Ketika Laut Terbelah: Antara Mukjizat, Syukur, dan Bahaya Kufur Nikmat
“Ketika Laut Terbelah: Antara Mukjizat, Syukur, dan Bahaya Kufur Nikmat”
Rujukan utama: Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 50.
I. Pembukaan: Nikmat yang Disaksikan dengan Mata Kepala
Allah Ta‘ala berfirman:
وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ
“(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikutnya, sedangkan kamu menyaksikan (nya).” (Al-Baqarah:50)
Ayat ini adalah kelanjutan dari nikmat sebelumnya: dibebaskan dari penyiksaan, lalu diselamatkan dari kejaran Fir‘aun.
Perhatikan kalimat: وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ “Kalian menyaksikan sendiri.”
Ini bukan cerita turun-temurun. Ini bukan dongeng. Mereka melihat sendiri laut terbelah dan musuh tenggelam.
II. Kronologi Mukjizat: Dari Istana Fir‘aun ke Laut Terbelah
Allah juga berfirman:
فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
“Maka Kami wahyukan kepada Musa: Pukullah laut dengan tongkatmu! Maka terbelahlah laut itu dan setiap belahannya seperti gunung yang besar.” (Asy-Syu'ara:63)
Tafsir Ulama
🔹 Ibnu Katsir menjelaskan:
Air laut berdiri seperti gunung besar, tidak roboh hingga Bani Israil melewati dua belas jalur sesuai jumlah suku mereka.
(Tafsir Ibn Katsir, 1/230)
🔹 Al-Qurtubi menyebut:
Ini pembatalan hukum alam oleh Allah sebagai bukti kekuasaan mutlak-Nya.
(Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, 1/402)
Air secara hukum alam tidak bisa berdiri tanpa penahan. Tapi jika Allah berkehendak? Hukum alam tunduk kepada Sang Pencipta.
III. Saat Semua Jalan Tertutup: Keyakinan Nabi Musa
Ketika di depan laut dan di belakang tentara, kaum Musa berkata:
إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
“Pasti kita akan tersusul!” (Asy-Syu'ara:61)
Musa menjawab:
كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy-Syu‘ara:62)
Pelajaran: Iman bukan terlihat saat jalan lapang. Iman terlihat saat jalan buntu.
Humor ringan: Kadang kita baru panik kalau saldo ATM tinggal dua digit. Padahal iman Musa tetap stabil walau di depan laut, belakang pasukan elit. 😄
IV. Fir‘aun Tenggelam: Akhir Kesombongan
Allah berfirman tentang detik terakhir Fir‘aun:
حَتَّىٰٓ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِىٓ ءَامَنَتْ بِهِۦ بَنُوٓا۟ إِسْرَٰٓءِيلَ
“Hingga ketika dia hampir tenggelam, dia berkata: Aku beriman bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhan yang diimani Bani Israil.” (Yunus:90)
Jawaban Allah:
ءَآلْـَٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ
“Baru sekarang? Padahal sebelumnya engkau durhaka.” (Yunus:91)
Pesan keras: Taubat itu sebelum tenggorokan sampai di kerongkongan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Allah menerima taubat seorang hamba selama belum sampai (ruh) di tenggorokan.” (HR. Sunan al-Tirmidzi no. 3537; hasan)
V. Syukur Setelah Selamat
Bani Israil diselamatkan. Musuh tenggelam. Mereka menyaksikan.
Lalu bagaimana respons seorang mukmin ketika selamat?
Ketika Nabi ﷺ mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, beliau bertanya. Mereka menjawab: Ini hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir‘aun.
Beliau bersabda:
نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَىٰ مِنْكُمْ
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” (HR. Sahih al-Bukhari no. 2004; Sahih Muslim no. 1130)
Lalu beliau berpuasa sebagai bentuk syukur.
Pelajaran: Keselamatan → syukur. Bukan keselamatan → lupa.
VI. Bahaya Kufur Nikmat
Ironisnya… Setelah laut terbelah dan Fir‘aun tenggelam, Bani Israil tidak lama kemudian berkata:
يَا مُوسَىٰ اجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌ
“Wahai Musa, buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka punya tuhan.” (Al-A'raf:138)
🔹 Ibnu Katsir menyebut ini bentuk kebodohan setelah menyaksikan mukjizat besar.¹
Inilah bahaya: Melihat mukjizat tidak menjamin hati istiqamah.
Humor: Kadang habis dari masjid nangis-nangis… Keluar parkiran marah-marah. 😄
VII. Relevansi untuk Umat Ini
Allah berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah.” (Ibrahim:7)
Ujian kita mungkin bukan laut terbelah. Tapi:
- Lolos dari kecelakaan
- Sembuh dari sakit
- Selamat dari kebangkrutan
Apakah kita sujud syukur? Atau update status dulu?
VIII. Penutup: Laut dalam Kehidupan Kita
Saudaraku…
Dalam hidup ada “laut”:
- Laut hutang
- Laut masalah rumah tangga
- Laut penyakit
- Laut tekanan hidup
Jika Musa berkata: “Inna ma‘iya Rabbī.”
Mengapa kita ragu berkata: “Allah bersamaku.”
Fir‘aun tenggelam. Musa selamat. Orang sabar dimenangkan.
Allah berfirman:
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Kesudahan yang baik bagi orang-orang bertakwa.” (Al-A'raf:128)
CATATAN KAKI RUJUKAN
- Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Juz 1 hlm. 230–235.
- Al-Qurtubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, Juz 1 hlm. 402–410.
- Al-Tabari, Jāmi‘ al-Bayān, Juz 1 hlm. 470.
- Sahih al-Bukhari.
- Sahih Muslim.
- Sunan al-Tirmidzi.
Post a Comment