Antara Taklid Buta, Tauhid Sejati, dan Penyesalan yang Terlambat
“Antara Taklid Buta, Tauhid Sejati, dan Penyesalan yang Terlambat”
(Pelajaran Hidup dari QS Luqman 21–34)
I. TAKLID BUTA: PENYAKIT LAMA UMAT MANUSIA
📖 QS Luqman: 21
Arab:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ
Artinya:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan tetap mengikuti walaupun setan menyeru mereka ke dalam azab neraka?”
💡 Tafsir & Ulama
- Ibnu Katsir: Ayat ini mencela taklid tanpa ilmu, bukan menghormati orang tua.
- Imam Al-Qurthubi: Taklid buta adalah pintu besar kesesatan bila bertentangan dengan wahyu.
📚 Rujukan:
- Tafsir Ibnu Katsir, Juz 6
- Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an
😂 Humor Mimbar:
“Kalau semua ikut nenek moyang, mungkin sampai sekarang kita masih ngobrol sama pohon.
‘Assalamu’alaikum wahai pohon keramat!’
Pohon: diam
Manusia: ‘MasyaAllah… khusyuk sekali!’”
🎯 Pesan: Islam bukan warisan budaya, tapi pilihan sadar berdasarkan wahyu.
II. PEGANGAN HIDUP YANG TAK PERNAH PUTUS
📖 QS Luqman: 22
Arab:
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ
Artinya:
“Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan dia berbuat baik, maka sungguh ia telah berpegang pada buhul tali yang sangat kuat.”
💡 Tafsir
- Al-Hasan Al-Bashri: Al-‘Urwatul Wutsqa adalah tauhid murni.
- Fakhruddin Ar-Razi: Islam + Ihsan = iman yang kokoh.
😂 Humor:
“Pegangan hidup kita kadang aneh:
lagi susah → ‘Ya Allah’
lagi senang → ‘Aku hebat juga ya!’
Itu bukan ‘urwatul wutsqa, itu urwatul WiFi—nyambung-putus!”
III. DUNIA CUMA SEBENTAR, JANGAN TERKECOH
📖 QS Luqman: 24
Arab:
نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٍ
Artinya:
“Kami beri mereka kesenangan sebentar, lalu Kami paksa mereka ke dalam azab yang keras.”
📌 Hadis Pendukung:
Arab:
مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ
Artinya:
“Dunia dibanding akhirat seperti jari yang dicelupkan ke laut.”
📚 (HR. Muslim)
😂 Humor:
“Dunia itu seperti es batu di tangan.
Digenggam erat?
Bukan makin awet… malah cepat habis!”
IV. SEMUA AKAN MENGAKU: ALLAH PENCIPTA, TAPI…
📖 QS Luqman: 25
“Jika kamu tanya siapa pencipta langit dan bumi, mereka pasti menjawab: Allah.”
💥 Masalahnya:
Mengaku Allah Pencipta ❌
Tapi tidak mau Allah Pengatur ❌❌
📚 Ibnu Taimiyah:
“Kaum musyrik kalah bukan di Rububiyah, tapi di Uluhiyah.”
😂 Humor:
“Seperti bilang:
‘Saya percaya dokter’
Tapi obatnya dibuang, nasihatnya di-skip.
Terus bilang: ‘Kok saya nggak sembuh ya?’”
V. ILMU ALLAH TAK BERTEPI
📖 QS Luqman: 27
Makna:
Seandainya semua pohon jadi pena dan semua laut jadi tinta, ilmu Allah tetap tak habis.
📚 Imam As-Sa’di:
Ayat ini meruntuhkan kesombongan manusia atas ilmu.
😂 Humor:
“Manusia baru hafal 2 dalil sudah debat di Facebook.
Allah ilmunya tak terbatas… tapi tetap rendah hati.”
VI. SAAT OMBAK DATANG, SEMUA JADI TAUHID
📖 QS Luqman: 32
“Saat ombak seperti gunung datang, mereka berdoa ikhlas kepada Allah…”
📌 Pelajaran:
- Di darat: ‘Tenang, saya rasional’
- Di laut: ‘YA ALLAH YA RABB!’
😂 Humor:
“Di pesawat:
Sebelum turbulensi: ‘Santai…’
Pas turbulensi: ‘Astaghfirullah, Bu… kalau selamat saya hijrah!’”
VII. HARI DI MANA AYAH TAK BISA MENOLONG ANAK
📖 QS Luqman: 33
Arab:
يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ
🎤 Gaya Mimbar Emosional:
“Di dunia… ayah rela tidak makan demi anak.
Di akhirat… ayah berkata:
‘Anakku… aku sibuk dengan dosaku sendiri…’”
📚 Imam Al-Ghazali:
“Hari Kiamat adalah hari runtuhnya seluruh sandaran selain Allah.”
VIII. LIMA KUNCI GAIB
📖 QS Luqman: 34
📌 Hadis HR. Bukhari dari Ibnu Umar
Arab:
مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ
Artinya:
“Kunci-kunci gaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah…”
😂 Humor:
“Dukun bilang tahu rezeki dan jodoh.
Allah bilang: ‘Eh… izin dulu!’”
🌙 PENUTUP
🎙️ “Jamaah yang dimuliakan Allah…
Jika hari ini kita masih hidup, itu bukan karena kita hebat…
tapi karena Allah masih memberi waktu untuk pulang.”
Post a Comment