Tragedi Karbala & Terbunuhnya Al-Imam Husain radhiyallāhu ‘anhu: Air Mata Langit
CERAMAH :
“Tragedi Karbala & Terbunuhnya Al-Imam Husain radhiyallāhu ‘anhu: Air Mata Langit, Luka Umat, dan Pelajaran Abadi”
MUKADIMAH RETORIK
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Pada malam-malam gelap sejarah, ada satu peristiwa yang mengguncangkan bumi, membuat langit seakan bergetar, dan menggoreskan luka terdalam dalam dada umat Islam.
Sebuah tragedi yang bila disebut namanya, para ulama menangis, para ahli sejarah tersentak, dan para penuntut ilmu menundukkan kepala penuh haru.
Itulah hari ketika cucu kesayangan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, penghulu pemuda surga, Al-Imâm Al-Husain bin ‘Alî radhiyallāhu ‘anhumā… dibantai.
Di Karbala.
Dengan cara yang tak pernah layak menimpa keturunan Nabi.
Hari ketika pedang-pedang yang dulu dibela oleh kakeknya, kini justru ditujukan kepada dirinya.
Hari ketika umat Muhammad ﷺ menangis… sementara para malaikat menuliskan nama-nama mereka yang terlibat dalam catatan kebengisan sepanjang masa.
DALIL-DALIL PENGUAT KEDUDUKAN HUSAIN
1. Cucu Nabi ﷺ yang dijamin surga
Rasulullah ﷺ bersabda:
Hadits
« الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ »
“Hasan dan Husain adalah dua penghulu pemuda penghuni surga.”
— HR. Tirmidzi
Bagaimana mungkin tangan-tangan manusia berani diangkat kepada seseorang yang Nabi sendiri menyaksikan kemuliaannya?
2. Rasulullah mencium dan memeluk Husain
Hadits
« حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ »
“Husain bagian dariku dan aku bagian dari Husain.”
— HR. Tirmidzi
Para ulama berkata:
Maknanya: siapa yang mencintai Husain berarti mencintai Rasulullah, dan siapa yang menyakiti Husain berarti menyakiti Rasulullah.
BAGIAN 1
AWAL TRAGEDI: SURAT-SURAT KEKUFAAN
Jamaah yang dirahmati Allah…
Perjalanan darah ini bermula dari gunungan surat dari penduduk Kufah.
Surat-surat manis… penuh janji palsu… penuh baiat yang dusta.
Surat yang isinya:
“Datanglah wahai cucu Rasulullah…
Kami akan membaiatmu…
Kami akan menolongmu…”
Tetapi, sebagaimana firman Allah:
Al-Qur’an
﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ ﴾
“Di antara manusia ada yang ucapannya menarik hatimu…
padahal ia adalah seburuk-buruk musuh.”
(QS. Al-Baqarah: 204)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Ayat ini menggambarkan orang yang manis kata-katanya namun busuk niatnya.”
Persis—ini gambaran penduduk Kufah.
BAGIAN 2
MUSLIM BIN AQIL DIKHIANATI
Muslim bin Aqil—keponakan Husain—datang terlebih dahulu sebagai utusan.
18.000 baiat diberikan—laut manusia mengelilinginya.
Tetapi ketika Ubaidullah bin Ziyad mengancam…
Ketika pedang mulai terlihat…
18.000 itu menghilang menjadi 10 orang… lalu tinggal 1 orang.
Ulama berkata:
“Tidak ada sejarah pengkhianatan yang lebih keji daripada pengkhianatan Kufah kepada Muslim dan Husain.”
Muslim ditangkap… dipenggal…
Dan berita itu sampai kepada Husain di tengah perjalanan.
BAGIAN 3
NASIHAT PARA SAHABAT KEPADA HUSAIN
Abdullah bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā mengejar Husain 3 hari 3 malam hanya untuk menahan beliau agar tidak pergi.
Hadits yang disampaikan Ibnu Umar kepada Husain:
« إِنَّ جِبْرِيلَ خَيَّرَ النَّبِيَّ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَاخْتَارَ الْآخِرَةَ »
“Jibril memberi pilihan kepada Nabi antara dunia dan akhirat, dan Nabi memilih akhirat.”
Lalu Ibnu Umar berkata sambil menangis:
“Wahai Husain… jangan engkau memilih dunia… engkau bagian dari Rasulullah.”
Namun Husain tidak ingin mundur.
Karena beliau adalah prinsip, keteguhan, keberanian.
BAGIAN 4
HARI-HARI TERAKHIR: KARABLA—TELAGA DARAH DAN AIR MATA
Ketika sampai di sebuah tempat bernama Karbala, beliau berkata:
“Karbun wa balā”—kesusahan dan musibah.
Seakan Allah menakdirkan nama itu menjadi saksi.
Pasukan Husain: 70 orang.
Pasukan Kufah: 5.000 orang.
Namun jangan salah…
Yang 5.000 itu bukan orang Syam… bukan pasukan Yazid dari luar…
Mereka orang-orang Kufah yang mengaku Syiah—pengikut Ali!
Baik referensi Sunni maupun Syiah sepakat:
yang membunuh Husain adalah penduduk Kufah itu sendiri.
BAGIAN 5
NABRAK PUNCAK DUKA: TEWASNYA AL-HUSAIN
Pada hari itu…
Hari Jumat yang gelap…
Hari ketika debu-debu padang Karbala seakan berubah menjadi abu hitam…
Al-Husain berdiri sendirian setelah semua keluarganya gugur.
Tak ada tangan yang berani menghunus pedang ke arahnya,
karena setiap yang melihat wajah Husain seakan melihat wajah kakeknya—Rasulullah ﷺ.
Namun datanglah seseorang yang namanya menjadi kutukan sejarah:
Syamir bin Dzil Jauzan.
Ia berteriak:
“Celaka kalian! Majulah dan bunuh dia!”
Akhirnya pedang-pedang itu terhunus…
Husain dikepung…
Dibantai…
Dan kepalanya dipenggal oleh Sinan bin Anas.
Pada hari itu… bumi menangis… malaikat mengutuk… dan sejarah mencatat noda hitam tak terhapuskan.
BAGIAN 6
SIAPA PEMBUNUH HUSAIN? KESAKSIAN ULAMA & RUJUKAN SYIAH SENDIRI
Di antara ucapan para tokoh Syiah:
1. Zainul Abidin (anak Husain) berkata kepada penduduk Kufah:
“Kalian yang menulis surat kepada ayahku…
Kalian yang menipunya…
Kalian yang berjanji lalu mengkhianatinya…
Kalianlah pembunuh ayahku!”
2. Zainab bintu Ali
“Wahai penduduk Kufah!
Laki-laki kalian membunuh kami, wanita kalian menangisi kami!”
3. Muhsin al-Amin (Syiah):
“Duapuluh ribu penduduk Kufah yang telah membaiat Husain…
merekalah yang membunuhnya.”
4. Murtadha Muthahhari (ulama Syiah):
“Tidak diragukan lagi pembunuh Husain adalah Syiah sendiri.”
Sejarah jelas.
Tidak samar.
Tidak simpang siur.
BAGIAN 7
PELAJARAN AGUNG DARI TRAGEDI KARBALA
-
Cinta kepada Ahlul Bait adalah kewajiban.
Rasulullah bersabda:« أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي »
“Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku.”
— HR. Muslim -
Fitnah politik merusak akidah bila berlebihan.
Penduduk Kufah mencintai Ali—secara lisan.
Tetapi ketika ujian datang… mereka berkhianat. -
Jangan tertipu janji manusia.
Karena janji yang tak ditepati bisa menimbulkan tragedi sebesar Karbala. -
Keberanian Husain simbol kebenaran.
Beliau berdiri tegak meski sendiri. -
Jangan mengkultuskan keturunan Nabi.
Kita mencintai mereka dengan cara yang diajarkan sunnah, bukan dengan cara yang dibuat-buat.
PENUTUP
Wahai jamaah…
Jika malam ini kita membaca kisah Husain tanpa bergetar,
maka barangkali hati kita telah keras.
Jika kita menyebut nama Husain tanpa getaran cinta,
maka barangkali ruh kita telah kering.
Jika kita mempelajari tragedi Karbala tetapi tidak mengambil pelajaran,
maka sejarah ini hanya menjadi dongeng—padahal ia adalah darah dan air mata.
Semoga Allah mengumpulkan kita bersama Husain, Hasan, Ali, Fatimah, dan Rasulullah ﷺ di telaga Kautsar.
آمِينَ يا ربَّ العالَمِين…
Jika Jordan ingin, saya bisa buatkan versi PowerPoint, versi naskah ceramah siap baca, atau versi khutbah Jumat.
Post a Comment