BERDZIKIR DALAM SETIAP KEADAAN
BERDZIKIR DALAM SETIAP KEADAAN
Ngaji Irsyādul ‘Ibād – Gaya Pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah
Mukadimah
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan dzikir sebagai kehidupan bagi hati-hati orang beriman.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin jamaah rahimakumullāh, semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT.
Pendahuluan: Hakikat Dzikir dalam Kehidupan Muslim
Dalam tradisi pesantren dan amaliyah warga Nahdlatul Ulama, dzikir bukanlah perkara asing. Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, kehidupan seorang Muslim selalu diiringi dengan dzikir kepada Allah SWT.
Namun melalui kitab Irsyādul ‘Ibād, para ulama mengingatkan kepada kita bahwa dzikir tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu, melainkan menyertai seluruh keadaan hidup seorang hamba.
Dalil Al-Qur’an: Dzikir Sepanjang Waktu
Allah Ta‘ālā berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
Artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, maupun dalam keadaan berbaring.”
(QS. Ali ‘Imran: 190–191)
Penjelasan Ulama
Qatādah rahimahullāh berkata:
“Beginilah keadaan manusia. Jika mampu berdzikir sambil berdiri maka berdzikirlah. Jika tidak mampu, berdzikirlah sambil duduk. Jika tidak mampu, maka sambil berbaring. Inilah kemudahan dan rahmat dari Allah.”
Ayat ini menunjukkan bahwa dzikir tidak memberatkan, justru menjadi sarana kedekatan hamba dengan Allah dalam segala kondisi.
Teladan Rasulullah ﷺ dalam Berdzikir
Dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ أَحْيَانِهِ
Artinya:
“Rasulullah ﷺ selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya.”
(HR. Muslim)
Keterangan Imam An-Nawawi
Imam An-Nawawi rahimahullāh menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar bolehnya dzikir dalam segala keadaan, baik saat suci maupun berhadats, kecuali tilawah Al-Qur’an bagi orang yang junub.
Dzikir Harus Berdasarkan Tuntunan
Hadirin rahimakumullāh,
Dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama‘ah, dzikir adalah ibadah yang agung, tetapi harus dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
Dzikir tidak memerlukan:
- gerakan yang berlebihan,
- ritual yang tidak ada contohnya,
- atau cara-cara yang tidak diajarkan Nabi ﷺ.
Imam Al-Ghazali rahimahullāh berkata:
“Dzikir yang utama adalah dzikir yang menghidupkan hati, bukan sekadar menggerakkan lisan.”
Perbedaan Dzikir dan Tilawah Al-Qur’an
Perlu dipahami oleh jamaah sekalian, bahwa dzikir dan tilawah Al-Qur’an memiliki hukum yang berbeda.
Dzikir
Seperti tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, shalawat, dan doa, boleh dilakukan kapan saja dan dalam keadaan apa pun.
Tilawah Al-Qur’an
Memiliki adab dan hukum khusus, terutama berkaitan dengan kesucian.
Hukum Membaca Al-Qur’an bagi Orang Junub
Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لَا يَحْجُبُهُ شَيْءٌ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ إِلَّا الْجَنَابَةُ
Artinya:
“Nabi ﷺ tidak terhalang membaca Al-Qur’an oleh sesuatu apa pun kecuali karena junub.”
(HR. Ibnu Hibban)
Pendapat Ulama Empat Madzhab
Para ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali sepakat bahwa orang junub diharamkan membaca Al-Qur’an hingga ia mandi besar.
Imam Al-Mawardi rahimahullāh berkata:
“Haramnya membaca Al-Qur’an bagi orang junub telah masyhur di kalangan para sahabat Nabi.”
Dzikir Saat Junub Tetap Diperbolehkan
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullāh menjelaskan bahwa hadits tentang dzikir Rasulullah ﷺ dalam setiap keadaan menunjukkan bolehnya dzikir meskipun seseorang dalam keadaan junub, selama tidak berniat tilawah Al-Qur’an.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullāh juga menjelaskan bahwa membaca ayat Al-Qur’an dalam rangka doa atau dzikir, bukan tilawah, masih diperbolehkan.
Keutamaan dan Buah Dzikir
Allah Ta‘ālā berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari rahimahullāh berkata:
“Jangan tinggalkan dzikir hanya karena hatimu belum khusyuk, sebab lalai dari dzikir lebih berbahaya daripada dzikir tanpa kekhusyukan.”
Penutup
Hadirin jamaah rahimakumullāh,
Seorang Muslim yang baik adalah yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan: saat lapang maupun sempit, saat sehat maupun sakit, saat sendiri maupun bersama orang lain.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang disebut Allah sebagai:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا
orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah.
Doa Penutup
Ya Allah, jadikanlah lisan kami basah dengan dzikir kepada-Mu,
jadikan hati kami tenang dengan mengingat-Mu,
dan kumpulkanlah kami kelak bersama Nabi Muhammad ﷺ.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Post a Comment