Senin, 15 Desember 2014

PRINSIP DAN DASAR ISLAM



PRINSIP DAN DASAR ISLAM


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wa Ba’du:
Sesungguhnya perkara utama yang diwajibkan oleh Allah terhadap anak Adam adalah  kufur terhadap taghut dan beriman kepada Allah. Allah SWT berfirman:

          256.Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. QS. Al-Baqarah: 256
Allah SWT berfirman:

          36.Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana akhir bagi orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).(Al-Nahl: 36)
Allah SWT berfirman:

          116.  Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa bagi yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya. QS. Al-Nisa’: 116
Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: Dan sifat kufur kepada taghut adalah dengan meyakini kebatilan beribadah kepada selain Allah dan meninggalkannya, dan para pelakunya serta memusuhi mereka. Dan makna beriman kepada Allah adalah berkeyakinan bahwa hanya Allah lah tuhan yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya, dan mengikhlaskan segala macam ibadah hanya untuk Allah dan meniadakan segala bentuk ibadah kepada selain Allah, juga agar engkau mencintai orang-orang yang ikhlas dan bersikap loyal terhadap mereka, membenci pelaku kesyirikan dan memusuhi mereka. Inilah millah Ibrahim alaihis salam, dan bodoh orang yang membenci millah tersebut.
Inilah tauhid  ibadah, itulah da’wah para rasul ketika mereka mengatakan:

          65."Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. QS. Al-A’rof: 65
Harus menafikan kesyirikan dalam beribadah dan berlepas diri dari orang yang melakukannya, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala tentang kekasihnya, Ibrahim alaihis salam:

          26. Dan ingatlah ketika Ibrahim Berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya Aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, 27.Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; Karena Sesungguhnya dia akan memberi hidayah kepadaku".( QS. Al-Zukhruf: 26-27)
Maka harus berlepas dari segala sesembahan selain Allah dan Allah berfirman tentang hal tersebut:
          48.Dan Aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Maka waijib menjauhi kesyirikan dan pelakunya dan berlepas diri dari keduanya, sebgaimana yang dijelaskan oleh Allah di dalam firman-Nya:

          4. Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja." (QS. Al-Mumtahanah: 4
Dan orang-orang yang bersama mereka adalah para rasul sebgaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jarir, ayat ini mengandung makna anjuran bertauhid dan meniadakan syirik serta loyal terhadap pelaku tauhid dan mengkafirkan orang yang meninggalkan tauhid dengan mengerjakan kesyirikan yang bertentangan dengan tuntutan tauhid, sebab orang yang mengerjakan kesyirikan berarti telah meninggalkan tauhid.
Dan Al-Urwatul Wutsqo adalah kalimat syahadat: لاإله إلا الله   kalimat ini mengandung makna penafian dan penetapan, yaitu menafikan segala macam ibadah kepada selain Allah dan menetapkan semua bentuk ibadah hanya untuk Allah semata, yang tiada sekutu dengannya.[1]
Dan syekh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebutkan di tempat yang lain bahwa dasar dan pondasi agama itu adalah dua perkara:
Pertama: Perintah baribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, anjuran bertauhid dan loyal terhadap tauhid, serta kufur terhadap orang yang meninggalkannya. Dalil perkara ini sangat banyak di dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah SWT:

          64.Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS.Ali Imron: 64)
Maka Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya  untuk menyeru ahli kitab kepada makna لا إله إلا الله  , yaitu kepada kalimat tersebut Rasulullah SAW menyeru orang Arab dan yang lainnya, itulah kalimat ikhlas: لا إله إلا الله   kalimat ini ditafsirkan dengan firman Allah: ž©!$#wÎ)ç7÷ètRwr& . Maka firman Allah yang mengatakan: (ç7÷ètRwr&) di dalamnya tersirat makna (لا إله) yaitu menafikan ibadah kepada selain Allah dan firman Allah: (!$#wÎ)) ini adalah  kalimat yang dikecualikan dari kaliamat ikhlas tersebut. Allah memerintahkan kepada mereka untuk mengkhususkan ibadah hanya kepada Allah semata dan meniadakan ibadah tersebut dari selain Allah.
Keduanya adalah berlawanan dan tidak pernah bertemu, maka dimana ada kesyirikan maka tauhid tertolak. Allah SWT berfirman tentang orang yang mempersekutukan Allah:

          8.Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; Kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka". (QS. Al-Zumar: 8)
Maka kekafiran kepada Allah Ta’ala adalah dengan cara menjadikan bagi Allah tandingan-tandingan atau sekutu-sekutu. Ayat-ayat yang berbicara tentang masalah ini sangat banyak, maka seseorang tidak dikatakan bertauhid kecuali dengan menafikan kesyirikan dan berlepas diri darinya dan mengkafirkan orang yang melakukannya.
Kedua: Waspada terhadap syirik dalam beribadah kepada Allah, keras dalam mengingkarinya serta memusuhinya dan mengkafirkan orang yang melakukannya, maka maqom tauhid tidak terwujud kecuali dengan seperti ini. Inilah agama para rasul dan mereka memperingtakan kaum mereka terhadap kesyirikan sebagaimana firman Allah Ta’ala:

          25.Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku". (QS. Al-Anbiya’: 25)
Allah SWT berfirman:

          21.Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan Sesungguhnya Telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): "Janganlah kamu menyembah selain Allah, Sesungguhnya Aku khawatir kamu akan ditimpa azab yang besar". (QS. Al-Ahqof: 25.)
Dan syirik bisa menghapuskan semua amal baik yang kecil atau besar dan Allah tidak menerima dari orang yang musrik baik amal ibadah mereka baik yang fardu atau yang sunnah.
Allah SWT berfirman:

          23. Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al-Furqon: 23)
Allah SWT berfirman:

          65.Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.(QS. Al-Zumar: 65)
Allah berfirman tentang para Nabi dan kekasihNya:

          88.Itulah petunjuk Allah, yang dengannya dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya di antara hamba-hamba-Nya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. QS. Al-An’am: 88
Sesungguhnya di antara perkara yang membuat hati dan badan menjadi merinding dan perkara ini mengisyaratkan adanya bahaya sangat besar yang menyerang umat ini pada prinsip yang paling afdhal dan paling baik yang dimiliki umat ini, yaitu apa yang diekspos oleh orang-orang kafir, para musuh-musuh Islam melalui media visual dan media-media lainnya, berupa iklan-iklan menghancurkan yang berusaha mengarahkan kaum muslimin agar mereka ragu terhadap agama mereka sendiri serta menyeru mereka dengan berbagai konspirasi agar terlepas meninggalkan agama mereka, waspadalah terhadap perkara ini. Hal ini selain bahaya-bahaya lainnya yang mengancam umat ini, di mana kita kita tidak bisa selamat darinya kecuali dengan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu dengan mewujudkan tauhid dan berpegang teguh dengannya, serta mengetahui kesyirikan dan waspada terhadapnya juga berlepas diri dari pelakunya.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh shahabatny










[1] Majmu’atu tauhid: hal: 11, 14
Poskan Komentar