Selasa, 14 April 2015

Mutiara Nasehat Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib




Mutiara Nasehat Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib
 


Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Sesungguhnya saya di sini tidak menulis biografi Abu Hasan radhiyallahu ‘anhu, tidak pula berbicara tentang ilmu dan kedudukannya. Dia benar- benar seorang imam, amirul mukminin secara benar. Dia seorang ulama besar, di sini hanyalah sekilas tentang biografinya sebelum memulai menjelaskan tentang mutiara-mutiara nasehatnya.
Dia adalah Ali bin Abu Thalib –nama Abu Thalib adalah Abdu Manaf- bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf, Amirul Mukminin, Abu Hasan, al-Qurasyi al-Hasyimi. Dia adalah yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Dia adalah yang ke empat dari khulafaur rasyidin, salah satu dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira pasti masuk surga, sepupu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan menantunya, salah seorang pahlawan yang gagah perkasa, termasuk orator ulung dan pakar dalam qadha (pengadilan).
Bendera perang berada di tangannya dalam beberapa peperangan. Dia memegang jabatan khalifah setelah wafatnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pada tahun 35 H.
Banyak meriwayatkan hadits dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, membaca al-Qur`an di hadapanya (Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam) dan beliau membacakan al-Qur`an kepadanya. Manaqibnya sangat banyak.
Wafat sebagai syahid pada tahun 40 H. dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam al-Murady secara sembunyi dalam sebuah konspirasi pada tanggal 17 Ramadhan.
Dia adalah Ali radhiyallahu ‘anhu, mencintainya adalah iman dan membencinya adalah sifat nifaq. Dia adalah laki laki yang mencintai Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya dan Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya mencintainya.’[1]... dia adalah seorang menantu yang dekat dan anak muda yang dekat lagi tercinta.
Dia adalah anak muda yang berilmu banyak, yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam untuk tugas penting, yaitu beliau shallallahu ‘alahi wa sallam mengutusnya ke Yaman sebagai qadhi (hakim).
                      Dia adalah seorang yang ‘alim tentang al-Qur`an dan sunnah rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam, sehingga Sa’id bin Musayyab berkata: ‘Tidak ada seorang sahabat nabi pun yang berkata: ‘Bertanyalah kepadaku’, kecuali Ali bin Abu Thalib.[2] Bahkan al-Faruq –yang mengenal kedudukan seseorang- berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari permasalahan rumit yang tidak ada Abu Hasan.
Bahkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Apabila sampai suatu berita kepada kami yang dibicarakan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu berupa fatwa atau qadha, dan beritanya benar, niscaya kami tidak melewatkannya kepada yang lain.’[3]
Dalam al-Bukhari, dari Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berangkat ke Tabuk dan menggangkat Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pejabat sementara, ia berkata: ‘Apakah engkau meninggalkan aku untuk menjaga anak-anak dan wanita? Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
((أَلاَ تَرْضَى أَنْ تَكُوْنَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُوْنَ مِنْ مُوْسَى إِلاَّ أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي)) [أخرجه البخاري]
Apakah engkau tidak senang bahwa engkau  dariku seperti kedudukan Harun dari Musa ‘alaihis salam? Kecuali bahwa tidak ada nabi setelah aku.”[4]
Dialah yang ketika Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam wafat, tidak ada yang lebih darinya dari ahli bait.
Dia adalah salah seorang yang terkandung dalam wasiat nabawiyah (Aku ingatkan kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada ahli bait-ku).
Apabila disebutkan mutiara-mutiara nasehat pada sahabat, maka sesungguhnya mutiara-mutiara nasehat Amirul Mukminin Abul Hasan Ali radhiyallahu ‘anhu memiliki keistimewaan tersendiri, karena memang para khulafa yang lain lebih dulu wafatnya.
Karena alasan ini, kita bisa membicarakan lebih banyak mutiara mutiara nasehatnya.
Di antara mutiara-mutiara nasehatnya adalah:
Ucapannya dalam mutiara nasehatnya yang terkenal kepada Kumail bin Ziyad[5]:
Wahai Kumail bin Ziyad, sesungguhnya hati ini adalah seperti bejana, sebaik baiknya adalah yang dipenuhi dengan ilmu. Ingatlah dariku apa yang kukatakan kepadamu: Manusia terbagi tiga: ‘Alim Rabbani, penuntut ilmu yang belajar di atas jalan keselamatan, dan yang tidak berilmu, mengikuti tiupan angin, tidak mengambil penerangan dengan cahaya ilmu dan tidak kembali kepada pondasi yang kokoh.
Wahai Kumail bin Ziyad, ilmu lebih baik dari pada harta, ilmu menjagamu sedangkan harta engkau yang menjaganya. Harta berkurang dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu terus bertambah kalau diinfakkan.
Wahai Kumail bin Ziyad, mencintai seorang alim adalah agama yang dianut, memberi nilai ketaatan di masa hidupnya dan keindahan yang dibawa setelah wafatnya. Sedangkan manfaat harta hilang dengan hilang sang pemilik. Ilmu adalah hakim (pemerintah) dan harta adalah yang diperintah.
Wahai Kumail, wafat para pemegang harta di saat mereka masih hidup, sedangkan para ulama tetap hidup sepanjang masa, jasad mereka telah tiada sementara nama baik mereka tetap ada dalam hati.”
Saya kira, sesungguhnya jelasnya makna mutiara nasehat  tersebut tidak membutuhkan komentar lagi, namun yang perlu digarisbawahi dalam hal ini adalah bahwa dia mengumpulkan untuk muridnya di antara kenikmatan duniawi yang  diusahakan oleh semua manusia, yaitu: ilmu dan pemiliknya (ulama), harta dan kenangan yang baik. Kemudian ia menjelaskan kepadanya bagaimana tiga perkara ini kembali kepada pemiliknya dengan keuntungan di dunia sebelum akhirat.
Sebagaimana dia membuat perumpamaan yang sangat indah ketika membuat perbandingan di antara ilmu dan harta, di mana ia berkata ‘ilmu lebih baik dari harta, ilmu menjagamu sedangkan harta engkau yang menjaganya, harta berkurang kalau diberikan sementara ilmu akan terus bertambah bila diberikan.’ Dan termasuk keindahan dalam perbandingan ini adalah mudahnya ungkapan disertai dalamnya makna,  serta jelasnya hujjah secara akal sehat padanya.
Dan saksikannya perbandingan ini dalam ucapan Albiry dalam qashidahnya yang tekenal:
Perbendaharaan yang engkau tidak takut terhadap pencuri- ringan dibawa, ditemukan di manapun engkau berada.
Bertambah dengan cara terus diberikan- dan berkurang jika terus disimpan.

Dan di antara mutiara nasehatnya yang sangat indah[6]:
« حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ, أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ »

Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka bisa memahaminya, apakah kamu menyukai bahwa Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya didustakan?
Mutiara syarat makna ini merupakan taufiq kepada ulama, maka tidak semua ilmu disampaikan kepada manusia, tanpa memperhatikan kondisi waktu, tempat dan keilmuan.
Dan termasuk hal itu, menjelaskan berbagai perkara yang rumit yang tidak bisa dipahami oleh akal kalangan awam, bisa jadi karena maknanya yang sangat dalam, atau keadaannya yang sudah dinasakh, atau karena berbagai macam alasan lainnya.
Renungkanlah alasan logis yang disampaikan Ali radhiyallahu ‘anhu terhadap larangan ini, di mana dia berkata: ‘apakah kamu menyukai bahwa Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya didustakan?
Maha Suci Allah! Perhatikanlah, bagaimana keinginan seseorang untuk memberi manfaat kepada manusia dan ingin memberi faedah kepada mereka menjadi terbalik maksudnya di saat ia berbicara tentang sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh akal manusia!
Sesungguhnya pengarahan yang mulia dari Amirul Mukminin  Ali radhiyallahu ‘anhu ini diberikan kepada saudara saudara kita yang selalu memberi nasehat dan pengarahan kepada masyarakat (jama’ah pengajian), hendaknya mereka menjauhi sesuatu yang membangkitkan kagalauan atau kebingungan para pendengar di saat mendengar sebagian cerita yang aneh atau berita berita yang mengandung pengertian yang tidak bisa dipahami oleh akal kalangan awam. Yang jelas dan nyata dari al-Qur`an dan sunnah sudah cukup dan memadai.
Di antara mutiara nasehatnya yang indah: ia mengucapkan ta’ziyah kepada seseorang yang kematian anaknya[7]:
« إِنَّكَ إِنْ صَبَرْتَ جَرَى عَلَيْكَ الْقَدَرُ وَأَنْتَ مَأْجُوْرٌ, وَإِنْ جَزعْتَ جَرَى عَلَيْكَ الْقَدَرُ وأنت مأزور »
Sesungguhnya jika engkau sabar, niscaya qadar tetap terjadi padamu dan engkau mendapat pahala, dan jika engkau tidak sabar, niscaya qadar tetap terjadi padamu dan engkau berdosa.’
Alangkah indahnya ilmu dan hikmah! Kita sangat membutuhkan pemahaman seperti ini dalam pengamalan ketika terjadi musibah. Tidak ada dari kita kecuali akan diberi cobaan dengan mendapat musibah yang membuat berduka, seperti kematian orang yang dicintai, teman dan kerabat. Alangkah indahnya bila manusia menyadari makna ini.




[1] Al-Bukhari 3009 dan Muslim 2404.
[2] Fadhail Shahabah, Ahmad bin Hanbal 2/646.
[3] Al-Madkhal ila sunan kubra, al-Baihaqi, 131.
[4] Al-Bukhari 4416.
[5] Tarikh Dimisyqa, Ibnu Asakir, 50/252, Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Ilmu wa fadhlih 2/983. Ia adalah hadits masyhur menurut pada ulama, tidak membutuhkan isnad, karena sangat masyhurnya menurut mereka.
[6] Al-Bukhari 1/37
[7] At-Ta’azy karya Abu Hasan al-Madainy hal 82.
Poskan Komentar