HUKUM PENDISTRIBUSIAN ZAKAT FITRAHKE MASJID DAN MADRASAH



BAHTSUL MASAIL:

HUKUM PENDISTRIBUSIAN ZAKAT FITRAH
KE MASJID DAN MADRASAH

Mukadimah

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bahtsul Masail adalah mahkota tradisi keilmuan NU, bukan sekadar diskusi, tapi ijtihad jama‘i yang berpijak pada:

  • nash syar‘i,
  • qawa‘id fiqhiyyah,
  • pendapat ulama mu‘tabar,
  • serta realitas sosial (waqi‘).

Tema yang kita bahas hari ini adalah pendistribusian zakat fitrah ke masjid dan madrasah, sebuah masalah klasik–kontemporer yang terus menjadi polemik di masyarakat.


I. DALIL POKOK TENTANG MUSTAHIQ ZAKAT

1. Dalil Al-Qur’an

📖 QS. At-Taubah: 60

Teks Arab:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Terjemah:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, di jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
📚 (QS. At-Taubah: 60)

Komentar Ulama

  • Kata إِنَّمَا (innamā) menurut jumhur ulama berfungsi lil-hashr (pembatasan).
  • Artinya: zakat hanya boleh diberikan kepada delapan asnaf, tidak keluar dari itu.

📚 Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Juz II, hlm. 876


II. DALIL SUNNAH

Hadis Mu‘adz bin Jabal

Teks Arab:

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Terjemah:

“Beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka.”
📚 (HR. Bukhari)

➡️ Hadis ini menunjukkan zakat harus berpindah kepemilikan (tamlik) kepada mustahiq.


III. POSISI MASJID DAN MADRASAH DALAM ZAKAT

Pendapat Jumhur Ulama

Masjid dan madrasah bukan mustahiq zakat, karena:

  • tidak termasuk delapan asnaf,
  • tidak terjadi tamlik.

📚 Al-Fiqh Al-Islami, Juz II hlm. 1958:

اتفق جماهير فقهاء المذاهب على أنه لا يجوز صرف الزكاة إلى غير من ذكر الله تعالى، كبناء المساجد والقناطر والجسور…

“Mayoritas ulama sepakat bahwa tidak boleh menyalurkan zakat kepada selain yang disebutkan Allah, seperti pembangunan masjid, jembatan, dan sejenisnya.”


Kitab Bughyatul Mustarsyidin

📚 hlm. 106:

لا يستحق المسجد شيئًا من الزكاة مطلقًا…

“Masjid sama sekali tidak berhak menerima zakat.”


IV. KHILAF DALAM MAKNA “FI SABILILLAH”

Pendapat Mayoritas (Syafi‘iyah, Malikiyah)

  • Fi sabilillah = jihad qital
  • Tidak mencakup pembangunan masjid.

📚 Tafsir Al-Munir, Juz I hlm. 244


Pendapat Minoritas (Sebagian Hanafiyah & Ulama Mutakhkhirin)

  • Fi sabilillah = seluruh jalan kebaikan
  • Termasuk:
    • madrasah,
    • masjid,
    • dakwah,
    • pendidikan Islam,

📚 Tafsir Al-Khazin, Juz II hlm. 92
📚 Jawahirul Bukhari, hlm. 173
📚 Mau‘idhatul Mu’minin, Juz I hlm. 55

➡️ Namun pendapat ini tidak mu‘tamad dalam mazhab Syafi‘i, yang menjadi rujukan NU.


V. STATUS KIYAI DALAM KASUS INI

1. Jika Kiyai adalah Mustahiq Zakat

  • Zakat sah diterima
  • Setelah menjadi miliknya, boleh disedekahkan ke masjid/madrasah

📌 Ini bukan zakat lagi, tapi shodaqoh.


2. Jika Kiyai adalah Amil

  • Tidak boleh menyalurkan zakat ke masjid/madrasah
  • Kecuali mengikuti pendapat tafsir sabilillah sebagai sabilil khoir (pendapat lemah)

➡️ Dalam NU, pendapat mu‘tamad tidak membolehkan.


VI. KESIMPULAN BAHTSUL MASAIL (TETANGGENAN)

🔹 Zakat fitrah tidak boleh diberikan langsung kepada masjid dan madrasah menurut jumhur ulama dan mazhab Syafi‘i.

🔹 Jika kiyai adalah mustahiq, zakat sah, dan boleh disedekahkan kembali ke masjid/madrasah atas nama shodaqoh.

🔹 Jika kiyai adalah amil, tidak boleh mentasarufkan zakat ke masjid/madrasah kecuali mengikuti pendapat minoritas.

🔹 Untuk menghindari polemik, solusi terbaik:

  • zakat → fakir miskin,
  • masjid/madrasah → infak & shodaqoh.

Penutup Nasihat

Bahtsul Masail mengajarkan kita:

  • tidak grusa-grusu menghukumi,
  • tidak mudah menyesatkan,
  • dan menghormati khilaf dalam bingkai adab ilmiah.

NU bukan mencari pendapat paling keras, tapi paling maslahat dan paling bertanggung jawab di hadapan Allah.



Tidak ada komentar