Meraih Ridha Allah dengan Merendahkan Diri kepada Orang Tua

Materi Ceramah Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 24

"Meraih Ridha Allah dengan Merendahkan Diri kepada Orang Tua"

Mukadimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، والصلاة والسلام على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Pada ayat sebelumnya Allah melarang seorang anak berkata "ah" kepada kedua orang tuanya. Pada ayat ini Allah menyempurnakan adab tersebut dengan memerintahkan kita merendahkan diri, berkasih sayang, dan senantiasa mendoakan kedua orang tua.

Ayat ini bukan hanya berbicara tentang sopan santun, tetapi tentang akhlak seorang mukmin yang mengetahui besarnya jasa kedua orang tuanya.


Ayat yang Dikaji

Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 24

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Artinya:

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku pada waktu kecil.'"


Kandungan Pokok Ayat

Ayat ini mengandung empat perintah besar:

  1. Bersikap tawaduk kepada orang tua.
  2. Menunjukkan kasih sayang yang tulus.
  3. Senantiasa mendoakan kedua orang tua.
  4. Mengingat jasa mereka sejak kita masih kecil.

Pertama: Rendahkanlah Dirimu kepada Orang Tua

Allah berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

"Rendahkanlah dirimu kepada keduanya dengan penuh kasih sayang."

Ungkapan "merendahkan sayap" adalah kiasan yang indah dalam bahasa Arab, menggambarkan burung yang merendahkan sayapnya untuk melindungi anak-anaknya. Maksudnya adalah bersikap lembut, tawaduk, penuh hormat, dan tidak menyombongkan diri di hadapan orang tua.

Allah tidak memerintahkan kerendahan karena takut, tetapi kerendahan yang lahir dari kasih sayang (مِنَ الرَّحْمَةِ).


Dalil Al-Qur'an

Surah Luqmān Ayat 14

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ ۖ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya:

"Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu."


Surah Al-Aḥqāf Ayat 15

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا

Artinya:

"Kami telah mewasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya."


Kedua: Mengingat Besarnya Pengorbanan Orang Tua

Allah mengajarkan doa:

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

"Ya Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil."

Doa ini mengingatkan bahwa dahulu kita:

  • tidak mampu berjalan,
  • tidak mampu makan,
  • tidak mampu berbicara,
  • tidak mampu menjaga diri.

Namun kedua orang tua merawat kita tanpa mengharap balasan.


Hadis Tentang Besarnya Hak Orang Tua

Dari Abd Allah ibn Umar, Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki yang meminta izin berjihad:

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

Artinya:

"Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Ia menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Maka berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya."

Diriwayatkan oleh Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Pelajaran

Berbakti kepada orang tua dapat menjadi amal yang lebih utama daripada jihad sunnah apabila mereka membutuhkan kehadiran dan pelayanan anaknya.


Ketiga: Amal Paling Dicintai Allah

Dari Abd Allah ibn Mas'ud:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ

Artinya:

"Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: Amal apakah yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: Salat pada waktunya. Aku bertanya: Kemudian apa? Beliau menjawab: Berbakti kepada kedua orang tua."

Diriwayatkan oleh Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.


Keempat: Ibu Lebih Didahulukan dalam Bakti

Dari Abu Hurairah:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوكَ

Artinya:

"Seseorang bertanya: Siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Rasulullah ﷺ menjawab: Ibumu. Ia bertanya lagi: Kemudian siapa? Beliau menjawab: Ibumu. Ia bertanya lagi: Kemudian siapa? Beliau menjawab: Ibumu. Ia bertanya lagi: Kemudian siapa? Beliau menjawab: Ayahmu."

Diriwayatkan oleh Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Hikmah

Para ulama menjelaskan bahwa ibu didahulukan karena menanggung tiga beban besar: mengandung, melahirkan, dan menyusui. Adapun ayah memiliki keutamaan besar dalam nafkah, pendidikan, dan perlindungan keluarga.


Kelima: Berbakti Tidak Berakhir Setelah Orang Tua Wafat

Rasulullah ﷺ bersabda:

هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ: نَعَمْ؛ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا

Artinya:

"Masih adakah bentuk bakti kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal?" Beliau menjawab, "Ya, yaitu mendoakan dan memohonkan ampun untuk keduanya, melaksanakan wasiat mereka yang baik, memuliakan sahabat-sahabat mereka, serta menyambung silaturahmi dengan kerabat yang terhubung melalui keduanya."

Diriwayatkan oleh Sunan Ibn Majah. Hadis ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama.


Penjelasan Para Ulama

Ibn Kathir

Beliau menjelaskan bahwa Allah memerintahkan seorang anak untuk bersikap lembut, tawaduk, dan penuh kasih kepada kedua orang tua, terutama ketika mereka telah tua dan membutuhkan bantuan anak-anaknya.

Rujukan: Tafsir al-Qur'an al-'Azim


Abu Abd Allah al-Qurtubi

Beliau menerangkan bahwa makna "merendahkan sayap" adalah meninggalkan kesombongan, berbicara dengan lembut, memenuhi kebutuhan mereka, dan tidak merasa lebih tinggi daripada keduanya.

Rujukan: Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an


Abd al-Rahman ibn Nasir al-Sa'di

Beliau menjelaskan bahwa kasih sayang kepada orang tua harus lahir dari hati yang ikhlas, bukan karena adat, rasa malu, atau mencari pujian manusia.

Rujukan: Taisir al-Karim ar-Rahman


Yahya ibn Sharaf al-Nawawi

Dalam syarah hadis-hadis tentang birrul wālidayn, beliau menjelaskan bahwa berbakti mencakup memberi nafkah ketika mereka membutuhkan, melayani mereka, menaati dalam perkara yang ma'ruf, dan tidak menyakiti hati mereka. Bila mereka memerintahkan kemaksiatan, tidak boleh ditaati, tetapi tetap wajib memperlakukan mereka dengan baik.

Rujukan: Syarh Shahih Muslim


Implementasi Birrul Wālidayn di Zaman Sekarang

  1. Menjawab panggilan orang tua dengan lembut dan tidak meninggikan suara.
  2. Merawat mereka ketika sakit dan lanjut usia dengan sabar.
  3. Menafkahi mereka apabila membutuhkan.
  4. Meminta doa dan restu mereka sebelum melakukan urusan penting.
  5. Rutin mendoakan mereka, baik masih hidup maupun telah wafat.
  6. Menjaga nama baik keluarga dan tidak melakukan perbuatan yang menyakiti hati mereka.
  7. Menyambung silaturahmi dengan kerabat dan sahabat mereka setelah mereka wafat.

Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seorang anak bukan hanya pada ilmu, jabatan, atau kekayaan, tetapi juga pada kerendahan hati dan bakti kepada kedua orang tuanya. Jangan sampai kita menjadi orang yang sukses di hadapan manusia, tetapi gagal memenuhi hak ayah dan ibu. Selama mereka masih hidup, manfaatkan kesempatan untuk berbakti. Jika mereka telah wafat, jangan putus mengirimkan doa dan amal kebaikan untuk mereka.

Marilah kita menutup majelis ini dengan doa yang diajarkan Allah dalam ayat ini:

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Ya Tuhanku, sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah mendidikku ketika aku masih kecil."

Dan kita tambahkan doa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدَيْنَا، وَارْفَعْ دَرَجَاتِهِمَا فِي الْمَهْدِيِّينَ، وَاجْعَلْ قُبُورَهُمَا رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ، وَارْزُقْنَا بِرَّهُمَا فِي حَيَاتِهِمَا وَبَعْدَ مَمَاتِهِمَا، وَاجْمَعْنَا بِهِمَا فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى.

"Ya Allah, ampunilah kedua orang tua kami, angkatlah derajat mereka di kalangan orang-orang yang Engkau beri petunjuk, jadikan kubur mereka taman dari taman-taman surga, anugerahkan kepada kami kemampuan untuk berbakti kepada mereka semasa hidup dan setelah wafatnya, serta kumpulkan kami bersama mereka di Surga Firdaus."

آمين يا رب العالمين

Tidak ada komentar