Selasa, 16 Desember 2014

TAFSIR SURAT AL-TAKASUR



TAFSIR SURAT AL-TAKASUR

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah saw, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du:
Di antara surat Al-Qur’an yang mulia yang seirng kita dengar dan buuth untuk direnungkan dan ditadabburi adalah surat Al-Takatsur. Allah swt berfirman:

1.  Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu, 2.  Sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3.  Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4.  Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui. 5.  Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 6.  Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 7.  Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. 8.  Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).[1]
Firman Allah swt:

(Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu)
Ibnu Katsir berkata: Allah swt menegaskan bahwa cinta dunia, kenikmatan yang ada padanya dan kemegahannya telah menyibukkan kalian dari berusaha menggapai bekal di akherat. Dunia ini begitu melalaikanmu sehingga maut menjemputmu lalu engkau berada dalam liang kubur dan menjadi penghuninya.[2]
Dari Mutharrif dari bapaknya dari Abdullah bin Syikhir ra berkata: Aku mendatangi Nabi saw dan beliau sedang membaca:

Beliau bersabda: Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, maka Allah berkata kepdanya: Wahai anak Adam apakah engkau memiliki dari hartamu kecuali apa yang telah engkau makan lalu habiskan, atau apa yang telah engkau pakai lalu menjadi rusak dan apa yang telah engkau shadaqahkan lalu diberikan balasan dengannya. Pada sebuah riwayat disebutkan: Dan apa-apa yang selian itu maka dia pergi dan meninggalkannya untuk orang lain”.[3]
Dan firman Allah yang mengatakan:

(Sampai kamu masuk ke dalam kubur). Ibnul Qoyyim berkata: Dan menjadikan tujuan terakhir perjalanan hidup mansuia adalah melewati alam kubur bukan kematian, hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak tinggal selamnya dan menetap di dalam kubur. Manusia (di alam kubur) sebagai orang yang datang menziarahinya, sama  orang yang dating mengunjungi sebuah tempat lalu pergi beranjak darinya, sebgaimana keberadaan mereka di dunia sebagai pengunjung, orang yang tidak menetap di dalamnya. Dan tempat menetap adalah surga atau neraka”.[4]
          Dan firman Allah swt yang mengatakan:

(3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4.  Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui.). Maksudnya adalah janganlah memperbanyak harta tersebut melalaikanmu dari mentaati Allah, dan kalian pasti akan mengetahui akibat kelalaian kalian akibat berlomba-lomba dalam mengumpulkan dunia. Kalimat yang sama diulang-ulangi untuk memperkuat penegasan. Sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama tafsir.
Ibnl Qoyyim berkata: Dikatakan pengulangan di atas bukanlah sebuah penegasan, akan tetapi pengtahuan yang pertama pada saat seseorang melihat kematian secara nyata ketika maut dating menjempuit, sementara pengetahuan yang kedua pada saat seseorang dimasukkan ke dalam kubur. Ini adalah perkataan yang diketengahkan oleh Al-Hasan dan Muqotil, serta diriwayatkan oleh Atho dari Ibnu Abbas.[5]
Dan firman Allah swt yang mengatakan:

(Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin). Maksudanya seandainya engkau mengetahui apa yang akan terjadi di hadapan kalian dengan pengetahuan yang terhunjam di dalam akal dan hati kalian niscaya tidak mungkin bagi kalian dilalaikan oleh bermegah-megah  mengejar dunia ini. Justru kalian akan berlomba-lomba dalam beramal shaleh, namun karena kalian tidak mengetahui dengan pengetahuan yang sebenarnya akhirnya kalian terjerumus ke dalam keadaan kalian sekarang ini.
        Firman Allah swt:

6.  Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 7.  Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.
Ini adalah sumpah dari Allah Ta’ala bahwa para hambaNya baik yang beriman dan yang kafir akan menyaksikan api neraka dengan mata kepala mereka sendiri, kemudian Allah mempertegas realitas tersebut dengan menyatakan berita tersebut ril dan mesti terjadi, dan mereka akan melihat neraka dengan sebenarnya sehingga saat itulah mereka benar-benar yakin dengannya dan tidak meragukannya lagi.Akan tetapi Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman dari kepdihan siksanya dan Allah swt menjadikan orang-orng beriman melihat neraka tersebut agar mereka mengetahui karunia Allah yang telah menyelamatkan mereka dari azab nereaka. Allah swt berfirman:

71.  Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. 72.  Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. QS. Maryam: 71-72
          Kemudian firman Allah yang mengatakan:

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Maksudnya adalah Allah akan bertanya kepada kalian pada hari kiamat tentang nikmat-nikmat yang telah dikaruniakannya kepada  kalian, seperti rasa aman, kesehatan, diberikan pendengaran dan penglihatan serta afiat dan apa yang makan oleh manusia juaga apa yang diminumnya, apakah kalian telah mensyukurinya dan menunaikan hak Allah padanya, dan tidak menjadikan kenimatan tersebut sebagai sarana untuk bermaksiat kepada  Allah atau kalian  terpedaya dengan nikmat tersebut dan tidak mensyukurinya sehingga Allah mengazab kalian dengannya.
Dari Abu Hurairah ra berkata: suatu hari atau suatu malam Rasulullah saw keluar menuju suatu tempat, dan tiba-tiba beliau bertemu dengan  Abu Bakr dan Umar, lalu beliau bertanya: Apakah yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian pada saat seperti ini. Mereka berdua menjawab: Kami keluar karena lapar wahai Rasulullah. Maka Rasulullah saw bersabda: Demi yang jiwaku berada di tanganNya sesungguhnya aku keluar dengan sesuatu yang menyebabkan kalian keluar dari rumah kalian berdua, marilah pergi bersamaku. Maka merekapun bangkit  pergi bersama Rasulullah saw lalu mendatangi rumah seorang dari kaum Anshor, namun dia tidak berada di dalam rumahnya, lalu pada saat istrinya melihat kedatangan Nabi saw bersama shahabatanya dia berkata:  Selamat datang, maka Rasulullah saw berkata kepadanya: Di manakah si fulan?. “Dia pergi mencarikan kita air bersih”. Kata sang istri. Tiba-tiba shahabat dari suku Anshor yang ditunggu-tunngu itupaun datang, lalu dia melihat Rasulullah saw dan kedua shahabat beliau sedang bertamu di rumahnyalalu dia berkata: “Al-Hamdulullah, pada hari ini tidak seorangpun yang mendapatkan tamu yang lebih mulia dari tamuku. Perawai berkata: Maka diapun datang membawakan untuk mereka setangkai kurma yang di dalamnya terdapat kurma yang matang dan ada yang muda. Lalu shahabat Anshor tadi menawarkan:  Makanlah ini, lalu tuan rumah itu mengambil pisau (untuk menyembelih kambing). Maka Rasulullah saw bersabda: “Berikanlah kita kambing yang sudah tidak diperah susunya”. Maka dia menyemblih kambing tersebut  dan merekapun makan dagingnya, kemudian mereka minum, pada saat mereka sudah kenyang dan dahaga telah hilang, maka Rasulullah saw berkata kepada  Abu Bakr dan Umar ra: Demi yang jiwaku berada di tanganNya, kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat. Kalian keluar dari rumah kalian dalam keadaan lapar lalu setelahnya kalian tidak pulang kembali kecuali setelah mendapatkan nikmat ini”.[6]
Imam Nawawi berkata saat menjelaskan haidts ini: Pertanyaan tentang nikmat di sini maksudnya adalah pertanyaan yang bersifat penghitungan terhadap nikmat dan pemberitahuan akan besarnya karunia, menampakkan sifat kedermawanan dan sempurnanya pemberian Allah, bukan pertanyaan untuk mencela, mengecam dan menghisab.[7]
Adapun terhadap orang-orang kafir maka pertanyaan tersebut sebagai  celaan, kecaman dan penghitungan nikmat Allah atas mereka. Dari Abi Barzah Al Aslami ra bahwa Nabi saw bersabda: Tidak akan melangkah kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia akan ditanya tentang umurnya pada apakah dia habiskan, tentang ilmunya apakah yang diperbuatnya dengan ilmu tersebut, tentang hartanya dari manakah dia dapatakan dan kemanakah disalurkan dan tentang badannya pada apakah dipergunakan”.[8]
Dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala akan berkata kepada hambaNya pada hari kiamat: Tidakkah aku telah memuliakanmu dan menjadikanmu sebagai peminpin atas orang lain?, tidakkah Aku menikahkanmu dan menundukkan bagimu kuda dan onta sebagai fasilitas hidup dan membiarkanmu hidup sebagai peminpin dan memanfaatkan segala fasilitas hisup”. Maka hamba tersebut mengatakan: Benar!, lalu Allah kembali bertanya kepadanya: Apakah engkau pernah berpikir bahwa engkau akan menghadap kepada diriKu  ?. Hambd tersebut menjawab; Tidak!, Maka Allah kembali bertanya kepadanya: Sungguh Aku melupaknmu sebagaimana engkau melupakan Aku”.[9]
Dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya perkara pertama yang akan dihisab oleh Allah terhadap seorang hamba, yaitu dia akan ditanya tidakkah aku telah menjadikan badamu sehat dan menjadikan kamu kenyang dengan air yang dingin”.[10]
Ibnul Qoyyim berkata: Sungguh dia adalah surat Al-Qu’an yang sangat agung, nasehat dan peringatan yang sangat tepat, kalimat yang yang terdapat dalam kalam tersebut sangat kuat dalam mengarahkan seseorang untuk beroreantasi akherat dan hidup zuhud di dunia dengan kalimat yang begitu singkat, lafaz yang lugas dan susunan kalam yang indah. Sungguh Maka Tinggi Zat yang berbicara dengan kalam tersebut dan RasulNya telah menyampaikannya sebagai wahyu”.[11]


[1] QS. Al-Takatsur: 1-8
[2] Tafsir Ibnu Katsir: 4/44
[3] Shahih Muslim: 4/2273 no: 2958
[4] Tafsir Ibnul Qoyyim: halaman: 513
[5] Tafsir Ibnul Qoyyim: halaman: 515
[6] Shahih Muslim: 3/1609 no: 2938
[7] Syarhun Nawawi: 5/214
[8] Sunan Turmudzi: 4/612 no: 2416 dan dia berkata: hadits hasan shahih.
[9] Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya: 4/2279 no: 2968
[10] Mustadrokul hakim: 4/154 no:7203 dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab silsilah ash-shihah: 2/76 no:539
[11] Al-Tafsir al-Qoyyim: halaman: 523
Poskan Komentar