Tantangan yang Tak Pernah Terjawab & Ancaman yang Tak Boleh Diremehkan
Tantangan yang Tak Pernah Terjawab & Ancaman yang Tak Boleh Diremehkan
Tafsir Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 24
I. PEMBUKAAN: TANTANGAN YANG BERUBAH MENJADI ANCAMAN
Allah berfirman:
فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ
“Jika kamu tidak mampu membuat(-nya) — dan pasti kamu tidak akan mampu membuat(-nya) — maka takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu; yang disediakan bagi orang-orang kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 24)
Ayat ini datang setelah tantangan di ayat 23.
Allah bukan hanya menantang…
Allah memastikan kegagalan mereka.
“وَلَنْ تَفْعَلُوا” — dan kalian tidak akan pernah mampu.
Ini bukan prediksi.
Ini deklarasi Ilahi.
II. “LAN TAF’ALU” — PENEGASAN MUSTAHIL (Analisa Bahasa)
Kata “لَنْ” (lan) dalam ilmu nahwu menunjukkan penafian masa depan yang tegas.
Imam Al-Zamakhshari menjelaskan bahwa penggunaan “lan” di sini adalah penegasan bahwa ketidakmampuan itu permanen.
📖 Tafsir al-Kasysyaf
Imam Ibn Kathir berkata:
“Ini adalah pemberitahuan dari Allah bahwa mereka tidak akan mampu selamanya.”
📖 Tafsir Ibn Kathir
Artinya…
Bukan “belum bisa”.
Bukan “kurang latihan”.
Bukan “nanti upgrade versi 2.0”.
Tapi mustahil.
Kalau Qur’an itu buatan manusia…
Harusnya 1400 tahun cukup untuk bikin tandingannya.
Tapi yang terjadi?
Yang ada cuma status WhatsApp yang typo-nya lima baris satu.
III. DALIL PENGUAT TANTANGAN
Allah berfirman:
قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا
“Katakanlah: Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu.”
(QS. Al-Isrā’: 88)
Perhatikan:
Manusia + jin + kolaborasi global + dukungan penuh.
Tetap gagal.
Kalau sekarang orang bikin startup saja butuh investor, co-founder, mentor, AI, WiFi kenceng…
Tetap sering bangkrut.
Apalagi meniru kalamullah.
IV. DARI TANTANGAN MENUJU ANCAMAN
Karena gagal…
Allah berfirman:
فَاتَّقُوا النَّارَ
“Maka takutlah pada neraka.”
Ini perubahan nada.
Dari diskusi intelektual…
Menjadi peringatan eksistensial.
Imam Fakhr al-Din al-Razi menjelaskan:
Setelah bukti ditegakkan, tidak tersisa alasan kecuali takut kepada konsekuensi.
📖 Mafatih al-Ghaib
V. NERAKA YANG BAHAN BAKARNYA MANUSIA DAN BATU
وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Bahan bakarnya manusia dan batu.
Imam Al-Tabari menjelaskan bahwa batu di sini adalah batu berhala yang dahulu mereka sembah.
📖 Tafsir al-Tabari
Artinya:
Yang mereka agungkan di dunia…
Jadi bahan bakar di akhirat.
Ironis.
Kalau di dunia orang bakar sampah…
Kalau di akhirat manusia yang jadi bahan bakarnya.
Na’udzubillah.
VI. DALIL DARI SUNNAH
Rasulullah ﷺ bersabda:
نَارُكُمْ هَذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ
“Api kalian ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api Jahannam.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 3265 dan Sahih Muslim no. 2843)
Para sahabat berkata:
“Ya Rasulullah, api dunia saja sudah cukup panas.”
Beliau menjawab:
“Ia ditambah 69 kali lipat panasnya.”
Sekarang coba bayangkan…
Kompor saja kita tiup-tiup.
Ini 70 kali lipat.
Di dunia kena knalpot motor saja kita refleks bilang “Astaghfirullah!”
Di akhirat bukan knalpot.
Tapi Jahannam.
VII. PERSPEKTIF AQIDAH AHLUS SUNNAH
Ahlus Sunnah menetapkan bahwa neraka sudah diciptakan sekarang.
Dalilnya:
اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ
“Telah disediakan.”
Kata kerja bentuk lampau.
Imam Al-Qurtubi menegaskan:
Ini dalil bahwa neraka sudah ada dan bukan sekadar simbol.
📖 Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an
VIII. HUMOR SEJENAK (BIAR JAMA’AH HIDUP)
Kadang orang berkata:
“Ah, neraka cuma simbol.”
Kalau simbol…
Kenapa kita takut listrik naik?
Itu juga simbol angka di meteran.
Tapi waktu tagihan datang…
Langsung tobat.
Lucunya manusia…
Takut sama tagihan PLN.
Takut sama debt collector.
Tapi tak takut sama Malik penjaga neraka.
Padahal debt collector paling cuma ambil motor.
Kalau malaikat Zabaniyah ambil… ya diri kita.
IX. PELAJARAN BESAR AYAT
- Al-Qur’an mustahil ditiru.
- Kegagalan itu sudah dipastikan.
- Setelah bukti, tinggal pilihan: iman atau neraka.
- Neraka bukan dongeng.
- Kesombongan intelektual berujung kehancuran.
X. PENUTUP RENUNGAN
Kalau manusia tak mampu membuat satu ayat saja…
Mengapa kita merasa mampu melawan isinya?
Kalau manusia tak mampu meniru Qur’an…
Mengapa kita berani mengabaikannya?
Masalahnya bukan kurang bukti.
Masalahnya hati.
Sebagaimana firman Allah:
خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ
“Allah telah mengunci hati mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 7)
Semoga hati kita tidak termasuk yang terkunci.
Post a Comment