadah dan duduk bersama kaum yang memilih pembicaraan yang baik sebagaimana kita memilih buah yang baik”.[9]
Di dalam as-Shahihaini dari hadits Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam”.[10]
Kesepuluh: Menjauhi segala perkara yang menghalangi antara hati dengn Allah SWT.
Dengan salah  satu sebab yang sepuluh ini orang yang ingin mencintai Allah akan sampai kepada tingkat cinta yang sebenarnya dan mereka akan menerobos cinta Allah SWT.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.



[1] Shahih Bukhari halaman: 27-26 dan Muslim: 43
[2] Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: 2/256 no: 8733
[3] Bukhari: 6502
[4] Al-Bukhari: 7405 dan Muslim: 2675
[5] Al-Bukhari: 15 dan Muslim: 44
[6] Al-Bukhari: 6632
[7] Al-Wbilus Shayyib: minal kalimit Thayyib: halaman: 7-8
[8] Al-Bukhari: 1145 dan Muslim: 758
[9] Mkhtashar Qiyamullail lil Marwazi: halaman 62
[10] Al-Bukhari : 6136 dan Muslim: 47
Poskan Komentar