JANGAN SAMPAI KITA TERMASUK ORANG MUNAFIK: BEDAH SURAH AL-MUNĀFIQŪN
JANGAN SAMPAI KITA TERMASUK ORANG MUNAFIK: BEDAH SURAH AL-MUNĀFIQŪN
🟢 PEMBUKAAN
الحمد لله رب العالمين… نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه…
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Surah Al-Munāfiqūn bukan sekadar cerita tentang Abdullah bin Ubay. Bukan hanya tentang sejarah Madinah. Bukan hanya tentang orang lain.
Surah ini adalah alarm. Sirene bahaya. Lampu merah yang menyala keras di hati kita.
Karena penyakit nifaq tidak terlihat di wajah. Tidak tertulis di KTP. Tidak terdengar dalam adzan.
Ia bersembunyi… di balik senyum. di balik ucapan “InsyaAllah”. di balik kalimat “Demi Allah”.
BAGIAN 1
LISAN BERIMAN, HATI MENOLAK
📖
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ...
“Mereka berkata: Kami bersaksi engkau Rasul Allah…”
Allah langsung jawab:
وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
“Allah bersaksi mereka pendusta.”
Pendusta bukan pada kalimatnya… Tapi pada hatinya.
Ibn Katsir menjelaskan: Mereka benar secara ucapan, tapi batin mereka mengingkari.
Saudaraku…
Berapa banyak orang Islam lisannya? Berapa banyak yang rajin upload ayat? Berapa banyak yang pandai ceramah?
Tapi hatinya tidak tunduk.
Iman bukan di story WhatsApp. Iman bukan di bio Instagram. Iman itu di dalam dada.
BAGIAN 2
SUMPAH JADI TAMENG
📖
اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً
“Mereka menjadikan sumpah sebagai perisai.”
Mereka bersumpah agar selamat. Agar dipercaya. Agar dianggap baik.
Tapi sumpah itu hanya tameng. Bukan taubat.
Hari ini juga ada yang seperti itu. Kalau ditanya: “Kamu yang salah?” Jawabnya: “Demi Allah bukan!”
Nama Allah dipakai untuk melindungi ego.
Hati-hati… Kalau sumpah sudah jadi alat politik. Kalau agama sudah jadi alat pencitraan.
Itu bau nifaq.
BAGIAN 3
HATI YANG DIKUNCI
📖
فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ
“Hati mereka dikunci.”
Kenapa dikunci?
Karena mereka tahu kebenaran. Tapi menolak.
Dosa yang berulang… menghitamkan hati. Lama-lama tertutup.
Ibn Rajab berkata: Dosa kecil yang terus diulang lebih berbahaya dari dosa besar yang disesali.
Jangan tunggu hati keras. Jangan tunggu shalat tidak terasa apa-apa. Jangan tunggu menangis sudah sulit.
Kalau hari ini masih bisa menangis… itu tanda hati belum mati.
BAGIAN 4
TAMPILAN MEMUKAU, DALAMNYA KOSONG
📖
كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ
“Mereka seperti kayu tersandar.”
Besar. Tinggi. Tegap.
Tapi kosong.
Bisa fasih. Bisa berorasi. Bisa terlihat alim.
Tapi tidak memahami.
Imam Al-Qurthubi berkata: Mereka indah rupa dan tutur, namun kosong dari hidayah.
Hari ini… Kita takut miskin harta. Tapi tidak takut miskin iman.
Kita takut wajah kusam. Tapi tidak takut hati hitam.
BAGIAN 5
SOMBONG MENOLAK AMPUNAN
📖
لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ
“Mereka memalingkan kepala.”
Diajak istighfar… malah menoleh dengan sombong.
Kesombongan itu akar nifaq.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi.”
(HR Muslim)
Kadang kita bukan tidak tahu salah. Kita hanya gengsi mengaku salah.
Dan gengsi itu bisa mengantar ke neraka.
BAGIAN 6
MERASA PALING KUAT
📖
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
“Kemuliaan itu milik Allah, Rasul-Nya, dan orang beriman.”
Orang munafik berkata: “Kami yang kuat, kami yang terhormat.”
Allah jawab: Kemuliaan bukan milikmu. Jabatan bukan kemuliaan. Harta bukan kemuliaan.
Kemuliaan itu iman.
Bisa jadi orang miskin di dunia… tapi namanya harum di langit.
BAGIAN 7
HARTA DAN ANAK MELALAIKAN
📖
لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Jangan harta dan anak melalaikan dari dzikir.”
Banyak orang kerja demi anak. Tapi lupa mendidik anak.
Banyak orang kumpulkan harta. Tapi jarang kumpulkan pahala.
Harta bukan salah. Anak bukan salah. Yang salah adalah ketika Allah jadi nomor dua.
BAGIAN 8
PENYESALAN TERLAMBAT
📖
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي…
“Ya Rabb, tunda aku sedikit saja…”
Permintaan itu datang saat sakaratul maut. Saat napas sudah sesak. Saat dunia sudah gelap.
Tapi Allah jawab:
وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا
“Allah tidak akan menunda ajal.”
Hari ini kita masih bisa istighfar. Masih bisa sedekah. Masih bisa shalat.
Besok? Belum tentu.
🎯 PENUTUP
Saudaraku…
Nifaq itu bukan label. Ia penyakit.
Dan obatnya:
- Jujur pada diri sendiri.
- Selaraskan lisan dan hati.
- Perbanyak istighfar.
- Jangan sombong.
- Jangan tunda taubat.
Jangan tunggu sakaratul maut untuk sadar. Jangan tunggu tubuh terbujur untuk menyesal.
🤲 DOA
Ya Allah… Engkau yang membolak-balikkan hati…
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.
Ya Allah… Jika di hati kami ada nifaq… Jika di lisan kami ada dusta… Jika di amal kami ada riya… Ampuni kami…
Ya Allah… Kami takut menjadi seperti mereka… yang lisannya bersyahadat… tapi hatinya ingkar…
Kami takut ya Allah… Engkau kunci hati kami… Engkau tutup mata hati kami… Engkau biarkan kami dalam kegelapan…
Ya Allah… Jangan Engkau cabut iman kami diam-diam… Jangan Engkau biarkan kami tersenyum di dunia… namun terhina di akhirat…
Ya Allah… Kami sering lalai karena harta… Kami sering sibuk karena anak… Kami sering menunda taubat…
Padahal kematian dekat… Lebih dekat dari urat leher…
Ya Allah… Jika malam ini adalah malam terakhir kami… ampuni kami…
Jika ini sujud terakhir kami… terimalah…
Jika ini tangisan terakhir kami… jadikan ia penghapus dosa…
Ya Allah… Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang yang berkata: “Ya Rabb, kembalikan aku…”
Padahal sudah terlambat…
Ya Allah… Akhiri hidup kami dengan husnul khatimah… Matikan kami dalam iman… Kumpulkan kami bersama Nabi Muhammad ﷺ…
آمِين يا رب العالمين
Post a Comment