SUNNAH AB’ADH DALAM SHALAT
SUNNAH AB’ADH DALAM SHALAT
Kesempurnaan Ibadah yang Dijaga dengan Sujud Sahwi
MUKADIMAH CERAMAH
الحمد لله رب العالمين
نحمده ونستعينه ونستغفره
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Shalat bukan sekadar gerakan dan bacaan, tetapi ibadah yang memiliki susunan, adab, dan kesempurnaan. Di dalam shalat ada rukun, ada wajib, dan ada sunnah.
Namun tidak semua sunnah itu sama kedudukannya. Dalam madzhab Syafi’i, ada sunnah yang sangat ditekankan, yang bila terlupa ditutupi dengan sujud sahwi, yang dikenal dengan SUNNAH AB’ADH.
Inilah bukti betapa Islam adalah agama ketelitian dan kasih sayang, tidak memberatkan, namun tetap menjaga kesempurnaan ibadah.
PENGERTIAN SUNNAH AB’ADH
Definisi
Sunnah ab’adh adalah:
Sunnah dalam shalat yang bila ditinggalkan (lupa atau sengaja), disunnahkan ditutupi dengan sujud sahwi.
Kata ab’adh (أبعاض) secara bahasa berarti bagian-bagian, karena sunnah ini menyerupai bagian dari rukun shalat, meskipun tidak sampai membatalkan shalat bila ditinggalkan.
Imam An-Nawawi رحمه الله:
“Sunnah ab’adh adalah sunnah yang kedudukannya dekat dengan rukun, sehingga kekurangannya disempurnakan dengan sujud sahwi.”
(Al-Majmū’)
PERBEDAAN SUNNAH AB’ADH & SUNNAH HAI’AT
1. Dari sisi sujud sahwi
- Sunnah ab’adh → disunnahkan sujud sahwi
- Sunnah hai’at → tidak disyariatkan sujud sahwi
2. Dari sisi kemandirian
- Sunnah ab’adh berdiri sendiri
- Sunnah hai’at mengikuti rukun
3. Dari sisi tempat
- Sunnah ab’adh memiliki tempat khusus
- Sunnah hai’at tidak
4. Dari sisi pengamalan di luar shalat
- Sunnah ab’adh tidak diseru di luar shalat
- Sunnah hai’at seperti dzikir dan tasbih diseru di luar shalat
HUKUM MENINGGALKAN SUNNAH AB’ADH
Menurut madzhab Syafi’i:
- Makruh meninggalkan sunnah ab’adh dengan sengaja
- Shalat tetap sah
- Disunnahkan sujud sahwi, baik lupa maupun sengaja (pendapat mu’tamad)
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami:
“Kekurangan dalam shalat karena meninggalkan sunnah ab’adh membutuhkan penutup, dan penutupnya adalah sujud sahwi.”
MACAM-MACAM SUNNAH AB’ADH
1. TASYAHHUD AWAL
Dalil Hadis
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَامَ مِنِ اثْنَتَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ فَلَمْ يَجْلِسْ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ
“Rasulullah ﷺ berdiri setelah dua rakaat shalat Zhuhur dan tidak duduk (tasyahhud awal). Setelah menyempurnakan shalat, beliau sujud dua kali, kemudian salam.”
(HR. Al-Bukhari)
Istidlal Ulama
Imam Asy-Syafi’i رحمه الله:
“Seandainya tasyahhud awal bukan sunnah yang ditekankan, niscaya Nabi ﷺ tidak menutupnya dengan sujud sahwi.”
Ini menunjukkan bahwa tasyahhud awal bukan sunnah biasa, tetapi sunnah ab’adh.
2. QUNUT DALAM SHALAT SUBUH
Dalil Hadis
Riwayat Al-Hakim dari Abu Hurairah رضي الله عنه:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِنَ الصُّبْحِ قَنَتَ
“Nabi ﷺ apabila mengangkat kepala dari ruku’ pada rakaat kedua shalat Subuh, beliau berqunut.”
Teks Doa Qunut
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ...
Artinya:
“Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk…”
Pendapat Ulama
Imam An-Nawawi:
“Qunut Subuh disunnahkan secara terus-menerus menurut madzhab Syafi’i.”
3. QUNUT WITIR PADA SETENGAH AKHIR RAMADHAN
Dalil Hadis Hasan bin ‘Ali رضي الله عنهما
عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ
“Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang aku baca dalam qunut witir.”
(HR. Abu Dawud & At-Tirmidzi – Hasan Shahih)
Dalil Atsar Sahabat
أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ كَانَ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الْآخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Ubay bin Ka’b qunut pada setengah akhir Ramadhan.”
(HR. Abu Dawud)
Imam Asy-Syafi’i:
“Perbuatan sahabat menjadi hujjah bila tidak ada yang mengingkarinya.”
SUJUD SAHWI SEBAGAI PENUTUP KEKURANGAN
Sujud sahwi adalah rahmat Allah, bukan hukuman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا نَسِيَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ
“Jika salah seorang dari kalian lupa dalam shalatnya, maka hendaklah ia sujud dua kali.”
(HR. Muslim)
PENUTUP CERAMAH
Jamaah rahimakumullah,
Sunnah ab’adh mengajarkan kita bahwa kesempurnaan ibadah itu dijaga, meski terjadi kekurangan.
Allah tidak mencari shalat yang sempurna tanpa cacat, tetapi shalat yang dijaga, diperbaiki, dan direndahkan diri di hadapan-Nya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang:
- Menjaga rukun
- Memuliakan sunnah
- Dan menyempurnakan ibadah dengan ilmu
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Post a Comment