Antara Doa di Saat Sulit dan Kelalaian di Saat Lapang

“Antara Doa di Saat Sulit dan Kelalaian di Saat Lapang”

Tafsir Al-An‘ām 41–60


🟢 BAGIAN 1

Manusia Hanya Ingat Allah Saat Terjepit

(Al-An‘ām: 41)

📖 AYAT

بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ

“Bahkan hanya kepada-Nyalah kamu berdoa, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya jika Dia menghendaki, dan kamu melupakan apa yang dahulu kamu sekutukan.”
(QS. Al-An‘ām: 41)

🧠 PENJELASAN (TAFSIR & RENUNGAN)

  • Imam Jalalain:
    Ayat ini menyingkap fitrah manusia:
    👉 saat terdesak, tauhidnya murni
    👉 saat lapang, syirik halus kembali

  • Imam Ibn Katsir:

    “Inilah hujjah Allah atas manusia, bahwa dalam kesempitan mereka ikhlas bertauhid.”

📜 HADIS PENGUAT

عَرَفْتَ اللَّهَ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah mengenalimu di waktu sempit.”
(HR. Tirmidzi – hasan sahih)

🎯 POIN CERAMAH

  • Saat sakit → masjid penuh
  • Saat bangkrut → doa mengalir
  • Saat sehat → lalai
  • Saat kaya → lupa

👉 Pertanyaan mimbar:

“Apakah Allah hanya Tuhan saat kita terjepit?”


🔴 BAGIAN 2

Musibah Adalah Pintu Taubat, Bukan Sekadar Hukuman

(Al-An‘ām: 42–43)

📖 AYAT

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ… لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“Sungguh Kami telah mengutus rasul kepada umat-umat sebelum kamu, lalu Kami timpakan kesengsaraan dan penderitaan agar mereka merendahkan diri.”

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُم بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا…

“Mengapa mereka tidak merendahkan diri ketika azab Kami datang, tetapi hati mereka telah keras.”

🧠 ULASAN ULAMA

  • Al-Qurthubi:

    “Musibah adalah obat, tapi tidak semua pasien mau meminumnya.”

  • Ibnu Taimiyah:

    “Dosa melahirkan kerasnya hati, dan kerasnya hati menghalangi taubat.”

📜 HADIS

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا ابْتَلَاهُ

“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia mengujinya.”
(HR. Bukhari)

🎯 RENUNGAN

  • Musibah ≠ tanda Allah benci
  • Bisa jadi alarm sebelum hukuman lebih besar

⚫ BAGIAN 3

Istidraj: Nikmat yang Menipu

(Al-An‘ām: 44–45)

📖 AYAT

فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَىْءٍ… أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً

“Kami bukakan semua pintu kenikmatan, hingga ketika mereka bergembira, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.”

🧠 KOMENTAR ULAMA

  • Hasan Al-Bashri:

    “Mereka tertipu oleh karunia, padahal itu tali yang menarik ke neraka.”

📜 HADIS

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika Allah memberi nikmat kepada hamba yang terus bermaksiat, itu istidraj.”
(HR. Ahmad)


🟡 BAGIAN 4

Pendengaran, Penglihatan, dan Hati Bisa Dicabut

(Al-An‘ām: 46–47)

📖 AYAT

إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ…

“Jika Allah mencabut pendengaran, penglihatan, dan mengunci hatimu, siapa yang bisa mengembalikannya selain Allah?”

🎯 INTI

  • Iman bukan milik permanen
  • Bisa dicabut jika disia-siakan

🟢 BAGIAN 5

Islam Datang Membawa Harapan

(Al-An‘ām: 48–54)

📖 AYAT PUNCAK RAHMAT

كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

“Tuhanmu telah menetapkan kasih sayang atas diri-Nya.”

🧠 KOMENTAR IMAM NAWAWI

“Ayat ini adalah ayat paling luas tentang harapan bagi pendosa.”

📜 HADIS

لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ

“Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya daripada orang yang menemukan kembali hartanya.”
(HR. Muslim)


🔵 BAGIAN 6

Ilmu Allah Meliputi Segalanya

(Al-An‘ām: 59–60)

📖 AYAT

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ…

“Pada sisi Allah kunci-kunci yang gaib…”

🧠 RENUNGAN PENUTUP

  • Tak ada daun gugur tanpa izin-Nya
  • Tak ada dosa tersembunyi dari-Nya
  • Tak ada taubat yang tak diketahui-Nya

🧭 PENUTUP MIMBAR (RINGKAS)

Jika sulit → ingat Allah
Jika lapang → tetap taat
Jika berdosa → segera taubat



Tidak ada komentar