Rabu, 10 Desember 2014

Shalat ‘Ied



Shalat ‘Ied

Segala puji hanya bagi Allah satu-satu-Nya, shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan Nabi yang tiada nabi setelahnya, Nabi kita Muhammad -shallallahu 'alaihi wa sallam- beserta keluarganya dan para sahabatnya, serta orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuknya hingga akhir zaman, amma ba’du:
Wahai kaum muslim, sesungguhnya solat ‘ied adalah sunnah yang sangat di anjurkan untuk dilakukan oleh setiap muslim, ajaklah keluargamu (istrimu, ibumu, saudari-saudarimu, dan keluargamu lainnya) untuk keluar melaksanakan sholat ‘ied jika aman dari fitnah. Ummu ‘Athiyyah -radhiallahu 'anha- berkata:
(( كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ ))
Dahulu kami diperintahkan untuk keluar pada hari ‘ied sehingga kami pun mengajak keluar para perawan dari kelambunya sampai para wanita haidh pun kami ajak keluar, sehingga mereka berada di belakang jama’ah, mereka pun bertakbir bersama orang-orang, berdoa bersama mereka, serta mengharap berkah dari hari tersebut dan kesuciannya. (HR. Bukhari).
Wahai kaum muslimin, disunahkan bagimu untuk mandi dahulu pada hari ‘ied, serta mengenakan pakaianmu yang paling bagus. Disunahkan juga memakan beberapa butir kurma sebelum keluar menuju sholat ‘iedul fitri. Makanlah kurma itu sebanyak bilangan ganjil, dalam hadits Anas -radhiallahu 'anhu- dinyatakan:
(( كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ ))
Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- tidaklah berangkat (menuju sholat ‘ied) sampai beliau makan beberapa butir kurma.  (HR. Bukhari).
Dan dalam riwayat lain darinya:
(( وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا ))
dan beliau memakannya sebanyak bilangan ganjil.
Dan diharamkan berpuasa pada 2 hari ‘ied (‘iedul fitri dan ‘iedul adha).
Disunahkan bagimu –wahai muslim- saat berangkat ke lapangan pada hari ‘ied dari suatu jalan dan pulang dari jalan yang berbeda. Jabir -radhiallahu 'anhu- berkata:
(( كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ ))
Dahulu Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- ketika hari ‘ied beliau membedakan jalan. (HR. Bukhari).
·      Dan disunahkan berangkat dan kembali dari sholat ‘ied dengan berjalan kaki kecuali jika ada udzur.
(( كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا ))
dahulu rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berangkat sholat ‘ied dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki. (HR. Ibnu Majah) (shohih).
·      Disunahkan bertakbir pada malam ‘iedul fitri, berangkat dari firman Allah -subhanahu wa ta'ala-:

 “Dan hendaklah kamu bertakbir mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah: 185)
Seraya mengucapkan: Allahu akbar Allahu akbar, la ilaha illallahu, wallahu akbar Allahu akbar, wa lillahil hamdu. Lakukan takbir ketika keluar menuju sholat ‘ied, dan tetap terus bertakbir sampai selesai khutbah ‘iedul fitri.
·      Jika seorang muslim terlambat sholat ‘ied berjam’ah bersama imam maka ia harus meng-qadhanya sesuai dengan caranya solat ‘ied.
·      Para wanita harus datang ke tempat sholat ‘ied bahkan para wanita yang sedang haidh dan nifas, agar mereka bisa menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin, dan hendaknya mereka yang haidh dan nifas mengambil posisi agak jauh dari tempat sholat.
·      Tidak ada sholat sunnah sebelum maupun sesudah sholat ‘ied, sebagaimana Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam:
(( صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا ))
Beliau sholat pada hari ‘iedul fitri 2 rakaat, dan tidak sholat sebelum maupun sesudahnya. (HR. Bukhari).
·      Disunahkan bagi imam sholat ‘ied pada saat khutbah agar menyuruh manusia untuk bersedekah, karena Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- berkata pada saat khutbah ‘ied:
(( تَصَدَّقُوا تَصَدَّقُوا تَصَدَّقُوا ))
Bersedekahlah kalian, Bersedekahlah kalian, Bersedekahlah kalian! (HR. Muslim).
Serta disunahkan baginya untuk mendatangi para wanita dan menyuruh mereka bersedekah, karena dahulu Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- mendatangi para wanita dan menyuruh mereka bersedekah. Dan disunahkan bagi setiap muslim untuk bersedekah pada hari ‘ied, juga setiap wanita disunahkan untuk bersedekah walaupun dengan perhiasannya yang dikenakannya, di lehernya dan cincinnya.
·      Boleh saling mengucapkan selamat pada hari ‘ied, atau melantunkan syair yang mubah pada hari ‘ied, serta memainkan rebana yang dilakukan oleh anak perempuan, karena ‘Aisyah -radhiallahu 'anha- pernah suatu ketika bersama dua orang anak wanita.
(( جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتِ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ قَالَتْ وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ ))
Dua anak kecil perempuan dari kalangan kaum Anshar yang mereka berdua sedang melagukan perkataan-perkataan kaum Anshar sewaktu perang Bu’ats, ‘Aisyah berkata: mereka berdua bukanlah penyanyi. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan dalam riwayat lain dari Muslim:
(( جَارِيَتَانِ تَلْعَبَانِ بِدُفٍّ ))
Dua orang anak kecil yang sedang memainkan rebana.
·      Diharamkan berlebih-lebihan pada hari ‘ied, atau pada hari selain ‘ied, baik dalam makanan dan minuman maupun yang lainnya, sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

“Dan janganlah berlebih-lebihan (boros) sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-a’raf: 31)
Sebagaimana juga diharamkan memukul gendang serta memukul gambus dan musik, karena hukum asal alat musik adalah haram, dan Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- telah bersabda:
(( لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ ))
Sungguh akan ada dari umatku sejumlah kaum yang menghalalkan zina, sutera, khomr, dan alat musik. (HR. Bukhari).


Poskan Komentar