Potret Hidup Para ‘Ibādur-Raḥmān


“Potret Hidup Para ‘Ibādur-Raḥmān”


I. KEAGUNGAN ALLAH DALAM CIPTAAN-NYA

(Ayat 61–62)

🔹 Teks Ayat

تَبَارَكَ ٱلَّذِى جَعَلَ فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَٰجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا ۝
وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

🔹 Terjemah

“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang, dan Dia menjadikan padanya matahari sebagai pelita dan bulan yang bercahaya. Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau bersyukur.”

🔹 Penjelasan Ulama

  • Ibnu Katsir: Ayat ini menunjukkan kesempurnaan rububiyyah Allah, bahwa keteraturan kosmos adalah dalil tauhid.
  • Al-Qurthubi: Malam–siang adalah madrasah waktu, tempat manusia memperbaiki kekurangan amalnya.

🔹 Dalil Pendukung

QS Ali ‘Imran: 190

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”

🔹 Pesan Dakwah

➡️ Alam semesta taat tanpa protes, sementara manusia sering lupa bersyukur.


II. SIAPA ITU ‘IBĀDUR-RAḤMĀN?

(Ayat 63–64)

🔹 Teks Ayat

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا...

🔹 Terjemah

“Hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.”

🔹 Penjelasan Ulama

  • Hasan Al-Bashri: Tawadhu’ bukan rendah diri, tapi tenang tanpa kesombongan.
  • Ath-Thabari: “Qālu salāmā” berarti meninggalkan perdebatan yang merusak iman.

🔹 Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya.”
(HR. Muslim)


III. MALAM PARA KEKASIH ALLAH

(Ayat 65–66)

🔹 Teks Ayat

وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَٰمًا

🔹 Makna

  • Malam mereka bukan sekadar tidur, tapi dialog sunyi dengan Allah.

🔹 Dalil Pendukung

QS As-Sajdah: 16

“Lambung mereka jauh dari tempat tidur…”

🔹 Komentar Ulama

  • Imam Ahmad: Qiyamul lail adalah kehormatan orang beriman.

IV. IMAN MELAHIRKAN KEHATI-HATIAN DALAM HIDUP

(Ayat 67)

🔹 Teks Ayat

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

🔹 Pesan Utama

➡️ Islam menolak:

  • Boros yang merusak
  • Kikir yang membunuh empati

🔹 Hadis Pendukung

“Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan.”
(HR. Baihaqi)


V. DOSA BESAR DAN PINTU TOBAT

(Ayat 68–71)

🔹 Dosa Besar yang Disebut

  1. Syirik
  2. Membunuh tanpa hak
  3. Zina

🔹 Keajaiban Tobat

فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَٰتٍ

➡️ Dosa diganti pahala!

🔹 Penjelasan Ulama

  • Ibnu Abbas: Ini ayat paling memberi harapan bagi pendosa.

🔹 Hadis Pendukung

“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.”
(HR. Ibnu Majah)


VI. AKHLAK SOSIAL ‘IBĀDUR-RAḤMĀN

(Ayat 72–73)

  • Tidak suka kesaksian palsu
  • Menjauhi hal sia-sia
  • Mendengar Al-Qur’an dengan hati, bukan sekadar telinga

QS Az-Zumar: 18

“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.”


VII. DOA KELUARGA PARA KEKASIH ALLAH

(Ayat 74)

🔹 Teks Doa

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ...

🔹 Makna

➡️ Bukan bangga anak sukses dunia, tapi taat kepada Allah.

🔹 Tafsir Ulama

  • Al-Qurthubi: “Qurrata a’yun” = keluarga yang mengajak ke surga.

VIII. BALASAN ‘IBĀDUR-RAḤMĀN

(Ayat 75–76)

➡️ Derajat tinggi di surga
➡️ Disambut malaikat
➡️ Kekal selamanya

HR. Tirmidzi

“Surga memiliki seratus tingkatan…”


IX. PENUTUP TEGAS

(Ayat 77)

➡️ Allah tidak butuh manusia
➡️ Manusia butuh ibadah

Makna inti:
👉 Nilai kita di sisi Allah bukan status, tapi doa dan ibadah.


📚 KITAB RUJUKAN

  1. Tafsir Ibnu Katsir
  2. Al-Jāmi’ li Aḥkāmil Qur’ān – Al-Qurthubi
  3. Jāmi’ul Bayān – Ath-Thabari
  4. Riyāḍuṣ Ṣāliḥīn
  5. Shahih Bukhari & Muslim


Tidak ada komentar