KEPOMPONG RAMADHAN: DARI ULAT MENJADI KUPU-KUPU SURGA
🐛🦋 KEPOMPONG RAMADHAN: DARI ULAT MENJADI KUPU-KUPU SURGA
🌙 MUQADDIMAH
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Alhamdulillāh… segala puji hanya bagi Allah ﷻ yang masih mempertemukan kita dengan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ.
Jamaah yang dirahmati Allah…
Pernahkah kita melihat ulat bulu?
Sebagian ibu-ibu kalau lihat ulat, refleksnya bukan dzikir… tapi teriakan 😄
Anak-anak lari. Bapak-bapak pura-pura berani.
Tapi siapa sangka… makhluk yang menjijikkan itu, setelah masuk kepompong… keluar menjadi kupu-kupu indah.
Itulah metamorfosis.
Dan Ramadhan… adalah kepompong jiwa kita.
🕋 BAGIAN 1: PUASA ADALAH IBADAH PALING RAHASIA
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari no. 1904; Muslim no. 1151)
📖 Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa puasa istimewa karena ia ibadah yang paling jauh dari riya’. Tidak ada yang tahu kecuali Allah dan pelakunya.
Puasa itu seperti kepompong:
Sepi… sunyi… tidak dilihat orang… tapi justru di situlah perubahan terjadi.
Kalau shalat bisa dilihat.
Sedekah bisa dipublikasikan.
Puasa? Mau batal diam-diam pun tak ada yang tahu… kecuali Allah.
🐛 BAGIAN 2: ULAT ITU SEPERTI NAFSU
Allah berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى • فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi’at: 40–41)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan: menahan hawa nafsu adalah inti keberhasilan menuju surga.
Nafsu itu seperti ulat bulu.
Kalau dibiarkan… ia makan daun apa saja.
Kalau nafsu dibiarkan… ia makan pahala kita!
😄 Ada orang puasanya kuat… tapi lisannya seperti mesin potong rumput. Gosip ke sana-sini.
Puasa menahan lapar…
Tapi belum tentu menahan komentar pedas.
👿 BAGIAN 3: PELATIH NAFSU ITU SYAITAN
Allah berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya syaitan itu musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuhmu.”
(QS. Fathir: 6)
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa permusuhan syaitan bersifat terus-menerus sampai hari kiamat.
Tapi kabar gembira…
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Jika Ramadhan datang, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaitan dibelenggu.”
(HR. Bukhari no. 1899; Muslim no. 1079)
Bayangkan…
Pelatih keburukan sedang diikat!
Kalau masih kalah juga… berarti masalahnya bukan syaitan… 😄
🦋 BAGIAN 4: METAMORFOSIS MENUJU MUTTAQIN
Allah menutup ayat puasa dengan:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian menjadi orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa itu seperti kupu-kupu.
Indah. Ringan. Tidak merusak.
Ke mana pun hinggap, membawa keindahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi no. 2018; hasan shahih)
Ramadhan bukan cuma menahan lapar…
Tapi memperindah akhlak.
Kalau setelah Ramadhan kita masih suka marah-marah…
Berarti kita masih ulat… belum kupu-kupu 😄
🏠 BAGIAN 5: RAMADHAN – MENJADI TAMU ALLAH
Rasulullah ﷺ menyebut Ramadhan sebagai bulan penuh berkah.
Allah memperlakukan kita sebagai tamu.
Tapi tamu juga harus tahu adab.
Tidak mungkin tamu masuk rumah orang…
Buka kulkas seenaknya…
Gosip di ruang tamu…
Lalu berharap diperlakukan istimewa 😄
Maka jagalah:
✔ Puasa lisan
✔ Puasa mata
✔ Puasa telinga
✔ Puasa hati
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa hakiki adalah puasa seluruh anggota tubuh dari maksiat.
🌅 PENUTUP: KELUAR DARI KEPOMPONG
Jamaah…
Ulat tidak bisa menjadi kupu-kupu tanpa masuk kepompong.
Kita tidak bisa menjadi muttaqin tanpa masuk kepompong Ramadhan.
Kalau Ramadhan berlalu…
Tapi kita masih sama…
Berarti kita cuma tidur di kepompong… tidak berubah.
Mari kita mohon kepada Allah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ
Ya Allah jadikan kami orang-orang bertakwa.
اللَّهُمَّ بَدِّلْ سَيِّئَاتِنَا حَسَنَاتٍ
Ya Allah ubah keburukan kami menjadi kebaikan.
Ya Allah…
Jadikan Ramadhan ini proses metamorfosa kami…
Dari jiwa penuh dosa…
Menjadi jiwa penuh cahaya…
Sebagaimana ulat keluar menjadi kupu-kupu indah…
Jadikan kami hamba yang keluar dari Ramadhan dalam keadaan fitrah, bersih, dan Engkau ridha.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
📚 FOOTNOTE RUJUKAN
- Syarh Shahih Muslim
- Tafsir Ibnu Katsir
- Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an
- Ihya Ulumuddin
Post a Comment