I’jaz Al-Qur’an & Psikologi Manusia: (Mengapa Tak Seorang Pun Mampu Menirunya)
I’jaz Al-Qur’an & Psikologi Manusia: Mengapa Tak Seorang Pun Mampu Menirunya
PEMBUKAAN
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Pernahkah kita bertanya…
Mengapa sejak 14 abad lalu…
Tak ada satu pun manusia…
Tak ada satu pun jenius sastra…
Tak ada satu pun peradaban…
Yang mampu meniru Al-Qur’an?
Padahal tantangannya jelas…
Allah berfirman dalam:
Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 23:
“Datangkan satu surah saja yang semisal dengannya…”
Satu surah saja.
Bukan satu kitab.
Bukan satu juz.
Satu surah.
Bahkan dalam:
Al-Qur'an Surah Yunus ayat 38:
“Datangkan sepuluh surah yang dibuat-buat…”
Bahkan dalam:
Al-Qur'an Surah Al-Isra’ ayat 88:
“Jika manusia dan jin berkumpul…”
Manusia DAN jin.
Ini bukan sekadar tantangan sastra.
Ini tantangan peradaban.
Tantangan psikologis.
Tantangan eksistensial.
Dan 14 abad berlalu…
Tak ada yang berhasil.
Mengapa?
BAGIAN 1
OTAK MANUSIA DAN BATAS KREATIVITAS
Saudaraku…
Secara psikologi kognitif, manusia berpikir dengan tiga sistem:
- Memori
- Asosiasi
- Pola
Kita tidak mencipta dari nol.
Kita menggabungkan yang sudah ada.
Semua karya manusia adalah kombinasi ulang.
Penyair terbesar Arab seperti Imru' al-Qais
atau Al-Mutanabbi
bermain dengan pola bahasa yang sudah dikenal.
Otak manusia bekerja dengan pola familiar.
Tapi Al-Qur’an?
Ia tidak mengikuti pola syair Arab.
Tidak mengikuti pola prosa Arab.
Tidak mengikuti struktur pidato.
Ia menciptakan genre baru.
Ini disebut oleh para ulama sebagai:
“Uslub laisa lahu mithl.”
Gaya yang tak punya contoh.
Secara neurolinguistik…
Otak manusia nyaman pada pola yang bisa diprediksi.
Al-Qur’an mematahkan prediksi.
Dan itu membuat otak tak mampu mereplikasinya.
BAGIAN 2
ILUSTRASI PSIKOLOGI: EGO DAN PENOLAKAN
Mengapa orang menolak Al-Qur’an?
Bukan karena tidak indah.
Bukan karena tidak jelas.
Tapi karena ego.
Perhatikan tokoh seperti Al-Walid ibn al-Mughirah.
Dia ahli bahasa Arab.
Dia mendengar Al-Qur’an.
Dia berkata:
“Demi Allah, ini bukan perkataan manusia.”
Dia mengakui.
Tapi apa yang terjadi?
Ego sosialnya lebih besar dari nuraninya.
Psikologi menyebut ini:
Cognitive dissonance.
Ketika hati tahu benar…
Tapi status sosial tak mau tunduk.
Dan ini terjadi pada banyak orang.
Bukan tak mampu memahami.
Tapi tak mampu merendahkan diri.
BAGIAN 3
KEAJAIBAN STRUKTUR YANG TAK BISA DITIRU
Hadirin…
Mari kita lihat satu contoh.
Surah Al-Kautsar.
Hanya tiga ayat.
Ringkas.
Padat.
Mendalam.
Struktur simetris.
Makna tak terbatas.
Irama sempurna.
Coba tiru?
Banyak orang mencoba.
Termasuk Musaylima al-Kadhdhab.
Dia membuat kalimat seperti:
“Al-filu ma al-filu…”
Terdengar seperti Qur’an?
Tidak.
Karena Qur’an bukan sekadar rima.
Ia:
• Koheren makna
• Harmoni fonetik
• Kedalaman teologis
• Keseimbangan psikologis
• Efek emosional
• Ketepatan retorika
Semua hadir sekaligus.
Otak manusia biasanya kuat di satu sisi.
Tidak di semua sisi bersamaan.
Itulah i’jaz.
BAGIAN 4
PENGARUH PSIKOLOGIS AL-QUR’AN
Mengapa orang menangis ketika mendengarnya?
Bahkan orang yang tidak mengerti bahasa Arab?
Karena Al-Qur’an bekerja di dua jalur:
- Kognitif (makna)
- Afektif (emosi bawah sadar)
Penelitian psikologi modern menyebut suara ritmis dengan struktur kompleks mempengaruhi sistem limbik.
Al-Qur’an bukan sekadar teks.
Ia gelombang emosi.
Perhatikan tokoh seperti Umar ibn al-Khattab.
Datang untuk membunuh Nabi.
Mendengar Surah Taha.
Bergetar.
Mengapa?
Karena Al-Qur’an menembus pertahanan ego.
Ia berbicara ke fitrah.
BAGIAN 5
MENGAPA AI DAN SUPER KOMPUTER TAK MAMPU?
Sekarang orang berkata:
“Kan ada AI.”
AI hanya mengolah data yang ada.
Ia menggabungkan.
Ia memprediksi.
Ia tidak memiliki kesadaran ontologis.
Al-Qur’an tidak lahir dari data masa lalu.
Ia membentuk masa depan.
Ia mengubah bangsa badui menjadi peradaban dunia.
Itu bukan karya statistik.
Itu wahyu.
BAGIAN 6
PUNCAK EMOSI: MASALAHNYA BUKAN TAK MAMPU, TAPI TAK MAU
Hadirin…
Masalah terbesar manusia bukan kurang bukti.
Masalahnya hati terkunci.
Allah berfirman dalam:
Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 7:
“Allah mengunci hati mereka…”
Kunci itu bukan karena Allah zalim.
Kunci itu karena kesombongan yang terus dipelihara.
Psikologi menyebutnya:
Self-justification loop.
Ketika seseorang menolak kebenaran berulang kali…
Otaknya membangun sistem pembelaan permanen.
Lalu kebenaran terasa menyakitkan.
PENUTUP
Hadirin…
Mengapa manusia tak mampu meniru Al-Qur’an?
Karena:
• Secara linguistik ia melampaui pola manusia
• Secara psikologis ia menembus pertahanan ego
• Secara kognitif ia melampaui kapasitas kombinasi
• Secara historis ia mengubah peradaban
• Secara spiritual ia berbicara ke fitrah terdalam
Ia bukan karya otak.
Ia kalam Rabbul ‘Alamin.
Dan pertanyaan terakhir…
Apakah kita hanya mengagumi i’jaznya…
Atau kita tunduk kepadanya?
Post a Comment