Minggu, 14 Desember 2014

Syarah Makna Salah Satu Asmaul Husna (As-Syafi)



Syarah Makna Salah Satu Asmaul Husna (As-Syafi)

Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.
Amma Ba’du:
Allah SWT berfirman:

Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada -Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  (QS. Al-A’rof: 180)
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah  RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kecuali satu. Dan barangsiapa yang menghitungnya maka dia akan masuk surga”.[1]
Di antara asma Allah SWT yang disebutkan didalam Al-Qur’an adalah (Asyafi) yang bermakna Yang Maha Kuasa memberikan kesembuhan. Kesembuhan itu meliputi kesembuhan badan, kesembuhan dada dan terbebas dari syahwat. Allah SWT berfirman:  

“dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”. (QS. Al-Syu’ara’: 80).
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah bahwa apabila Nabi Muhammad SAW menjenguk orang yang sedang sakit maka beliau berdo’a:
«أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ أَشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاءُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا»
Hilangkanlah penyakit ini wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah dan Engkau-lah Yang Maha memberikan kesembuhan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang telah engkau tentukan, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit”.[2]
Di dalam hadits ini diterangkan meminta kesembuhan dari segala macam penyakit, bukan semata-mata memohon kesembuhan dari penyakit yang sedang menimpa orang yang sedang sakit, dan disyari’atkan bagi seorang muslim untuk mengucapkan:       «يا شافي اشفني»
(Wahai Zat Yang menyembuhkan penyakit sembuhkalah aku).
Allah Aza Wa Jalla menyembuhkan penyakit hati seperti rasa benci, hasad dan syahwat, dan Dia juga menyembuhkan penyakit jasad dan tidak boleh berdo’a dengan menggunakan nama ini kecuali kepada Allah.
Di antara manfaat yang didapatkan dengan beriman kepada nama ini adalah:
Pertama: Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Zat yang menyembuhkan, tidak ada yang menyembuhkan kecuali Dia, dan tidak ada kesembuhan kecuali ksembuhan yang telah ditentukan oleh -Nya, dan tidak ada yang menghilangkan penyakit kecuali Dia, baik menghilangkan penyakit badan atau jiwa. Allah SWT berfirman:

Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS. Al-An’am: 17)
Kedua: Sesunggahnya hanya Allah-lah Zat yang menyembuhkan, dan Dia tidak menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan bersamanya obat sebagai penawar dan Dia memiliki sebab-sebab yang mengarahkan kepada kesembuhan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menurunkan bersamanya obat sebagai penawar”.[3]
Di antara sebab-sebab yang mengarah kepada kesembuhan adalah:
1.   Do’a. Allah SWT berfirman:


Dan apabila hamba-hamba -Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) -Ku dan hendaklah mereka beriman kepada -Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya dari Abi Hurairah RA berkata: Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang menjenguk orang yang sedang sakit yang belum datang ajalnya dan dia berkata di sisinya sebanyak tujuh kali:        
«أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ» 
“Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan yang menguasai ‘arsy yang agung, agar menyembuhkan penyakitmu”. Kecuali Allah akan memberikan kesembuhan baginya dari penyakit tersebut.[4]
Di antara sebab-sebab yang membawa kesembuhan adalah Al-Quran yang agung ini. Allah SWT berfirman:

Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian. (QS. Al-Isro’: 82).
 Allah SWT berfirman:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57).

Katakanlah: Al Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. (QS. Fushilat: 44)
Dan Nabi Muhammad SAW menjenguk orang yang sakit dan berdo’a bagi mereka, meruqyah mereka dengan kitab Allah, Al-Qur’an sebagaimana beliau meruqyah diri beliau sendiri dengan Al-Qur’an. Sebagaimana dijelaskan di dalam Ash-Shahihaini dari Aisyah RA bahwa Nabi Muhammad SAW berkata kepada orang yang sedang sakit:
«بسم الله تربة أرضنا بريقة بعضنا يشفي مريضنا بإذن ربنا»
“Dengan menyebut nama Allah, ini adalah tanah dari bumi kami, dengan menggunakan liur sebagian dari kami, Dia akan menyembuhkan orang yang sakit dari kami dengan izin Tuhan kami”.[5]
Dan Nabi Muhammad SAW meniup untuk dirinya sendiri dengan Al-Mu’awwidzat saat beliau menderita sakit yang mengantarkan beliau pada kematian.[6]
Di antara sebab-sebab yang membawa kesembuhan adalah meminum madu. Allah SWT berfirman:

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang  di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. Al-Nahl: 68-69).
Di antara sebab-sebab yang membawa pada kesembuhan adalah  memakan habbatus sauda’ (jintan hitam). Diriwayatkan oleh  Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Di dalam habbatus sauda’ itu terdapat penawar bagi segala penyakit kecuali penyakit as saam. Ibnu Syihab berkata:  As saam adalah kematian.[7]
Di antara langkah kesembuhan adalah dengan berbekam (hijamah). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits Ibnu Abbas RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kesembuhan itu pada tiga hal yaitu goretan hijamah, meminum madu dan kayyi (membakar kulit dengan besi yang panas), dan aku melarang umatku melakukan kayyi.[8]
Di antara langkah menuju kesembuhan meminum air zam-zam. Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam kitab musnadnya dari Jabir RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Air zam-zam itu berfungsi seperti apa yang menjadi motifasi meminumnya”.[9]. Dan apabila Ibnu  Abbas meminum Zam-Zam maka dia berkata: Ya Allah aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rizki yang luas dan terbebas dari segala penyakit”.[10]
Di antara sebab yang membawa pada kesembuhan adalah apa-apa yang telah diturunkan oleh Allah Azza Wa Jalla dari khasiat yang terdapat di dalam unsur bumi ini baik pada tanah, air, pohon-pohonan, buah-buahan dan lain-lain dari khasiat benda-benda dan Allah telah memilih orang-orang tertentu yang mengetahui khasiat tersebut.
Ketiga: Terkadang proses penyembuhan itu bisa jadi terlambat karena hikmah yang diinginkan oleh Allah SWT, seperti mengangkat derajat orang yang sedang sakit atau menghapuskan kesalahannya:

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS. Al-Anbiya’: 83-84)
Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa Nabi Ayyub menderita sakit selama delapan belas tahun sebagai ujian Allah SWT bagi Nabi -Nya. Diriwayatkan oleh  oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Jabir RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Pada saat orang-orang yang diuji dengan penyakit (di dunia) diberikan pahalanya maka orang-orang yang sehat pada hari kiamat berangan-angan kalau seandainya kulit-kulit mereka dicabik-cabik di dunia dengan gunting”.[11]
Di antara perkara yang sering diperingatkan oleh sebagaian ulama bahwa pada saat sebagian orang yang sedang menderita sakit ditimpa dengan suatu penyakit maka hati mereka condong tergantung kepada sebab, seperti rumah sakit, para dokter, padahal yang wajib adalah menggaantungkan hati kepada Zat yang menurunkan penyakit dan tidak ada yang mampu menghapusnya kecuali Dia.
Seharusnya bagi orang yang sedang menderita sakit untuk menjauhi rasa putus asa sekalipun penyakit tersebut meningkat, sebab kelapangan yang dijanjikan oleh Allah SWT sangatlah dekat. Diceritakan kepadaku bahwa seseorang tertimpa kecelakaan mobil yang mengakibatkan dirinya tidak sadar selama empat bulan, dan ibunya selalu membacakan baginya Al-Qur’an di sisi ranjang tidurnya di rumah sakit dan berdo’a baginya, kemudian setelah beberapa lama dia sadar dan Allah telah menyembuhkannya, hidup seperti biasa dan menikmati rizkinya. Maha Suci Allah Yang Maha menyembuhkan. Sementara, yang lain seorang lelaki yang menderita penyakit kanker, dan para dokter telah memutuskan bahwa penyakitnya tidak dapat disembuhkan. Akhirnya orang tersebut senantiasa meminum madu dan jintan hitam yang dicampur dengan beberapa jenis rumput-rumputan, dan dimakannya selama beberapa bulan, maka Allah SWT memberikan kesembuhan baginya dan menyehatkan badannya. Maha Suci Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
Salah seorang pengurus masjidil haram Mekkah Al-Mukarromah menyebutkan bahwa sebagian orang yang menderita sakit dengan penyakit yang kronis, dan para dokter telah menetapkan bahwa penyakit yang mereka derita tidak memiliki obat, lalu mereka beri’tikaf di masjidil haram dan meminum dari air zam-zam dibarengi dengan do’a kepada Allah SWT saat meminumnya dan menengadahkan tangan kepada -Nya, bahwa tidak ada tempat mengadu kecuali kepada Allah SWT maka Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana menyembuhkan mereka dari penyakit yang dideritanya. Kisah-kisah dalam masalah ini sangat banyak, dan apa yang telah aku sebutkan adalah secuil dari kisah yang begitu banyak.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad saw dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.


[1] Al-Bukhari: no: 2736 dan Muslim: 2677
[2] HR. Muslim: no: 2191 dan Al-Bukhari: 5743
[3] Al-Bukhari: no: 5678
[4] HR. Abu Dawud: Abu Dawud di dalam kitab sunannya: no: 3106
[5] Al-Bukhari: no: 5745 dan Muslim: 2194
[6] Al-Bukhari: no: 5735 dan Muslim: 2192
[7] Al-Bukhari: no: 5688 dan Muslim: 2215
[8] Al-Bukhari: 5681
[9] Musand Imam Ahmad: 3/357
[10] Mushannaf Abdur Razzaq: 5/113 no: 9112
[11] Sunan Turmudzi: no: 2402
Poskan Komentar