KEPOMPONG RAMADHAN
🌙 KEPOMPONG RAMADHAN
PEMBUKAAN
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn…
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ…
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah…
Kita berkumpul malam ini bukan sekadar menghadiri ceramah. Kita sedang berdiri di dalam kepompong Ramadhan. Kepompong yang bisa mengubah hidup kita… atau justru kita keluar darinya tetap seperti ulat yang sama.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Bukan agar kita lapar.
Bukan agar kita haus.
Tapi agar kita menjadi muttaqin.
BAGIAN 1 – METAMORFOSA JIWA
Intonasi perlahan naik.
Pernahkah Anda melihat ulat?
Menjijikkan? Mungkin.
Kita hindari. Kita jauhi.
Tapi saat ia masuk kepompong… ia berdiam. Ia tidak protes. Ia tidak mengeluh. Ia tidak berkata:
“Kenapa saya harus gelap-gelapan?”
Beberapa hari…
Lalu keluar sebagai kupu-kupu.
Saudara-saudaraku…
Ramadhan adalah kepompong.
Pertanyaannya…
Apakah kita benar-benar masuk ke dalamnya… atau hanya numpang lewat?
🔹 Refleksi Interaktif 1
Coba tanya dalam hati…
- Sudah berapa Ramadhan kita lewati?
- Apa yang berubah dalam diri kita?
- Marah kita berkurang?
- Lisan kita lebih lembut?
- Atau cuma berat badan yang turun… lalu naik lagi setelah lebaran?
BAGIAN 2 – PERANG TERBESAR: MELAWAN NAFSU
Intonasi mulai tegas, ritme cepat.
Allah berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi’at: 40–41)
Musuh kita bukan cuma setan.
Musuh kita… ada di dalam diri kita.
Nafsu.
Ramadhan melatih kita berkata pada diri sendiri:
“TIDAK.”
Lapar? Tidak makan.
Haus? Tidak minum.
Marah? Tahan.
Ghibah? Stop.
Kalau siang hari kita bisa menahan lapar karena Allah…
Kenapa setelah Ramadhan kita tidak bisa menahan dosa karena Allah?
🔹 Refleksi Interaktif 2
Coba jawab dalam hati…
Kalau Allah mampu menahan kita dari makan 14 jam…
Kenapa kita merasa tidak mampu menahan lisan 5 menit?
Kalau kita sanggup bangun sahur jam 3 pagi…
Kenapa sulit bangun tahajud di bulan lain?
Saudara-saudaraku…
Masalahnya bukan pada kemampuan.
Masalahnya pada kemauan.
BAGIAN 3 – SYETAN DIBELENGGU, KITA MASIH BANDAL?
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Setan dibelenggu.
Kalau masih maksiat…
Itu siapa yang aktif?
Kadang kita ini lucu.
Setan dibelenggu…
Kita tetap cari dosa.
Seperti orang diet… kulkasnya dikunci…
Dia pesan makanan online.
Ramadhan bukan hanya soal menahan makan.
Ramadhan adalah pelatihan ulang jiwa.
BAGIAN 4 – AKHLAK SEBAGAI TAMU ALLAH
Kita disebut tamu Allah di bulan ini.
Sebagai tamu… apa adabnya?
Menjaga lisan.
Menjaga pandangan.
Menjaga hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)
Puasa tanpa akhlak…
Seperti kepompong kosong.
🔹 Refleksi Interaktif 3
Bayangkan…
Jika ini Ramadhan terakhir kita…
Apa yang akan kita sesali?
- Kurang tilawah?
- Kurang sedekah?
- Terlalu sibuk dengan HP?
- Terlalu banyak debat dunia… sedikit sujud malam?
Saudara-saudaraku…
Berapa banyak teman kita Ramadhan lalu masih ada…
Ramadhan ini sudah di alam kubur…
Dan mungkin tahun depan… giliran siapa?
BAGIAN 5 – MENJELANG KLIMAKS
Ramadhan adalah ruang gelap kepompong.
Gelap.
Sepi.
Sunyi.
Tapi justru di ruang gelap itulah…
Allah sedang membentuk kita.
Jangan keluar Ramadhan tetap seperti kita yang lama.
Jangan biarkan 30 hari hanya jadi ritual.
Biarkan ia menjadi revolusi.
🔹 Pertanyaan Terakhir (Hantaman Hati)
Kalau malam ini Allah memanggil kita…
Apa yang bisa kita banggakan?
Puasa yang penuh ghibah?
Shalat yang penuh pikiran dunia?
Sedekah yang penuh riya?
Atau hati yang benar-benar hancur di hadapan-Nya?
DOA
Ya Allah…
Jika kami masih seperti ulat yang kotor…
Masukkan kami ke kepompong Ramadhan-Mu.
Jika hati kami masih keras…
Lunakkan dengan ayat-ayat-Mu.
Jika kami masih sering kalah oleh nafsu…
Jadikan Ramadhan ini pelatihan terakhir sebelum Engkau panggil kami.
Ya Allah…
Jangan keluarkan kami dari Ramadhan ini…
Kecuali telah Engkau ampuni dosa-dosa kami.
Jangan jadikan kami keluar sebagai ulat yang sama…
Tapi keluarkan kami sebagai kupu-kupu takwa.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Post a Comment