Senin, 19 Januari 2015

Menghormati dan Menghargai Ulama



Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوْقِرْ كَبِيْرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ))
[ أخرجه أحمد والترمذي ]
Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dari kami dan tidak menghormati yang tua dari kami, tidak menyuruh yang ma’ruf dan tidak mencegah dari perbuatan munkar, serta tidak mengenal hak orang yang alim (ulama) dari kami.’[1]
Sesungguhnya membesarkan, menghormati dan menghargai ulama termasuk bagian dari sunnah.Thawus bin Kaisan rahimahullah berkata: ‘Menghormati empat orang ini termasuk sunnah: ulama, orang tua, penguasa/pemerintah, dan orang tua.’[2]Bahkan membesarkan ulama karena ilmunya dan karena al-Qur`an yang dihapalnya merupakan pengagungan terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam riwayat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللهِ تَعَالَي: إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرَ الْغَالِي فِيْهِ وَلاَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ)) [ أخرجه أبو داود ]
Termasuk mengagungkan Allah Subhanahu wa ta’ala: menghormati muslim yang sudah tua, menghormati penghapal al-Qur`an yang tidak berlebihan padanya dan tidak kurang, dan menghormati pemerintah yang adil.[3]

Sungguh para salafus shalih dari umat ini sangat menghormati para ulama mereka dan beradab yang baik bersama mereka. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu –padahal kedudukannya sudah tinggi- memegang tali tunggangan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: ‘Seperti inilah kami disuruh melakukan terhadap para ulama dan pembesar kami.’[4]
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bercerita: ‘Aku menghadapi masalah dan mencari-cari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka sungguh aku mendatangi seorang laki laki karena suatu hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sampai berita kepadaku bahwa ia pernah mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ternyata aku menemukannya sedang tidur qailulalh (di pagi, siang hari), maka aku memakai selendangku di depan pintu rumahnya, angin bertiup di wajahku sampai ia keluar.
Ketika keluar, ia berkata: ‘Wahai anak paman (sepupu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada apa denganmu? Aku berkata: ‘Sampai berita kepadaku bahwa engkau menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku ingin mendengarkan langsung darimu.’ Ia berkata: ‘Kenapa engkau tidak mengutus seseorang kepadaku hingga aku datang kepadamu.’ Aku berkata: ‘Saya lebih pantas untuk datang kepadamu.’[5]
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata kepada Khalaf al-Ahmar: ‘Aku tidak duduk kecuali di hadapanmu, kami disuruh untuk tawadhu terhadap orang yang kami belajar darinya.’[6]Ketika Imam Muslim bin Hajjaj rahimahullah datang kepada imam al-Bukhari rahimahullah dan mencium di antara kedua matanya, ia berkata: ‘Biarkan saya hingga mencium kedua kakimu wahai guru para guru dan pemimpin pada ahli hadits serta dokter dalam bidang hadits tentang ‘ilallnya...’[7]
Sungguhnya termasuk kesempurnaan penghormatan para salaf termasuk para ulama mereka, bahwa mereka merasakan wibawa mereka. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Aku menahan diri dua tahun ingin bertanya kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu tentang suatu hadits, tidak ada yang menghalangiku menanyakannya kecuali karena wibawanya.’[8]
Sungguhnya para ulama sudah banyak yang membicarakan  tentang tata cara bergaul (berinteraksi) bersama ulama dalam majelisnya, metode berbicara bersamanya yang disebutkan secara panjang lebar dalam kitab ‘Adabul ‘Alim wal Muta’allim’, dan termasuk paling mencakup yang diriwayatkan dalam hal itu adalah yang diucapkan oleh Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu:
‘Sesungguhnya di antara hak ulama adalah engkau jangan banyak bertanya kepadanya, janganlah engkau membantahnya dalam jawaban, janganlah engkau terus menerus bertanya apabila ia malas, janganlah engkau memegang pakaiannya apabila ia bangkit, janganlah engkau membuka rahasianya, jangan menggunjing seseorang di sisinya, jika ia keliru engkau harus menerima/memaafkan kekeliruannya. Engkau harus menghormati dan mengagungkannya karena Allah Subhanahu wa ta’ala selama dia menjaga perintah Allah Subhanahu wa ta’ala, dan jika ia membutuhkan sesuatu hendaklah engkau cepat-cepat mendahului yang lain.’[9]
Dan ia berkata: ‘Di antara hak ulama terhadapmu adalah: apabila engkau mendatanginya, hendaklah engkau memberi salam kepadanya secara khusus dan terhadap yang lain secara umum, duduk di hadapannya, jangan menunjuk di hadapannya, janganlah menggerakkan kedua matamu, janganlah engkau mengatakan ‘Fulan mengatakan pendapat yang berbeda dengan pendapatmu’, janganlah engkau memegang bajunya, janganlah engkau terus menerus bertanya kepadanya, maka sesungguhnya dia seperti kedudukan pohon kurma yang basah dan senantiasa terus berjatuhan sesuatu untukmu darinya.’[10]


[1]HR. Ahmad 1/257, at-Tirmidzi 1986, dan Ibnu Hibban 1913.
[2]Disebutkan oleh al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 13/43.
[3]HR. Abu Daud 4843.
[4]Al-Hakim 3/423, Ibnu Abdil Barr 1/228, al-Khathib ‘al-Jami’ li Akhlaq ar rawi...1/189.
[5]Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/81.
[6]Lihat Ibnu Jama’ah dalam Tadzkirah as Sami’ wal Mutakallim’ hal. 88.
[7]Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah 11/340.
[8]Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/112
[9]Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/129
[10]Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/146.
Poskan Komentar