SUNNAH-SUNNAH SHALAT (Penyempurna Ibadah, Jalan Menuju Shalat yang Dicintai Allah)



SUNNAH-SUNNAH SHALAT

Penyempurna Ibadah, Jalan Menuju Shalat yang Dicintai Allah


MUKADIMAH CERAMAH

الحمد لله رب العالمين
نحمده ونستعينه ونستغفره
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا

Jamaah rahimakumullah,
Shalat adalah tiang agama, namun shalat yang dicintai Allah bukan hanya yang sah, melainkan yang indah, hidup, dan menyerupai shalat Nabi ﷺ.
Di sinilah letak pentingnya sunnah-sunnah shalat—ia bukan sekadar tambahan, melainkan roh yang menyempurnakan jasad shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafā’ur Rāsyidīn.”
(HR. At-Tirmidzi)


PEMBAGIAN SUNNAH SHALAT

Para ulama menjelaskan bahwa sunnah shalat terbagi menjadi dua:

  1. Sunnah Qauliyyah (perkataan)
  2. Sunnah Fi’liyyah (perbuatan)

Meninggalkannya tidak membatalkan shalat, namun mengurangi kesempurnaan dan pahala.

Imam Ibnu Qudāmah berkata:

“Sunnah-sunnah shalat adalah perhiasan shalat, tanpanya shalat tetap sah, namun kehilangan keindahannya.”


I. SUNNAH-SUNNAH PERKATAAN


1. DOA ISTIFTAH

Dalil Hadis

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Maha Suci Engkau ya Allah dan Maha Terpuji, Maha Berkah nama-Mu, Maha Tinggi keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan selain Engkau.”

Makna doa ini:

  • Tasbih: mensucikan Allah
  • Tahmid: memuji Allah
  • Tauhid: mengesakan Allah sejak awal shalat

Imam An-Nawawi:

“Disunnahkan membaca doa istiftah, dan disunnahkan pula mengganti-gantinya sesuai riwayat.”


2. TA’AWUDZ DAN BASMALAH

Dalil Al-Qur’an

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ

“Apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka berlindunglah kepada Allah.”
(QS. An-Nahl: 98)

Basmalah dibaca sirr (pelan) menurut jumhur ulama.


3. MENGUCAPKAN AAMIIN

Dalil Hadis

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ

“Jika imam mengucapkan ‘waladh-dhāllīn’, maka ucapkanlah ‘aamiin’.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Keutamaan:

“Barang siapa aamiinnya bertepatan dengan aamiin malaikat, diampuni dosanya yang telah lalu.”


4. TASBIH RUKU’ DAN SUJUD LEBIH DARI SATU KALI

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ (ruku’)
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى (sujud)

Imam Ahmad:

“Minimal kesempurnaan adalah tiga kali, maksimal sepuluh kali bagi imam.”


5. DOA ANTARA DUA SUJUD

رَبِّ اغْفِرْ لِي

“Wahai Rabbku, ampunilah aku.”
(HR. An-Nasa’i)

Boleh ditambah:

warhamnii, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii, wahdinii, wa ‘aafinii


6. TAMBAHAN TAHMID SETELAH RUKU’

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ...

(HR. Muslim)

Ibnu Taimiyyah:

“Semakin banyak tahmid, semakin besar pengagungan kepada Allah.”


7. SHALAWAT & DOA PADA TASYAHHUD

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ...

(Muttafaq ‘alaih)

Dan doa penutup:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ...

(HR. Muslim)


II. SUNNAH-SUNNAH PERBUATAN


1. MENGANGKAT KEDUA TANGAN (RAF’UL YADAIN)

Dalil Hadis

“Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya setinggi bahu atau telinga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dilakukan saat:

  • Takbiratul ihram
  • Ruku’
  • Bangkit dari ruku’
  • Berdiri dari tasyahhud awal

Makna spiritual: mengangkat hijab antara hamba dan Rabb-nya.


2. MELETAKKAN TANGAN DI DADA

“Beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.”
(HR. Muslim)

Syaikh Al-Albani:

“Yang shahih adalah di dada, adapun selainnya tidak kuat dalilnya.”


3. THUMA’NINAH DAN POSISI TUBUH

  • Punggung lurus saat ruku’
  • Siku terangkat saat sujud
  • Anggota badan tidak rapat

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ فِيهَا صُلْبَهُ

“Tidak sah shalat orang yang tidak meluruskan punggungnya.”
(HR. Tirmidzi)


4. DUDUK IFTIRASY & TAWARRUK

  • Iftirasy: tasyahhud awal & antara dua sujud
  • Tawarruk: tasyahhud akhir shalat 3–4 rakaat

Ini menunjukkan ketundukan total seorang hamba.


5. ISYARAT TELUNJUK

“Beliau mengisyaratkan dengan telunjuknya.”
(HR. Muslim)

Isyarat tauhid, senjata melawan setan.


6. JAHR & SIRR DALAM BACAAN

Imam Ibnu Qudamah:

“Telah disepakati sunnahnya menjahrkan dan mensirrkan sesuai tempatnya.”


7. SALAM KE KANAN & KIRI

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Berniat:

  • Keluar dari shalat
  • Menyapa malaikat & jamaah

PENUTUP CERAMAH

Jamaah rahimakumullah,
Shalat sunnah bukan untuk memberatkan, tetapi menghidupkan shalat.
Siapa yang menjaga sunnah shalat, maka Allah akan menjaga hidupnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ

“Sedekat-dekatnya hamba dengan Rabbnya adalah saat sujud.”
(HR. Muslim)

Semoga Allah menjadikan kita ahli shalat, bukan sekadar pelaku shalat.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ



Tidak ada komentar