Berkata yang Terbaik: Menjaga Lisan dan Waspada terhadap Tipu Daya Setan

Materi Ceramah Tafsir Tahlili Al-Qur'an

Surah Al-Isrā' Ayat 53

"Berkata yang Terbaik: Menjaga Lisan dan Waspada terhadap Tipu Daya Setan"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjaga seluruh anggota tubuh kita, terutama lisan. Banyak perselisihan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah bermula dari ucapan yang tidak dijaga. Oleh karena itu Allah ﷻ memberikan bimbingan yang agung dalam Surah Al-Isrā' ayat 53 agar setiap mukmin memilih perkataan yang paling baik.


Ayat yang Dibahas

Firman Allah ﷻ

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Artinya:

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik. Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia."
(QS. Al-Isrā': 53)


Kandungan Ayat

Allah ﷻ memerintahkan seluruh kaum mukminin agar:

  • memilih perkataan yang paling baik,
  • berbicara dengan lemah lembut,
  • menghindari celaan, ejekan, fitnah, dan kata-kata kasar.

Perintah ini berlaku dalam semua keadaan: ketika berdakwah, berdiskusi, menasihati, bermuamalah dengan sesama muslim maupun dengan nonmuslim.

Allah juga menjelaskan sebabnya, yaitu setan selalu mencari celah melalui ucapan manusia. Satu kalimat yang kasar dapat berubah menjadi pertengkaran, permusuhan, bahkan peperangan.


Tafsir Para Ulama

1. Imam Ath-Ṭabari

Dalam Jāmi' al-Bayān, beliau menjelaskan bahwa makna "الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ" adalah memilih ucapan yang paling baik, paling lembut, dan paling mendatangkan maslahat.

Beliau juga menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai adab dalam berdialog dengan kaum musyrikin agar dakwah tidak berubah menjadi permusuhan.


2. Imam Ibnu Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Azhīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa apabila seorang mukmin berkata kasar, maka setan akan memperbesar api permusuhan sehingga timbul kebencian dan perpecahan.


3. Imam Al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, beliau menerangkan bahwa menjaga lisan termasuk ibadah yang paling berat namun paling besar pahalanya.

Beliau mengutip banyak hadis tentang bahaya lisan sebagai penjelas ayat ini.


4. Imam Fakhruddin Ar-Razi

Dalam Mafātīḥ al-Ghaib, beliau menjelaskan bahwa perkataan yang baik mampu melunakkan hati, sedangkan perkataan kasar menjadi pintu masuk setan.


Dalil-Dalil Al-Qur'an

1. Berdakwah dengan Hikmah

QS. An-Naḥl ayat 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik."

Pelajaran

Allah tidak hanya memerintahkan menyampaikan kebenaran, tetapi juga memperhatikan cara penyampaiannya.


2. Berdialog dengan Ahli Kitab

QS. Al-'Ankabūt ayat 46

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya:

"Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik."


3. Tolak Kejahatan dengan Kebaikan

QS. Fuṣṣilat ayat 34

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Artinya:

"Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik. Maka orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan akan menjadi seperti teman yang setia."


4. Setan Musuh Nyata

QS. Fāṭir ayat 6

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

Artinya:

"Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh."


5. Tipu Daya Setan

QS. Al-A'rāf ayat 17

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ

Artinya:

"Kemudian aku benar-benar akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka."


Dalil dari Sunnah

1. Berkata Baik atau Diam

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."

(HR. Al-Bukhari no. 6018; Muslim no. 47)

Penjelasan

Hadis ini menjadi kaidah besar dalam menjaga lisan. Tidak semua yang benar harus diucapkan jika penyampaiannya justru menimbulkan mudarat.


2. Bahaya Ucapan

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Artinya:

"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang tidak dipikirkannya, sehingga karenanya ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat."

(HR. Al-Bukhari no. 6477; Muslim no. 2988)


3. Jangan Mengacungkan Senjata

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يُشِيرَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيهِ بِالسِّلَاحِ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ، فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ

Artinya:

"Janganlah salah seorang di antara kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya, karena ia tidak mengetahui, boleh jadi setan menggerakkan tangannya sehingga ia terjerumus ke dalam neraka."

(HR. Al-Bukhari no. 7072; Muslim no. 2617. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad)

Kaitan dengan Ayat

Hadis ini menunjukkan bagaimana setan memanfaatkan kelalaian manusia untuk menimbulkan bahaya dan permusuhan.


4. Menjaga Lisan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Artinya:

"Barang siapa menjamin bagiku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisannya) dan di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya surga."

(HR. Al-Bukhari no. 6474)


Komentar Para Ulama

Imam An-Nawawi

Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menjelaskan bahwa menjaga lisan adalah kewajiban. Banyak dosa besar bermula dari ucapan yang tidak dipikirkan, seperti ghibah, namimah, dusta, dan fitnah.


Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani

Dalam Fathul Bārī, beliau menerangkan bahwa sabda Nabi ﷺ "berkata baik atau diam" menunjukkan bahwa diam lebih utama daripada ucapan yang tidak membawa manfaat.


Imam Ibnul Qayyim

Dalam Ighātsatul Lahfān, beliau menjelaskan bahwa setan paling senang menimbulkan kerusakan melalui lisan, karena satu kalimat dapat memutuskan persaudaraan, menghancurkan rumah tangga, bahkan memicu peperangan.


Syaikh Abdurrahman As-Sa'di

Dalam Taisīr al-Karīm ar-Rahmān, beliau menjelaskan bahwa "الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ" bukan sekadar perkataan yang baik, tetapi memilih ucapan terbaik yang paling mendekatkan kepada ridha Allah dan paling sedikit menimbulkan mudarat.


Hikmah yang Dapat Diambil

  1. Menjaga lisan merupakan bagian dari kesempurnaan iman.
  2. Perkataan yang lembut lebih mudah diterima daripada perkataan yang kasar.
  3. Setan menjadikan ucapan sebagai pintu utama untuk memecah belah manusia.
  4. Dakwah harus dilakukan dengan hikmah, kelembutan, dan kesabaran.
  5. Seorang mukmin selalu berpikir sebelum berbicara.

Implementasi dalam Kehidupan

  • Biasakan berkata jujur, santun, dan penuh hikmah.
  • Hindari ghibah, fitnah, adu domba, ejekan, dan ujaran kebencian, termasuk di media sosial.
  • Ketika marah, tahan lisan hingga emosi mereda.
  • Gunakan lisan untuk berdzikir, membaca Al-Qur'an, memberi nasihat, dan menyebarkan ilmu.
  • Jadikan setiap ucapan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk menyakiti sesama.

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Surah Al-Isrā' ayat 53 mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan hanya tampak pada amal perbuatannya, tetapi juga pada lisannya. Ucapan yang baik dapat menjadi sebab datangnya hidayah, mempererat ukhuwah, dan mendatangkan pahala. Sebaliknya, ucapan yang buruk dapat menjadi jalan bagi setan untuk menimbulkan perselisihan dan kerusakan. Karena itu, marilah kita menjaga lisan dengan berkata yang benar, lembut, dan penuh hikmah, seraya selalu berlindung kepada Allah dari godaan setan.

Doa

اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَاحْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ، وَأَعِذْنَا مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ، وَاجْعَلْ كَلَامَنَا ذِكْرًا وَشُكْرًا وَدَعْوَةً إِلَى الْخَيْرِ

Artinya:

"Ya Allah, tunjukilah kami kepada ucapan dan perbuatan yang terbaik. Jauhkan kami dari ucapan dan perbuatan yang buruk. Jagalah lisan kami dari dusta, ghibah, dan adu domba. Lindungilah kami dari godaan setan, dan jadikanlah ucapan kami sebagai dzikir, rasa syukur, dan ajakan kepada kebaikan."

Referensi

  1. Al-Qur'an Al-Karim.
  2. Jāmi' al-Bayān – Imam Ath-Ṭabari.
  3. Tafsīr al-Qur'ān al-'Azhīm – Imam Ibnu Katsir.
  4. Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān – Imam Al-Qurthubi.
  5. Mafātīḥ al-Ghaib – Imam Fakhruddin Ar-Razi.
  6. Taisīr al-Karīm ar-Rahmān – Syaikh Abdurrahman As-Sa'di.
  7. Syarh Shahih Muslim – Imam An-Nawawi.
  8. Fathul Bārī – Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani.
  9. Ighātsatul Lahfān – Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Tidak ada komentar