Nikmat Bisa Mengangkat… Bisa Menjatuhkan


“Nikmat Bisa Mengangkat… Bisa Menjatuhkan”

Tafsir QS. Al-Baqarah: 47

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 47:

يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اذْكُرُوْا نِعْمَتِيَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَاَنِّيْ فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ
“Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu atas seluruh umat (pada masa itu).”


BAGIAN 1 — PEMBUKAAN 

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Ayat ini bukan sekadar kisah sejarah.
Ini cermin.

Allah tidak memanggil: “Wahai orang-orang durhaka!”
Allah memanggil dengan kehormatan:

“Wahai anak keturunan Israil.”

Israil adalah Nabi Ya'qub عليه السلام.

Seakan Allah berkata:
“Kalian anak seorang nabi… kenapa hidup seperti bukan anak nabi?”

Dan malam ini pertanyaan itu bisa jadi untuk kita:

Kita umat Nabi Muhammad ﷺ…
Apakah akhlak kita sudah seperti umat Nabi?


BAGIAN 2 — GELOMBANG EMOSI PERTAMA 

Allah mengingatkan nikmat:

  • Diselamatkan dari Fir’aun
  • Laut dibelah
  • Manna dan salwa turun
  • Taurat diturunkan
  • Banyak nabi lahir dari mereka

Allah berfirman:

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ
“Kami telah memberi Bani Israil Kitab, hikmah dan kenabian.”
(QS. Al-Jatsiyah: 16)

Allahu Akbar…

Nikmat sebesar itu.

Tapi apa yang terjadi?

Mereka lupa.


BAGIAN 3 —  REFLEKTIF

Hadirin…

Nikmat itu seperti api.

Kalau dijaga → menghangatkan.
Kalau lalai → membakar.

Allah berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Allah tidak mengubah nikmat suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”
(QS. Al-Anfal: 53)

Nikmat dicabut bukan karena Allah zalim.
Nikmat dicabut karena manusia berubah.


BAGIAN 4 — HUMOR 

Kadang kita ini unik banget.

Dikasih motor baru: “Alhamdulillah ya Allah!”

Sebulan kemudian: Motor dipakai ngebut ke tempat maksiat 🤦‍♂️

Dikasih jabatan: “Ini amanah ya Allah!”

Seminggu kemudian: Mulai cari “amplop silaturahmi” 😅

Nikmat berubah jadi ujian.
Ujian berubah jadi jebakan.

Kadang kita pikir: “Rezeki naik berarti Allah sayang.”

Belum tentu!
Bisa jadi Allah sedang menguji.


BAGIAN 5 — NAIK TINGGI (MENGGETAR KAN)

Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 110)

Tapi syaratnya?

تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalau syaratnya ditinggalkan…

Apakah gelar “umat terbaik” otomatis selamanya?

Bani Israil pernah unggul.
Ketika mereka meninggalkan syariat, keutamaan itu berpindah.


BAGIAN 6 — TURUN DALAM (MENYAYAT)

Hadirin…

Bayangkan jika Allah berkata kepada kita:

“Aku beri kalian Al-Qur’an… tapi kalian lebih hafal lirik lagu.”

“Aku beri kalian waktu… tapi kalian lebih sibuk dengan dunia.”

“Aku beri kalian kesempatan taubat… tapi kalian menundanya.”

Allahu Akbar…

Apakah kita sedang mengulangi sejarah?


BAGIAN 7 — PUNCAK DRAMATIS

Nikmat terbesar bukan harta.
Bukan jabatan.
Bukan popularitas.

Nikmat terbesar adalah:

  • Iman.
  • Islam.
  • Hidayah.

Kalau iman hilang…
Apa artinya dunia?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
“Allah memberi tempo kepada orang zalim, hingga ketika Dia menyiksanya, tidak akan dilepaskan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan sampai nikmat hari ini adalah istidraj.


BAGIAN 8 — PENUTUP 

Hadirin…

Allah mengingatkan Bani Israil bukan untuk menghina.
Tapi untuk menyadarkan.

Dan malam ini… mungkin Allah sedang mengingatkan kita.

Masih ada waktu.

Masih ada kesempatan.

Jangan tunggu nikmat dicabut baru sadar.


🌙  DOA 

Ya Allah…
Engkau yang memberi nikmat tanpa kami minta…
Engkau yang memberi kesehatan tanpa kami bayar…
Engkau yang memberi iman tanpa kami beli…

Ya Allah…
Betapa banyak nikmat-Mu yang kami pakai untuk bermaksiat…
Betapa banyak waktu yang Engkau beri… tapi kami sia-siakan…

Ya Allah…
Jika hari ini Engkau cabut nikmat-Mu…
Kami tidak punya daya menahannya…

Jika Engkau cabut iman dari hati kami…
Kami tidak mampu mengembalikannya…

Ya Allah…
Jangan jadikan kami seperti kaum yang Engkau muliakan lalu Engkau hinakan…
Jangan jadikan kami umat yang Engkau beri cahaya lalu kami padamkan sendiri…

Ya Allah…
Ampuni dosa kami…
Dosa orang tua kami…
Dosa pasangan dan anak-anak kami…

Jika nikmat yang Engkau beri selama ini belum kami syukuri…
Maka ajari kami bersyukur sebelum Engkau mengambilnya…

Ya Allah…
Kami takut Engkau beri kami dunia…
Tapi Engkau jauhkan kami dari-Mu…

Kami takut Engkau beri kami kemudahan…
Tapi itu adalah istidraj…

Ya Allah…
Jangan Engkau cabut nikmat iman dari hati kami…
Jangan Engkau biarkan kami wafat dalam keadaan lalai…

Matikan kami dalam keadaan Engkau ridha…
Bangkitkan kami bersama Nabi-Mu…
Masukkan kami ke surga tanpa hisab…

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin…



Tidak ada komentar