Jumat, 28 Juli 2017

IMAN

IMAN
Allah ta’ala telah mewajibkan atas seorang muslim -selain beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya serta rukun-rukun Islam- beriman kepada malaikat-malaikat-Nya [1], kitab-kitab-Nya [2] yang Dia turunkan kepada para Rasul yang Dia tutup dengan Al Qur’an.
Dengan Al Qur’an Allah telah menghapus kitab-kitab sebelumnya dan menjadikan Al Qur’an sebagai pemelihara semua kitab-kitab tersebut.
Juga mewajibkan beriman kepada para utusan Allah dari yang pertama hingga paling akhir, yaitu: Muhammad r sebab risalah (misi) mereka satu dan agama mereka satu, yaitu: Islam. Dan yang mengutus merekapun satu, yaitu: Allah Rabb semesta alam. Seorang muslim wajib beriman kepada para Rasul yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an sebagai rasul-rasul Allah kepada umat-umat dahulu. Dan wajib beriman kepada Muhammad sebagai penutup para rasul sekaligus utusan Allah kepada seluruh manusia dan manusia setelah diutus beliau adalah umatnya termasuk orang Yahudi, Nasrani dan pemeluk agama-agama yang lain. Karena semua orang yang ada di muka bumi merupakan umat Muhammad yang mendapatkan keharusan dari Allah untuk mengikutinya.
Musa, Isa dan seluruh para rasul berlepas diri dari siapa saja yang tidak mau mengikuti Muhammad dan tidak mau masuk Islam. Karena seorang muslim mengimani seluruh rasul dan mengikuti ajaran  mereka. Dan siapa yang tidak beriman kepada Muhammad dan tidak mau mengikutinya serta tidak mau masuk Islam berarti ia kafir terhadap seluruh rasul dan mendustakan mereka kendati ia mengaku pengikut salah seorang dari rasul-rasul itu.
Dalil-dalil dari firman Allah mengenai hal itu telah disebutkan pada bab dua. Rasul r bersabda dalam haditsnya :
(( وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ أَوْ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ )) رواه مسلم.
Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya tidak ada seorangpun  dari umat ini baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku  bawa, melainkan ia adalah penghuni neraka.” (HR. Muslim).
Selain itu seorang muslim wajib beriman akan adanya kebangkitan setelah mati, hisab (penghitungan amal), pembalasan, surga dan neraka. Demikian pula ia wajib beriman kepada takdir Allah ta’ala.

Makna iman kepada takdir :
Seorang muslim meyakini bahwa Allah ta’ala telah mengetahui segala sesuatu dan mengetahui semua perbuatan hamba sebelum diciptakan-Nya langit dan bumi. Lalu Allah menulis ilmu itu di Lauh mahfudz di sisi-Nya.
Seorang muslim sadar bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Ia sadar bahwa Allah ta’ala menciptakan hamba dalam rangka mentaati-Nya dan telah Allah terangkan hal itu kepada mereka. Allah perintahkan hal itu kepada mereka dan melarang mereka bermaksiat kepada-Nya. Allah juga  menerangkan kepada mereka bahwa Dia telah menciptakan bagi mereka qudrah (kemampuan) dan masyi`ah (kehendak) yang menjadikan mereka mampu untuk menjalankan perintah-perintah Allah sehingga mereka memperoleh pahala sekaligus mampu berbuat maksiat sehingga mereka berhak mendapat siksa.
Masyi`ah (kehendak) hamba mengikut masyi`ah (kehendak) Allah ta’ala. Adapun takdir yang Allah tidak ciptakan bagi hamba-Nya kehendak dan ikhtiyar (kemauan sendiri) dalam takdir tersebut namun Allah memberlakukannya kepada hamba kendati ada iradah (kemauan) dari mereka, seperti; kesalahan tak sengaja, lupa dan pekerjaan yang terpaksa dilakukan, juga seperti; kefaqiran, sakit dan musibah dan sebagainya,  maka Allah tidak akan menghisab ataupun menjatuhkan hukuman kepada manusia terhadap hal itu. Bahkan Allah memberinya ganjaran dengan pahala yang besar atas musibah yang menimpa, kefaqiran dan sakit jika ia sabar dan ridha dengan takdir Allah. Semua yang telah diterangkan ini wajib bagi seorang muslim mengimaninya.
Kaum muslimin yang paling besar keimanannya kepada Allah, paling dekat kepada-Nya serta paling tinggi derajatnya di surga adalah muhsinin (orang-orang yang berbuat ihsan/kebajikan), yaitu mereka yang beribadah kepada Allah, mengagungkan-Nya serta khusyu’ di hadapan-Nya seakan-akan mereka melihat-Nya. Mereka tidak bermaksiat kepada Allah baik ketika sendirian maupun dalam keramaian. Mereka meyakini bahwa Allah melihat mereka dimanapun mereka berada dan tidak ada sedikitpun dari perbuatan, perkataan dan niat mereka yang tersembunyi dari Allah. Sehingga mereka mentaati perintah-Nya dan meninggalkan maksiat kepada-Nya. Jika suatu dosa dilakukan, maka ia segera bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh, menyesali kesalahannya lalu meminta ampun kepada Allah dan tidak mengulanginya kembali.
Allah ta’ala berfirman :
 “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan).” (QS. An nahl : 128).



[1] Malaikat adalah arwah yang dicaptakan Allah dari cahaya, jumlah mereka sangat banyak tidak terhitung, diantara mereka ada yang tinggal di langit dan ada yang di bumi.
[2] Seorang muslim mempercayai bahwa semua kitab yang diturunkan Allah kepada para Rasul adalah benar, dan tidak ada yang masih asli kecuali Al quran, adapun Taurat dan Injil yang sekarang berada di tangan orang Yahudi dan Nasrani adalah karangan para pendeta mereka, buktinya: satu sama lain saling berbeda, juga terdapat di dalamnya tentang trinitas, padahal Tuhan hanya satu, dan Isa mereka katakan anak Tuhan, padahal dia hanya seorang hamba dan Rasul, sekalipun masih ada yang benar akan tetapi telah dihapus dengan turunnya Al quran, Nabi r pernah melihat Taurat di tangan Umar, maka beliau marah seraya bersabda," Apakah engkau meragukan syariatku? Demi Allah! andai saja saudaraku Musa masih hidup, dia wajib mengikuti syariatku, lalu Umar melemparkan Taurat tersebut dan berkata,"mintakanlah ampun untukku, wahai Rasulullah!              
Posting Komentar