PUASA YANG DISYARI’ATKAN
PUASA YANG DISYARI’ATKAN
Puasa Hati, Lisan, dan Seluruh Anggota Badan
PEMBUKAAN
Mukadimah
Alhamdulillāhilladzī ja‘ala ash-shiyāma junnatan lin-nufūs…
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mensyariatkan puasa, bukan untuk menyiksa hamba-Nya, tapi untuk memuliakan jiwa.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang puasanya bukan hanya menahan lapar, tapi menaklukkan nafsu.
Jamaah rahimakumullah…
Kalau puasa cuma nahan makan dan minum, kulkas juga puasa.
Kalau puasa cuma nahan nasi dan es teh, jam dinding juga puasa.
Tapi puasa yang disyariatkan bukan puasa perut saja — tapi puasa total!
BAGIAN I
HAKIKAT PUASA YANG DISYARI’ATKAN
🔹 Definisi Puasa yang Benar
Puasa yang disyariatkan adalah:
- Puasanya perut dari makan & minum
- Dan puasanya seluruh anggota badan dari dosa
📖 Dalil Al-Qur’an
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
📌 Catatan Ulama
Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan:
Tujuan puasa bukan lapar, tapi lahirnya takwa — yaitu meninggalkan yang haram dan syubhat.
📚 Tafsir Ibn Katsir
👉 Kalau setelah puasa, masih ringan berdusta, ringan ghibah, ringan maksiat — berarti puasanya cuma “diet tahunan”.
😄 Humor ringan:
“Ada orang buka puasa pakai kolak…
tapi sejak zuhur sudah ‘mengkolak’ orang lain.”
BAGIAN II
PUASA ANGGOTA BADAN
1️⃣ Puasa Lisan
📖 Hadits Nabi ﷺ
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, dan kebodohan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Al-Bukhari no. 1903)
📌 Komentar Ulama Imam Ibn Rajab رحمه الله:
Ini dalil bahwa dosa-dosa memangkas pahala puasa, bahkan bisa mengosongkannya.
📚 Lathā’if al-Ma‘ārif
😄 Humor :
“Puasa seharian…
pahala habis di grup WhatsApp keluarga.”
2️⃣ Puasa Mata dan Telinga
- Mata puasa dari melihat yang haram
- Telinga puasa dari ghibah & fitnah
📖 Dalil Umum
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
“Katakan kepada orang beriman agar menundukkan pandangan mereka.”
(QS. An-Nur: 30)
📌 Ulama Salaf berkata:
Puasa itu menahan diri dari apa yang dibenci Allah, bukan sekadar dari roti dan air.
3️⃣ Puasa Hati
Inilah yang paling berat:
- Puasa dari hasad
- Puasa dari sombong
- Puasa dari dendam
📖 Hadits
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً… أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Itulah hati.”
(HR. Al-Bukhari & Muslim)
😌 Jeda hening (biarkan jamaah merenung)
BAGIAN III
PUASA PALSU vs PUASA ASLI
📖 Hadits Nabi ﷺ
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ahmad – hasan shahih)
📌 Penjelasan Imam Ahmad
Ini peringatan keras bahwa puasa bisa gugur pahalanya karena maksiat.
😄 Humor reflektif:
“Puasanya sah, pahalanya… cuti.”
BAGIAN IV
ORANG YANG BENAR-BENAR BERPUASA
Ciri-cirinya:
- Lisannya bersih
- Akhlaknya lembut
- Kehadirannya menenangkan
📖 Hadits
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi.”
(HR. At-Tirmidzi – hasan shahih)
📌 Makna Ulama Imam An-Nawawi:
Yang dimaksud harum di sisi Allah adalah kedudukan dan pahalanya, bukan baunya secara fisik.
📚 Syarh Shahih Muslim
DOA
Allahumma yā Rabb…
Jika puasa kami hanya lapar dan dahaga, ampuni kami…
Jika lisan kami masih melukai, bersihkan kami…
Jika hati kami masih keras, luluhkan kami…
Yā Allah…
Jadikan puasa ini puasa yang Engkau terima,
Bukan hanya sah di fiqh,
Tapi hidup di hati…
Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang yang puasanya sia-sia…
Jadikan Ramadhan ini titik balik hidup kami…
🤲 Allahumma taqabbal minnā…
📚 KITAB RUJUKAN UTAMA
- Zaādul Ma‘ād – Ibnul Qayyim
- Lathā’if al-Ma‘ārif – Ibn Rajab
- Syarh Shahih Muslim – Imam An-Nawawi
- Tafsir Ibn Katsir
- Fathul Bari – Ibn Hajar
Post a Comment