Jangan Membunuh Anak Karena Takut Miskin: Setiap Anak Membawa Rezekinya

Materi Ceramah

Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 31

"Jangan Membunuh Anak Karena Takut Miskin: Setiap Anak Membawa Rezekinya"

Mukadimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Di antara tujuan utama syariat Islam (Maqāṣid asy-Syarī'ah) adalah menjaga jiwa (ḥifẓ an-nafs) dan menjaga keturunan (ḥifẓ an-nasl). Oleh karena itu, Islam sangat memuliakan anak. Anak bukanlah beban, melainkan amanah dan karunia dari Allah ﷻ. Pada masa Jahiliah, sebagian orang Arab tega mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka karena takut miskin atau takut dipandang hina. Islam datang menghapus tradisi keji itu dan menegaskan bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki setiap manusia.


Dalil Utama

Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 31

وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْۗ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًٔا كَبِيْرًا

Artinya:

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar."


Tafsir Ayat

Allah melarang keras membunuh anak karena takut kemiskinan. Larangan ini turun untuk menghapus tradisi masyarakat Arab Jahiliah yang membunuh anak, khususnya anak perempuan, karena dianggap menjadi beban ekonomi atau membawa aib keluarga.

Perhatikan urutan firman Allah:

نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِيَّاكُمْ

"Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian."

Penyebutan rezeki anak lebih dahulu menunjukkan bahwa Allah telah menjamin rezeki mereka. Orang tua tidak perlu takut bahwa kelahiran anak akan mengurangi rezeki yang telah Allah tetapkan.


Penjelasan Para Ulama

1. Imam Ath-Ṭabari

Beliau menjelaskan bahwa ayat ini merupakan larangan mutlak membunuh anak karena takut miskin. Allah menegaskan bahwa rezeki seluruh makhluk berada dalam kekuasaan-Nya.

Rujukan: Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān.


2. Imam Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menerangkan bahwa ayat ini menghapus kebiasaan Jahiliah mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Allah menjamin rezeki setiap anak sebagaimana Dia menjamin rezeki kedua orang tuanya.

Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm.


3. Imam Al-Qurṭubi

Imam Al-Qurṭubi menjelaskan bahwa membunuh anak termasuk dosa besar karena merusak tujuan syariat, yaitu menjaga keberlangsungan keturunan manusia.

Rujukan: Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān.


4. Imam Fakhruddin Ar-Razi

Beliau menjelaskan bahwa rasa takut miskin merupakan bisikan setan yang melemahkan keyakinan terhadap jaminan rezeki dari Allah.

Rujukan: Mafātīḥ al-Ghaib.


Dalil Pendukung dari Al-Qur'an

1. Surah Al-An'ām Ayat 151

وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَوْلَادَكُمْ مِّنْ اِمْلَاقٍۗ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ

Artinya:

"Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena kemiskinan. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka."

Perbedaan dengan QS. Al-Isrā': 31

Para ulama menjelaskan:

  • Al-An'ām ayat 151 berbicara tentang orang yang sudah miskin (مِنْ إِمْلَاقٍ), sehingga Allah mendahulukan rezeki orang tua: "Kami memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka."

  • Al-Isrā' ayat 31 berbicara tentang orang yang takut menjadi miskin (خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ), sehingga Allah mendahulukan rezeki anak: "Kami memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu."

Ini menunjukkan keindahan dan ketelitian bahasa Al-Qur'an.


2. Surah At-Takwīr Ayat 8–9

وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْ ۙ بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْ

Artinya:

"Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?"

Pelajaran

Pada Hari Kiamat, Allah akan meminta pertanggungjawaban atas kezaliman terhadap anak-anak yang tidak berdosa.


3. Surah Asy-Syūrā Ayat 49–50

لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ يَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ اِنَاثًا وَّيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ الذُّكُوْرَ

Artinya:

"Milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia menganugerahkan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan menganugerahkan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki."

Pelajaran

Anak laki-laki maupun perempuan sama-sama merupakan karunia Allah yang wajib disyukuri.


Hadis-Hadis Rasulullah ﷺ

1. Dosa Besar Membunuh Anak

Dari 'Abdullāh bin Mas'ūd رضي الله عنه, beliau berkata:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ. قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ. قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ

Artinya:

"'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?' Beliau menjawab, 'Engkau menyekutukan Allah, padahal Dia yang menciptakanmu.' Aku bertanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu.' Aku bertanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Engkau berzina dengan istri tetanggamu.'"

HR. Al-Bukhari no. 4477 dan Muslim no. 86.

Penjelasan

Hadis ini menunjukkan bahwa membunuh anak termasuk dosa besar setelah syirik.


2. Kasih Sayang kepada Anak

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

Artinya:

"Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi."

HR. Al-Bukhari no. 6013 dan Muslim no. 2318.

Pelajaran

Kasih sayang kepada anak merupakan akhlak yang dicintai Allah.


3. Keutamaan Memelihara Anak Perempuan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ

(Sambil beliau merapatkan dua jari beliau.)

Artinya:

"Barang siapa memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, maka pada hari kiamat ia akan datang bersamaku seperti dua jari ini."

HR. Muslim no. 2631.

Pelajaran

Islam justru memuliakan anak perempuan, berbeda dengan tradisi Jahiliah yang merendahkan mereka.


Pandangan Ulama tentang Rezeki Anak

Imam As-Sa'di

Beliau menjelaskan bahwa setiap anak telah membawa takdir rezekinya masing-masing. Orang tua tidak boleh berburuk sangka kepada Allah dengan menganggap anak sebagai penyebab kemiskinan.

Rujukan: Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān.


Imam Ibnul Qayyim

Dalam Tuḥfatul Maudūd bi Aḥkām al-Maulūd, beliau menjelaskan bahwa anak adalah amanah Allah. Orang tua akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana mereka menjaga, mendidik, dan menafkahi anak-anaknya.


Imam Al-Ghazali

Dalam Iḥyā' 'Ulūm ad-Dīn, beliau mengingatkan bahwa kecintaan terhadap dunia sering membuat manusia lupa bahwa Allah adalah Ar-Razzāq (Maha Pemberi Rezeki). Ketakutan yang berlebihan terhadap kemiskinan dapat menjerumuskan seseorang kepada dosa besar dan hilangnya tawakal.


Hikmah Ayat

  1. Rezeki seluruh manusia berada di tangan Allah.
  2. Anak adalah amanah, bukan beban.
  3. Membunuh anak termasuk dosa besar.
  4. Takut miskin bukan alasan untuk melanggar syariat.
  5. Anak laki-laki dan perempuan sama-sama karunia Allah.
  6. Tawakal harus disertai ikhtiar yang halal.
  7. Orang tua wajib mendidik dan menjaga anak, bukan menelantarkannya.

Relevansi dengan Kehidupan Masa Kini

Walaupun praktik mengubur bayi hidup-hidup telah hilang, nilai ayat ini tetap sangat relevan. Bentuk-bentuk pelanggaran terhadap semangat ayat ini antara lain:

  • Menelantarkan anak karena alasan ekonomi.
  • Tidak memberikan pendidikan yang layak kepada anak.
  • Memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara tidak adil.
  • Menganggap anak sebagai beban semata, bukan amanah.
  • Menggugurkan kandungan tanpa alasan yang dibenarkan syariat, karena takut miskin atau takut masa depan. Dalam fikih Islam, hukum pengguguran kandungan memiliki rincian sesuai usia kandungan dan kondisi tertentu, tetapi alasan ekonomi semata tidak dibenarkan oleh mayoritas ulama.

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Surah Al-Isrā' ayat 31 mengajarkan bahwa setiap anak datang membawa amanah sekaligus rezekinya. Orang tua diperintahkan untuk berikhtiar, bertawakal, mendidik, dan menyayangi anak-anaknya. Jangan biarkan rasa takut terhadap kemiskinan mengalahkan keyakinan kita kepada Allah, karena Dia-lah Ar-Razzāq, Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Marilah kita memperlakukan setiap anak sebagai karunia, menjaga hak-haknya, mendidiknya dengan iman dan akhlak mulia, serta meyakini bahwa rezeki, umur, dan masa depan mereka berada dalam ketetapan Allah Yang Maha Bijaksana.

اللَّهُمَّ ارْزُقْ أَوْلَادَنَا الْإِيمَانَ وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاحْفَظْهُمْ مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَوَسِّعْ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ مِنْ رِزْقِكَ الْحَلَالِ الطَّيِّبِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ الصَّابِرِينَ. آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Tidak ada komentar