Jumat, 05 Desember 2014

Menjaga Shalat dan Khusyuk dalam Melaksanakannya



Menjaga Shalat dan Khusyuk dalam Melaksanakannya
Segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla yang membangunkan hati yang lalai dengan nasehat dan peringatan, yang telah memerintahkan nabi -Nya untuk menyeru manusia dengan hikmah dan nasehat yang baik serta ilmu, Dia berfirman di dalam Al-Qur’an:
قال الله تعالى:  {وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ} (الذاريات: 55)
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Dzariyat: 55).
Maka keimanan mereka bertambah dengan adanya petunjuk dan peringatan.
                Aku memuji Allah Shubhanahu wa ta’alla Yang Maha Suci atas segala curahan karunia -Nya yang berlimpah dan pemberian-Nya yang besar, Yang telah mewajibakan kepada para hamba -Nya shalat lima waktu dengan hikmah yang besar dan menjadikannya sebagai penghubung anatara seorang hamba dengan diri -Nya, maka dengannya akal dan hatinya menjadi terang lagi bersih.
                Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dalam ketuhanan -Nya dan pengaturan alam ini, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan yang telah menunjukkan manusia jalan kebaikan dan memperingatkan manusia dengan sungguh-sungguh terahadap jalan-jalan yang terlarang guna mewjudkan perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagaiamana dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: {فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} (النور: 63)
“…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. Al-Nur: 63)
                Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam yang berlimpah kepada hamba -Mu dan Rasul -Mu Muhammad Shalallahu’alihi wa sallam dan kepada para keluarga, para shahabatnya serta para pengikut beliau yang berjalan di atas sunnahnya.
                Amma Ba’du: Wahai sekalian manusia takutlah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan jagalah semua shalat dan shalat yang pertengahan, serta berdirilah karena Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam rangka beribadah kepada -Nya. Tunaikanlah selalu shalat jum’at dan berjama’ah, sesungguhnya shalat adalah rukun Islam yang paling besar, dia adalah tiang agama, di atasnya pondasi agama ini dibangun dan ditegakkan. Maka barangsiapa yang menunaikannya maka dia telah menegakkan agama dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya maka dia telah menghancurkan agama ini. Menjaga shalat terwujud dengan menunaikan shalat secara sempurna baik rukun-rukunnya, syarat-syaratnya dan perkara-perkara yang wajib di dalam shalat dan kesempurnaan shalat terwujud dengan menjalankan segala perkara yang sunnah-sunnah.
                Ketahuilah bahwa  sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mewajibkan shalat kepada Nabi kalian tanpa perantara, diwajibkan di atas langit, pada mulanya diwajibkan lima puluh shalat kemudian dikurangi menjadi lima shalat dalam pengerjaannya namun dengan keutamaan yang sama dalam pahalanya yaitu lima puluh dalam timbangan dan balasan pahala.
                Tidakkah hal ini sebagai bukti yang nyata yang menejelaskan tentang keutamaan dan perhatian Islam terhadapnya?. Shalat adalah penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya, dia beridiri tegak di hadapan Tuhannya dengan penuh pengagungan dan  penghormatan, sambil membaca ayat-ayat Allah Shubhanahu wa ta’alla, bertasbih mengagungkan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan memohon kepada –Nya akan kebutuhannya baik dalam urusan agama atau dunia.
                Maka seharusnya bagi orang yang berhubungan dengan Tuhannya untuk melupakan segala sesuatu kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan pada saat suasana seperti ini hendaklah pribadinya tunduk, khusyu’ dalam ibadah, tenang dan nyaman, karena suasana jiwa seperti inilah yang menyebabkan shalat sebagai penghibur bagi orang-orang yang mengenal tauhannya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: “Dijadikan kesenanganku pada shalat”. HR. Ahmad dan Al-Nasa’i. Shalat inilah yang menjadi penghibur, dan inilah maksud firman Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
قال الله تعالى: {إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ} (العنكبوت: 45)
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”. (QS. Al-Ankabut: 45).
                Wahai kaum muslimin yang dimuliakan  Allah Shubhanahu wa ta’alla!. Banyak orang yang shalat namun tidak mengetahui apakah manfaat shalat yang sebenarnya dan tidak pula menghormatinya dengan semestinya, karena sebab itulah shalat menjadi berat bagi mereka dan tidak menjadi penyejuk bagi mereka, tidak menjadi penenang bagi jiwa serta tidak menjadi cahaya bagi hati yang gelap. Banyak orang yang mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa sama seperti gagak yang mamatuk makanan, tidak menyempurnakan tuma’ninah, orang yang seperti ini tidak mendapatkan apapun dari shalatnya walaupun mereka mengerjakannya seribu kali, sebab khusyu dan tuma’ninah dalam menjalankan shalat adalah termasuk rukun shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menegur seorang lelaki yang tidak menyempurnakan thuma’ninah dalam shalatnya: Kembalilah lalu ulangi shalatmu sebab engkau belum shalat. Maka diapun kembali mengerjakan shalat beberapa kali dan pada setiap kali dia mengualangi shalatnya beliau mengatakan: Kembali ulangi shalatmu sebab engkau belum shalat”. Muttafaq alaihi. Sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: mengajarkannya bagaiamana shalat yang khusyu dan tuma’ninah yang sempurna. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga mengingatkan seorang lelaki yang memainkan jenggotnya saat menjalankan shalat: Seandainya hati orang ini khusyu’ maka anggota badannyapun ikut khusyu’. Hadits dengan derajat lamah.
                Oleh sebab itulah shalat sangat sulit dan berat bagi orang yang mengerjakan shalat seperti ini sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah Shubhanahu wa ta’alla:
قال الله تعالى: {وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ} (البقرة: 45)
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (QS. Al-Baqarah: 45).
                Wahai sekalian manusia!, tegakkan shalat kalian dan jagalah shalat tersebut, kerjakan dengan penuh kekhusyu’an, janganlah memainkan anggota badan dan pakaian saat menajalankan shalat, dan jangan pula meremehkan dan menyia-nyiakan shalat atau mengakhirkannya dari waktunya. Sebab tidak ada orang yang meninggalkan shalat, atau meremehkanya atau menyia-nyiakannya karena perkara-perkara dunia kecuali orang yang telah ditetapkan tercela dan ditetapkan siksa yang pedih baginya. Orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang dimurkai dan mati dalam keadaan tidak Islam.
                Allah Subahanahu Wa Ta’ala telah memperingatkan kalian dari menyia-nyiakan shalat dan meremehkannya. Allah Subahanahu Wa Ta’ala  berfirman:
قال الله تعالى: {فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا} ( مريم: 59)
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS. Maryam: 59).
Ali Radhillahu anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seorang hamba meninggalkan shalat dan tidak pula mengerjakannya kecuali akan ditulis pada wajahnya orang ini telah keluar dari rahmat Allah Shubhanahu wa ta’alla dan saya berlepas diri darinya”.
                Wahai hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla bertqwalah kepada      -Nya dan berusahalah untuk mengerjakan shalat dengan cara berjama’ah dengannya, niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberikan kepada kalian rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
                Jagalah shalat dan kerjakanlah dengan cara yang khusyu’, sebab Allah Shubhanahu wa ta’alla telah berfirman di dalam kitab -Nya:
قال الله تعالى : {قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣ ةِ فَٰعِلُونَ ٤ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ ٧ وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ ٨ وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ ٩ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡوَٰرِثُونَ ١٠ ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡفِرۡدَوۡسَ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ} (المؤمنون: 1- 11)
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-11).
Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan keberkahannya bagiku dan bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yang mulia, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan manfaat bagiku dan bagi kalian dengan ayat-ayat  -Nya Yang Maha Bijaksana yang tertera di dalamnya. Hanya inilah yang bisa saya sampaikan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi kalian serta seluruh kaum muslimin kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepada -Nya dan bertaubatlah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, sebab Dia adalah Zat Yang Pengampun lagi Maha Penyayang.




Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla yang telah mewajibkan kepada para hamba -Nya beberapa shalat guna mewujudkan hikmah dan rahasia yang tinggi. Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikannya sebagai penghubung antara seorang hamba dengan tuhannya agar hatinya menjadi terang dan segala tuntutannya terpenuhi baik di dunia atau akherat.
Aku bersaksi bahwa  tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang terpilih dan istimewa, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan baginya, dan kepada keluarga, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan sampai hari kiamat.
Amma Ba’du. Wahai sekalian hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla takutlah kepada -Nya, dan ketahuilah bahwa seseorang tidak akan mengetahui harga dan kedudukan sesuatu sehingga dia mengetahui hakekat, faedah dan urgensinya dan tidak ada yang lebih pantas bagi seorang muslim dari mengetahui hakekat dan urgensi ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan di antara ibadah yang paling agung dan besar adalah ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada Nabi -Nya tanpa perantara, diwajibkan di atas tujuh langit yang tinggi dan Dia menjadikannya lima kali shalat dengan ganjaran pahala lima puluh kali shalat apakah itu tidak menjadi bukti nyata akan nilainya yang penting dan keutamaannya yang tinggi serta perhatian Islam terhadap kewajiban ini.
Apakah seorang muslim tidak menyadari hakikat shalat ini, dia adalah penghubung antara dirinya dengan Tuhannya.Dia berdiri di hadapan Tuhannya lima kali sehari, dia bermunajat pada saat shalat tersebut, sambil memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla segala kebutuhannya. Seorang muslim berdiri tegak di hadapan Tuhannya agar dirinya dekat dengan Pencipta yang disembah dan dicintainya. Dia berdiri tegak di hadapan Tuhannya guna membuang segala keletihan dan kekeruhan serta kecemasan hidup lalu dia mengadu permasalahannya kepada Tuhannya. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selalu memerintahkan kepada Bilal: “Panggillah kita agar tenang dengan shalat wahai Bilal”.
Dan pada saat seorang hamba kehilangan rasa kelezatan dalam mengerjakan ibadah ini maka engkau akan menadapatkan bahwa dirinya menyia-nyiakan ibadah ini baik dalam menunaikan ibadah ini atau dalam menyempurnakan rukun dan wajib shalat.
Engkau akan mendapatinya sering meninggalkan shalat, jika dia datang mengerjakan shalat maka engkau melihatnya melakukannya seperti gagak yang mematuk makanan, tidak menyempurnakan tuma’ninahnya dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja.
Engkau akan mendapatinya memasuki shalat dengan jasadnya semata bukan dengan hatinya, hatinya lalulalang ke sana ke mari, berpikir tentang urusan dunianya, bagaimanakah orang seperti ini bisa merasakan kelezatan beriabadah?. Bagiamana mungkin shalat yang seperti ini bisa mencegah kemungkaran atau menambah keimanan.
Realita inilah yang sering terjadi dan menimpa banyak orang, tiada daya dan upaya hanya dengan kehendak Allah Shubhanahu wa ta’alla semata. Seyogayanya bagi orang yang berdiri tegak di hadapan tuhannya untuk menampakkan kebutuhannya kepada Tuhannya selalu memohon kepada -Nya agar diberi pertolongan. Dan hendaklah dia juga menghadirkan kesadaran dirinya yang sedang sedang bermunajat dan berkomunikasi dengan Tuhannya dan meresapi makna apa yang dibacanya baik dari ayat-ayat Al-Qur’an, tasbih dan takbir. Sebab semua itu bisa membantunya untuk menjalankan shalat secara khusyu’.
Inilah yang dapat saya sampaikan, dan curahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi yang datang membawa kabar gmebira dan ancaman, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla telah memerintahkan kepada kalian mengucapkan shalawat dan salam di dalam kitabsuci  -Nya.
Poskan Komentar