Orang Beriman Melihat Dengan Cahaya Tuhan
Materi Ceramah: “Orang Beriman Melihat Dengan Cahaya Tuhan”
Pembukaan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang cahaya-Nya menyinari hati orang-orang beriman. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga hari kiamat.
Saudaraku yang dirahmati Allah, hari ini kita akan membahas bagaimana orang beriman, dengan iman yang sejati, mampu “melihat dengan Cahaya Tuhan”. Ini adalah tingkat kesadaran spiritual yang membawa seseorang kepada ketenangan, kebijaksanaan, dan kemampuan memahami hakikat kehidupan, bahkan hal-hal yang gaib sekalipun.
1. Keinginan dan Penderitaan Manusia
Dalam Fīhī Mā Fīhī disebutkan:
“Segala penderitaanmu muncul karena menginginkan sesuatu yang tidak dapat diperoleh. Ketika engkau berhenti menginginkan, tidak akan ada lagi penderitaan.”
Manusia sering terikat dengan hawa nafsu dan keinginan yang tidak realistis, sehingga menimbulkan kesedihan dan kegelisahan batin.
Dalil Al-Qur’an:
قُلْ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
“Katakanlah: Kebenaran itu dari Tuhanmu; barang siapa yang mau, hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang mau, hendaklah ia kafir.” (QS. Al-Kahf: 29)
Komentar ulama:
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa keinginan yang tidak terkendali menjerumuskan manusia pada kesengsaraan, sedangkan menahan diri dari keinginan duniawi membawa ketenangan jiwa.
Praktik:
- Latih diri untuk melepaskan keinginan yang berlebihan.
- Fokuskan hati pada ketaatan kepada Allah, bukan sekadar pemenuhan hawa nafsu.
2. Cahaya Tuhan dan Penglihatan Batin
Bayazid berkata: “Sayan ingin agar tidak memiliki keinginan.” Namun, manusia tidak bisa sepenuhnya mengosongkan diri dari keinginan. Tetapi Tuhan memberi kemampuan untuk masuk ke dalam Cahaya-Nya, sehingga orang beriman mampu melihat hakikat segala sesuatu, permulaan dan akhir, yang hadir maupun gaib.
Dalil Al-Qur’an:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)
Komentar ulama:
Ibn Kathir menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan Allah memberikan cahaya hidayah kepada hamba-Nya, agar mampu membedakan yang benar dan yang salah. Cahaya Allah bukan sekadar penglihatan fisik, tetapi penglihatan batin yang menuntun pada kebenaran hakiki.
Inti pengajaran:
- Orang beriman sejati melihat dunia dan akhirat dengan Cahaya Tuhan.
- Hanya dengan Cahaya Tuhan, hati mampu memahami hakikat kehidupan, bukan hanya berdasarkan logika atau penglihatan inderawi.
3. Contoh Khalifah Usman: Diam dan Hikmah
Fīhī Mā Fīhī mencontohkan Khalifah Usman yang menuruni mimbar tanpa berbicara, namun mampu melihat hati rakyat dan membimbing mereka dengan keteladanan, bukan kata-kata:
“Lebih baik kalian memiliki pemimpin yang giat daripada yang suka bicara.”
Dalil Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sahabatku bagaikan bintang: siapa pun dari mereka yang engkau ikuti, engkau akan terbimbing dengan benar.” (HR. Tirmidzi)
Komentar ulama:
Al-Qurtubi menekankan bahwa keteladanan dalam tindakan dan kesabaran seorang pemimpin lebih bermanfaat daripada ceramah panjang. Perbuatan yang terlihat sederhana bisa mengandung hikmah yang mendalam.
Praktik:
- Gunakan keteladanan pribadi untuk mempengaruhi orang lain.
- Jangan terlalu banyak bicara tanpa makna; biarkan tindakan menunjukkan kebenaran.
4. Perjuangan Spiritual: Mengendalikan Diri dan Hasrat
“Perjuangan utama adalah membunuh diri badaniah dan membuang gairah syahwat dan hasrat.”
Orang suci menempuh jalan ini untuk mencapai persatuan dengan Tuhan, di mana salah dan benar, benar-benar terungkap melalui cahaya batin, bukan sekadar melalui penalaran biasa.
Dalil Al-Qur’an:
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya ia memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71)
Komentar ulama:
Al-Ghazali menjelaskan bahwa kemenangan hakiki adalah kemenangan hati atas nafsu dan kesalahan, bukan sekadar kemenangan fisik atau duniawi.
Praktik:
- Latih diri untuk menahan hawa nafsu, amarah, dan keserakahan.
- Perkuat ibadah batin seperti dzikir, tafakur, dan puasa sunnah.
5. Kesabaran dan Memaklumi Kesalahan Orang Lain
Fīhī Mā Fīhī menekankan:
“Tuhan memberi mereka kesabaran agung sehingga mampu memaklumi kesalahan orang-orang.”
Orang yang dekat dengan Cahaya Tuhan mampu memaafkan kesalahan orang lain, memilih fokus pada kebaikan, dan membimbing orang dengan cara yang halus.
Dalil Al-Qur’an:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan janganlah kebajikan dan kejahatan itu sama. Tolaklah (kejahatan) dengan yang lebih baik, maka orang yang ada permusuhan antara kamu dan dia seolah-olah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)
Komentar ulama:
Ibn Katsir menekankan bahwa membalas kejahatan dengan kebajikan bukan hanya menghindarkan permusuhan, tetapi juga mendekatkan hati kepada Allah.
6. Bakat dan Pemberian Tuhan
Fīhī Mā Fīhī menyebutkan:
“Apa-apa yang tidak muncul pada khayalan manusia dinamakan bakat, karena pemberian Tuhan melampaui semua imajinasi manusia.”
Dalil Al-Qur’an:
وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَا هُوَ إِلَّا فَتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Dan apa yang kalian diberi hanyalah sebagai ujian; dan di sisi Allah ada pahala yang besar.” (QS. Al-An’am: 165)
Komentar ulama:
Bakat dan kemampuan yang dimiliki manusia hanyalah pinjaman dari Allah. Seorang mukmin menggunakannya untuk ketaatan dan kebaikan, bukan hanya pemenuhan hawa nafsu atau ambisi pribadi.
Penutup dan Refleksi
Saudaraku, inti dari ceramah ini:
- Penderitaan muncul dari keinginan duniawi; lepaskan diri dari keterikatan.
- Orang beriman melihat dengan Cahaya Tuhan, memahami hakikat yang tersembunyi.
- Keteladanan tindakan lebih penting daripada kata-kata panjang.
- Perjuangan spiritual adalah mengendalikan nafsu dan hasrat.
- Kesabaran dan memaklumi kesalahan orang lain adalah tanda kematangan batin.
- Bakat dan kemampuan sejati adalah pemberian Tuhan, digunakan untuk kebaikan.
Semoga Allah menjadikan hati kita bercahaya, memberi kita kesabaran, dan membimbing kita di jalan-Nya. Amin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Post a Comment