Minggu, 08 Mei 2016

Pohon Menjadi Pena, Laut Menjadi Tinta



Pohon Menjadi Pena, Laut Menjadi Tinta 



Artinya :
Dan jika sesungguhnya pepohonan di bumi jadi pena, dan laut kemudian ditambah lagi tujuh laut (menjadi tinta), niscaya tidak akan habis (dituliskan) kalimah Allah, sesungguhNya Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.. 
Apa yang akan ditulis ini adalah aktual, tetap aktual. Yaitu mengenai kebesaran Allah. Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Allah tidak dapat dilihat dengan perangkat kasar, mata kasar. Allah hanya dapat dilihat dengan perangkat halus, mata batin. Namun kebesaran Allah, walaupun tidak dapat dilihat dengan mata kasar, alam ciptaan Allah dapat dilihat dengan mata kasar. Alam ciptaan Allah ini dapat menunjukkan kebesaran Penciptanya. Dalam Al Quran Allah membimbing manusia untuk dapat melihat kebesaran Allah, bukan sekadar yang kwalitatif, melainkan juga sampai-sampai kepada yang kwantitatif, seperti dalam S. Luqman 27 tersebut. 
Pernyataan dalam firman Allah itu sudah menyangkut yang kwantitatif. Juta-jutaan ranting pepohonan di muka bumi yang dijadikan pena. Juta-jutaan meter kubik air laut untuk tinta, ditambah lagi volume air tinta tujuh kali lipat. Pena dari pepohonan habis aus, tinta sebanyak itu akan kering, namun kalimah Allah masih tidak akan habis untuk ditulis. Seperti yang telah ditulis dalam Seri 007, untuk mengingat kembali, maka di bawah ini disajikan lagi ilustrasi berupa angka-angka itu. Karena alam semesta ini luas, maka ukuran panjang yang dipakai bukan kilometer, bukan mil, melainkan dalam detik cahaya, menit cahaya, jam cahaya, tahun cahaya. Artinya jarak yang ditempuh cahaya dalam 1 detik, dalam 1 menit, dalam 1 jam dan dalam 1 tahun. Kecepatan cahaya sekitar 300 000 kilometer per detik. Jadi 1 detik cahaya panjangnya 300 000 kilometer. Maka 1 tahun cahaya jaraknya 1 x 60 x 60 x 24 x 365 x 300 000 kilometer. Bagi yang mau tahu berapa jarak 1 tahun cahaya itu, silakan ambil kalkulator dan hitung sendiri. 
Kalau kita mulai dari bumi, benda langit terdekat adalah Hermes, sebuah bungkah batu, jaraknya 1,25 detik cahaya. Kemudian bulan, jauhnya 1,3 detik cahaya. Inilah jarak terjauh yang dapat ditempuh oleh manusia, yaitu Neil Armstrong dengan pesawat Columbia. Lalu matahari, jauhnya 8 menit cahaya. Untuk selanjutnya lebih enak mulai bertolak dari matahari sebagai pusat tata-surya. Cahaya yang dipancarkan matahari dalam 3,5 menit sampai di Utarid (Mercurius), 6 menit di Kejora (Venus), 8 menit di bumi, 12 menit di Marikh (Mars), 22 menit di planetoida. Adapun planetoida ini adalah bungkah-bungkah batu, diduga sebuah planet yang hancur berantakan. Selanjutnya dalam 40 menit tiba di Mustari (Jupiter), 76 menit di Zohal (Saturnus), 2,6 jam di Uranus, 4 jam di Neptunus dan 5,5 jam di Pluto. Maka Benda-benda langit satelit matahari yang mengorbit matahari di luar jalur bumi mengorbit matahari sebanyak 7 buah, yaitu 1.Marikh, 2.planetoida, 3.Mustari, 4.Zohal, 5.Uranus, 6.Neptunus, 7.Pluto. Sebelum didapatkannya teropong bintang, planetoida dan ketiga bintang yang paling luar belum diketahui, sehingga tidak mempunyai nama-nama yang lama, jadi baru ada 3 planet yang dikenal di luar bumi. Maka coba dibayangkan betapa kecilnya bumi, begitu secuilnya pepohonan dan lautan di bumi. 
Jangan dikira matahari itu yang paling besar di alam ciptaan Allah ini. Matahari hanya termasuk bilangan bintang yang normal, baik panas maupun besarnya. Matahari itu tergolong dalam bintang yang disebut bintang tetap. Predikat tetap ini diberikan terhadap bintang-bintang yang jika dilihat dari bumi jaraknya tetap antara satu dengan yang lain pada bola langit. Adapun yang disebut bola langit ini adalah apa yang kita lihat dari bumi, jika menengadah. Akan kelihatanlah di atas kita sebuah bundaran setengah bola berwarna biru. Sebenarnya bulatan setengah bola itu tidak ada. Dan warna biru adalah warna atmosfer bumi. Jika di bulan yang tidak ada atmosfernya, langit kelihatan hitam. Jadi Neil Armstrong melihat langit di atasnya berwarna hitam. Demikian pula para astronaut di dalam kendaraan angkasanya melihat langit hitam. 
Kembali kita kepada matahari sebagai bintang tetap, yang tergolong normal itu. Ada golongan bintang tetap yang disebut raksasa. Antara lain seperti Raksasa Betelgeuse. Diameternya sekitar 2 kali lingkaran yang dibentuk oleh lintasan bumi. Seperti dijelaskan di atas jarak matahari - bumi 8 meit cahaya. Jadi diameter lintasan bumi 2 x 8 = 16 menit cahaya. Artinya diameter Raksasa Betelgeuze 2 x 16 = 32 menit cahaya. Ada pula yang lebih besar, yaitu Raksasa Razalgethi, diameternya sekitar 4 kali Betelgeuze, jadi 4 x 32 = 128 menit cahaya, jadi sekitar 2 jam cahaya. Masih ada yang lebih besar, Raksasa Epsilon Aurigae, diameternya sekitar 2 kali Razalgethi, jadi 2 x 2 = 4 jam cahaya. 
Bintang tetap yang terdekat dari tata-tata surya adalah Alpha Centaury. Jauhnya 4,3 tahun cahaya. Matahari, Alpha Centaury dan raksasa-raksa tersebut tadi hanyalah merupakan secuil bintang dari jutaan bintang yang membentuk gugus yang disebut sistem galaxy Milky Way. Milky Way, Andromeda, sebuah galaxy yang juga berbentuk spiral terbuka, 6 galaxy berbentuk elipsoida, 4 galaxy yang tidak begitu teratur bentuknya, ke 13 galaxy itu membentuk gugus yang lebih besar yang disebut gugus supergalaxy atau cluster. Supergalaxy yang beranggotakan 13 galaxy ini diberi bernama Local Group. Adapun Local Group ini hanya termasuk supergalaxy yang kecil. Ada supergalaxy yang beranggotakan sampai ribuan galaxy. Jarak di antara supergalaxy sekitar 2 000 000 tahun cahaya. Jumlah supergalaxy yang dapat ditangkap telescoop sekitar 100 000 000 buuah. Jumlah yang sebenarnya? WaLlahu a'lam, hanya Allah Yang tahu. Jarak yang terjauh yang dalam batas daya tangkap telescoop adalah 1 milyar tahun cahaya. Maka betapa secuil-cuilnya pepohohonan menjadi pena lautan menjadi tinta dari bumi yang teramat sangat kecilnya itu. Lalu manusia sendiri tentu lebih secuil-cuil pula. Apa manusia mau lupa diri? Sombong dengan ilmunya? Sombong dengan Ipteknya? Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lilLaahi lhamd. WaLlahu a'lamu bishshawab.
Poskan Komentar