Allah Yang Menciptakan Pertama Kali Pasti Mampu Membangkitkan Kembali

Materi Ceramah Tafsir Tahlili Al-Qur'an

Surah Al-Isrā' Ayat 51

"Allah Yang Menciptakan Pertama Kali Pasti Mampu Membangkitkan Kembali"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Salah satu prinsip akidah Islam yang tidak boleh diragukan adalah iman kepada hari kebangkitan (البعث). Dalam Surah Al-Isrā' ayat ke-51, Allah ﷻ memberikan jawaban yang sangat kuat terhadap keraguan kaum musyrikin tentang kemungkinan manusia dibangkitkan kembali setelah mati.


Ayat yang Dibahas

Firman Allah ﷻ

اَوْ خَلْقًا مِّمَّا يَكْبُرُ فِي صُدُورِكُمْ ۚ فَسَيَقُولُونَ مَنْ يُعِيدُنَا ۖ قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هُوَ ۖ قُلْ عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا

Artinya:

"Atau (jadilah) makhluk apa saja yang menurut pikiranmu sangat besar (dan mustahil hidup kembali). Maka mereka akan berkata, 'Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?' Katakanlah, 'Yang telah menciptakan kamu pertama kali.' Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala kepadamu dan berkata, 'Kapankah itu akan terjadi?' Katakanlah, 'Mudah-mudahan waktunya sudah dekat.'"
(QS. Al-Isrā': 51)


Kandungan Ayat

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Allah ﷻ menegaskan bahwa seandainya manusia berubah menjadi batu, besi, atau makhluk apa pun yang menurut akal mereka paling mustahil untuk hidup kembali, Allah tetap mampu membangkitkannya.

Kaum musyrikin lalu bertanya dengan nada mengejek:

مَنْ يُعِيدُنَا؟

"Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?"

Jawaban Allah sangat sederhana namun sangat kuat:

قُلِ الَّذِي فَطَرَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ

"Katakanlah: Yang menciptakan kamu pertama kali."

Logika Al-Qur'an sangat jelas: Dzat yang mampu menciptakan dari tiada tentu lebih mampu menghidupkan kembali apa yang pernah diciptakan.


Tafsir Para Ulama

1. Imam Ath-Ṭabari

Dalam Jāmi' al-Bayān, beliau menjelaskan bahwa ayat ini merupakan hujah rasional yang membungkam kaum musyrikin. Jika mereka mengakui Allah sebagai Pencipta pertama, maka tidak ada alasan untuk mengingkari kebangkitan.


2. Imam Ibnu Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Azhīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pertanyaan mereka bukanlah untuk mencari kebenaran, tetapi sebagai bentuk ejekan dan pengingkaran. Oleh sebab itu Allah memerintahkan Nabi ﷺ agar menjawab dengan dalil yang tidak dapat dibantah.


3. Imam Al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, beliau menjelaskan bahwa menggelengkan kepala (فَسَيُنْغِضُونَ إِلَيْكَ رُءُوسَهُمْ) adalah isyarat penghinaan dan ejekan. Mereka tetap menolak meskipun hujah telah jelas.


4. Imam Fakhruddin Ar-Razi

Dalam Mafātīḥ al-Ghaib, beliau menjelaskan bahwa ayat ini mengandung metode dialog Al-Qur'an yang menggabungkan dalil wahyu dan dalil akal. Al-Qur'an mengajak manusia berpikir dengan logika yang benar.


Dalil-Dalil Al-Qur'an

1. Allah Menghidupkan Tulang yang Hancur

QS. Yāsīn ayat 78–79

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ ۝ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Artinya:

"Dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya. Dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Yang akan menghidupkannya ialah Allah yang menciptakannya pertama kali, dan Dia Maha Mengetahui segala makhluk.'"

Pelajaran

Ayat ini hampir sama dengan Surah Al-Isrā' ayat 51, menunjukkan bahwa penciptaan pertama adalah bukti kuat adanya kebangkitan.


2. Allah Memulai dan Mengulangi Penciptaan

QS. Ar-Rūm ayat 27

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ

Artinya:

"Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali."


3. Kepastian Hari Kiamat

QS. Al-Hajj ayat 7

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Artinya:

"Hari Kiamat pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan Allah akan membangkitkan siapa pun yang berada di dalam kubur."


4. Waktu Kiamat Dirahasiakan

QS. Al-A'rāf ayat 187

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي

Artinya:

"Mereka bertanya kepadamu tentang hari Kiamat, kapankah terjadinya? Katakanlah, 'Sesungguhnya ilmu tentangnya hanya ada di sisi Tuhanku.'"

Pelajaran

Tidak ada seorang pun yang mengetahui waktu pasti hari Kiamat selain Allah ﷻ.


Dalil dari Sunnah

1. Tulang Ekor sebagai Awal Penyusunan Kembali

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْإِنْسَانِ عَظْمًا لَا تَأْكُلُهُ الْأَرْضُ أَبَدًا، فِيهِ يُرَكَّبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قَالُوا: أَيُّ عَظْمٍ هُوَ؟ قَالَ: عَجْبُ الذَّنَبِ

Artinya:

"Sesungguhnya pada diri manusia ada satu tulang yang tidak dimakan tanah selamanya. Dari tulang itulah manusia disusun kembali pada hari Kiamat." Mereka bertanya, "Tulang apakah itu?" Beliau menjawab, "Tulang ekor."

(HR. Muslim no. 2955)


2. Tentang Waktu Kiamat

Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril:

مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

Artinya:

"Orang yang ditanya tentang hari Kiamat tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya."

(HR. Al-Bukhari no. 50; Muslim no. 9)

Pelajaran

Nabi ﷺ sendiri tidak mengetahui waktu pasti datangnya hari Kiamat. Yang wajib bagi seorang mukmin adalah mempersiapkan diri.


3. Manusia Akan Dibangkitkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا

Artinya:

"Manusia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan."

(HR. Al-Bukhari no. 3349; Muslim no. 2859)


Komentar Para Ulama

Imam An-Nawawi

Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menegaskan bahwa seluruh hadis tentang kebangkitan harus diimani sebagaimana datangnya, tanpa mengubah maknanya. Kebangkitan jasmani dan ruhani adalah akidah yang disepakati Ahlus Sunnah wal Jama'ah.


Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani

Dalam Fathul Bārī, beliau menjelaskan bahwa pertanyaan "Kapankah hari Kiamat?" sering kali bukan untuk mencari ilmu, tetapi untuk mengejek. Oleh sebab itu Al-Qur'an lebih banyak mengarahkan manusia agar mempersiapkan diri daripada sibuk mencari waktunya.


Imam Ibnul Qayyim

Dalam Kitāb ar-Rūḥ, beliau menjelaskan bahwa orang yang yakin terhadap kebangkitan akan memperbanyak taubat, menjaga amal, dan tidak tertipu oleh kenikmatan dunia.


Syaikh Abdurrahman As-Sa'di

Dalam Taisīr al-Karīm ar-Rahmān, beliau menjelaskan bahwa frasa "عَسَىٰ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا" bukan berarti Nabi ﷺ mengetahui waktu kiamat, tetapi menunjukkan bahwa setiap yang pasti datang harus dipandang dekat sehingga manusia tidak lalai.


Hikmah yang Dapat Diambil

  1. Allah yang menciptakan pertama kali pasti mampu menghidupkan kembali.
  2. Kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh hukum alam atau logika manusia.
  3. Hari Kiamat adalah kepastian, meskipun waktunya dirahasiakan.
  4. Seorang mukmin tidak sibuk menebak waktu Kiamat, tetapi sibuk mempersiapkan bekalnya.
  5. Keimanan kepada hari akhir melahirkan rasa takut kepada Allah, semangat beramal saleh, dan kesungguhan menjauhi maksiat.

Implementasi dalam Kehidupan

  • Perbanyak amal yang akan menjadi bekal di akhirat.
  • Jangan menunda taubat karena kematian bisa datang kapan saja.
  • Biasakan bermuhasabah setiap hari.
  • Perbanyak membaca Al-Qur'an, mengingat kematian, dan menghadiri majelis ilmu.
  • Jadikan keyakinan kepada hari kebangkitan sebagai pendorong untuk berlaku jujur, amanah, dan adil.

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Surah Al-Isrā' ayat 51 mengajarkan bahwa keraguan terhadap hari kebangkitan lahir dari ketidakmampuan manusia memahami keluasan kekuasaan Allah. Dzat yang menciptakan manusia dari tiada tentu mampu menghidupkannya kembali setelah mati. Oleh karena itu, janganlah kita menyia-nyiakan umur dengan mengejar dunia semata. Persiapkanlah bekal terbaik untuk hari ketika kita dibangkitkan dan berdiri di hadapan Allah ﷻ.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَعِدُّونَ لِلِقَائِكَ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ

Artinya:

"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Mu. Anugerahkanlah kepada kami husnul khatimah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu, jadikanlah penutup amal kami sebagai amal yang terbaik, dan jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu."

Referensi

  1. Al-Qur'an Al-Karim.
  2. Jāmi' al-Bayān – Imam Ath-Ṭabari.
  3. Tafsīr al-Qur'ān al-'Azhīm – Imam Ibnu Katsir.
  4. Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān – Imam Al-Qurthubi.
  5. Mafātīḥ al-Ghaib – Imam Fakhruddin Ar-Razi.
  6. Taisīr al-Karīm ar-Rahmān – Syaikh Abdurrahman As-Sa'di.
  7. Syarh Shahih Muslim – Imam An-Nawawi.
  8. Fathul Bārī – Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani.
  9. Kitāb ar-Rūḥ – Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Tidak ada komentar