Senin, 30 Maret 2015

MUHAMMAD SAW



MUHAMMAD SAW

. Nasab dan pertumbuhannya:
          Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Dilahirkan di Mekkah pada tahun gajah, bertepatan tahun 570 M. Bapaknya Abdullah meninggal dunia sedangkan beliau masih berada di perut ibunya. Tatkala dilahirkan beliau dipelihara oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Ibunya meninggal dunia, beliau baru berusia enam tahun. Tatkala kakeknya meninggal dunia, beliau dipelihara oleh pamannya, Abu Thalib.
          Beliau SAW hidup dengan akhlak yang agung, perilaku yang baik. Sehingga kaumnya memberi gelar al-Amin kepadanya. Di usia empat puluh tahun, Muhammad menjadi Nabi SAW, tatkala datang al-Haqq kepadanya ketika sedang berada di gua Hira.
          Kemudian beliau mulai berdakwah untuk beriman kepada Allah SWT dan rasul-Nya, hanya menyembah Allah SWT saja. Lalu beliau menerima berbagai macam gangguan. Beliau tetap sabar hingga Allah SWT menampakkan agama-Nya. Beliau hijrah ke Madinah. Lalu disyari'atkan segala hukum, kemudian Islam menjadi mulia dan agama menjadi sempurna.
          Beliau SAW meninggal dunia pada hari Senin di bulan Rabi'ul Awal tahun ke sebelas Hijriyah, ketika berumur 63 tahun. Bertemu dengan ar-Rafiq al-A'laa (Allah SWT) setelah beliau SAW menyampaikan risalah dengan jelas, menunjukkan kepada umat atas segala kebaikan dan memberi peringatan dari segala kejahatan. Semoga sholawat dan salam tetap terlimpah pada beliau.

. Keistimewaan-keistimewaan beliau r:
          Di antara keistimewaan Nabi SAW bahwa beliau adalah penutup para nabi, pemimpin para rasul dan imam orang-orang yang bertaqwa. Risalahnya berlaku umum kepada bangsa jin dan manusia. Allah SWT mengutusnya sebagai rahmat bagi semesta alam. Beliau diperjalankan ke Baitul Maqdis. Dinaikkan ke atas langit. Allah SWT memanggilnya dengan sifat nubuwah (kenabian) dan risalah.
          Dari Jabir r.a, bahwa Nabi SAW bersabda, "Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seseorang sebelum aku: Aku diberi pertolongan dengan takutnya (musuh) dari jarak perjalanan satu bulan. Bumi dijadikan bagiku sebagai masjid dan alat bersuci. Siapapun juga dari umatku yang bertemu waktu shalat maka hendaklah ia shalat. Dihalalkan harta ganimah untukku dan tidak dihalalkan kepada seseorang sebelumku. Aku diberi syafaat. Seorang Nabi hanya diutus kepada kaumnya saja dan aku diutus kepada semua manusia. "Muttafaqun 'alaih.[1]
          Di antara keistimewaan beliau tetapi tidak bagi umatnya adalah: menyambung puasa, nikah tanpa mahar, nikah lebih dari empat orang istri, tidak memakan harta sedekah, dia mendengar apa yang tidak didengar manusia, dan melihat apa yang tidak bisa dilihat manusia, sebagaimana beliau melihat Jibril a.s menurut bentuk yang Allah SWT ciptakan atasnya, dan beliau tidak diwaris.

. Permulaan wahyu kepada Nabi SAW:
          Dari 'Aisyah r.a, ia berkata, "Pertama-tama yang dimulai Rasulullah SAW dari wahyu adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Maka tidak pernah beliau melihat mimpi kecuali ia datang seperti fajar yang menyingsing. Kemudian ia dijadikan suka kepada menyendiri (berkhulwat). Beliau menyendiri di gua Hira. Beliau SAW beribadah di dalamnya selama beberapa malam yang berbilang sebelum kembali kepada keluarganya, dan mengambil bekal untuk hal itu. Kemudian beliau SAW kembali kepada Khadijah r.a, lalu mengambil bekal lagi. Sampai datang kepada beliau al-Haqq, dan beliau sedang berada di gua Hira. Malaikat datang kepadanya seraya berkata, 'Bacalah?' Beliau SAW menjawab, 'Aku tidak bisa membaca.' Beliau SAW bersabda, 'Lalu ia mengambilku, memelukku hingga aku merasa payah. Kemudian ia melepasku seraya berkata, 'Bacalah!' Aku menjawab, 'Aku tidak bisa membaca.' Lalu ia mengambilku, memelukku yang kedua kali hingga aku merasa payah. Kemudian ia melepasku seraya berkata, 'Bacalah!' Aku menjawab, 'Aku tidak bisa membaca.' Maka ia mengambilku, lalu memelukku yang ketiga kalinya. Kemudian ia melepasku seraya berkata,
﴿ ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ﴾ [العلق: ١،  ٣] 
Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, * Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. * Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, (QS. Al-'Alaq:1-3)

Lalu Rasulullah SAW pulang seraya gemetar. Lalu ia masuk kepada Khadijah binti Khuwailid r.a seraya berkata, 'Selimuti aku, selimuti aku'. Maka, mereka menyelimutinya sampai hilang rasa takut darinya. Beliau berkata kepada Khadijah r.a dan menceritakan semuanya: 'Sungguh aku merasa khawatir terhadap diriku. Khadijah r.a berkata, 'Sama sekali tidak. Demi Allah SWT, Allah tidak akan menghinakanmu. Sesungguhnya engkau menyambung silaturrahim, memikul yang kesusahan, memberi orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan menolong di atas kebenaran.
          Lalu pergilah Khadijah r.a bersamanya hingga membawanya kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah (saudara sepupu). Dia adalah seorang yang beragama Nashrani di masa jahiliyah. Dia pandai menulis kitab berbahasa Ibrani. Dia menulis dari Injil dengan bahasa Ibrani, apa yang Allah SWT kehendaki. Dia seorang tua renta yang telah buta. Khadijah r.a berkata kepadanya, 'Hai anak pamanku, dengarlah dari anak saudaramu.' Waraqah berkata kepadanya, 'Hai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?' lalu Rasulullah SAW menceritakan kepadanya apa yang dilihatnya.
          Waraqah berkata kepadanya. 'Ini adalah an-Namus (Jibril a.s) yang telah Allah SWT turunkan kepada Musa a.s. Andaikan aku masih muda pada saat itu. Andaikan aku masih hidup saat kaummu mengusirmu.' Rasulullah SAW bertanya, 'Apakah mereka akan mengusirku?' Ia menjawab, 'Benar, tidak ada seseorang yang datang membawa seperti yang engkau bawa kecuali dimusuhi. Jika aku masih hidup sampai saat itu, niscaya aku membelamu dengan pembelaan yang kuat.' Kemudian tidak berapa lama, Waraqah meninggal dunia dan terhenti wahyu.' Muttafaqun 'alaih.[2]

. Istri-istri beliau SAW:
Ummahatul Mu'minin (Ibu-ibu kaum mukminin) adalah istri-istri Rasulullah SAW di dunia dan akhirat. Semuanya adalah muslimah, baik, bersih, suci, bebas dari keburukan yang mencemari kehormatan mereka. Mereka adalah:
Khadijah binti Khuwailid, 'Aisyah binti Abu Bakar, Saudah binti Zam'ah, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah binti al-Harits, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anhunna ajma’in (semoga Allah meridhai mereka semuanya).
Yang meninggal sebelum Rasulullah SAW dari mereka adalah Khadijah binti Khuwailid dan Zainab binti Khuzaimah dan yang lainnya meninggal setelah Rasulullah SAW.
Istri-istrinya yang paling utama adalah Khadijah r.a dan 'Aisyah r.a.

. Anak-anak Rasulullah SAW:
1, Rasulullah SAW mempunyai tiga orang anak laki-laki: al-Qasim dan Abdullah dari Khadijah, serta Ibrahim dari jariyahnya Mariyah al-Qibthiyah. Semuanya meninggal dunia saat masih kecil.
2, Adapun anak perempuan: Rasulullah SAW mempunyai empat orang putri: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Semuanya dilahirkan dari Khadijah. Semuanya sempat menikah dan meninggal dunia sebelum Rasulullah SAW kecuali Fathimah, ia meninggal setelah Rasulullah SAW. Semuanya adalah muslimah, baik, dan suci radhiyAllahu 'anhunn ajma’in.

. Sahabat-sahabat Rasulullah SAW:
          Sahabat-sahabat Rasulullah SAW adalah generasi terbaik. Mereka mempunyai keutamaan besar di atas semua umat. Allah SWT telah memilih mereka untuk menemani Nabi SAW-Nya. Mereka beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka berdiri membela dan menolong Allah SWT dan Rasul-Nya. Berhijrah karena agama. Memberikan tempat kediaman dan pertolongan karena agama. Berjihad fi sabilillah dengan harta dan jiwa mereka. Hingga Allah SWT ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Yang paling mulia dari mereka adalah kaum Muhajirin kemudian kaum Anshar.
          Dari Abdullah bin Mas'ud r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda, 'Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang mengiringi mereka, kemudian yang mengiringi mereka. Kemudian datang beberapa kaum yang persaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.'Muttafaqun 'alaih.[3]

. Mencintai sahabat-sahabat beliau SAW:
          Wajib kepada setiap orang muslim mencintai mereka semua dengan hati, memuji mereka dengan lisan, mendoakan rahmat atas mereka, memintakan ampun untuk mereka, menahan diri tentang pertentangan di antara mereka, dan tidak mencela mereka. Hal itu karena mereka mempunyai kebaikan dan keutamaan, ma'ruf dan ihsan, membela Allah SWT dan Rasul-Nya dengan taat dan jihad fi sabilillah, berdakwah kepada-Nya, berhijrah dan membela, mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah SWT karena mengharap ridha Allah SWT, maka Allah SWT ridha kepada mereka semua.
1, Firman Allah SWT:
﴿ وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠[التوبة: 100]
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah SWT ridha kepada mereka dan Allah SWT menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah:100)

2, Firman Allah SWT:
﴿ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقّٗاۚ لَّهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٧٤ ﴾ [الانفال: ٧٤] 
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah SWT, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia. (QS. 8:74)
3, Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, 'Rasulullah SAW bersabda, 'Janganlah kamu mencela sahabatku, janganlah kamu mencela sahabatku. Demi (Allah SWT) yang diriku berada di Tangan-Nya, jikalau sesungguhnya seseorang di antara kamu memberi nafkah emas seperti bukit Uhud (banyaknya), niscaya ia tidak bisa menyamai satu mud atau setengah mud salah seorang dari mereka." Muttafaqun 'alaih.[4]



[1]  HR. al-Bukhari no. 335 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 521.
[2]  HR. Al-Bukhari no. 3 dan ini lafazhnya, dan Muslim no 160
[3]  HR. al-Bukhari no 2652 dan ini lafazhnya, dan Muslim no. 2533.
[4]  HR. al-Bukhari no 3673 dan Muslim no. 2540 dan ini adalah lafazhnya.
Poskan Komentar