Mengikuti Iblis Berakhir dengan Neraka, Mengikuti Allah Berakhir dengan Surga

Materi Ceramah

Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 63

"Mengikuti Iblis Berakhir dengan Neraka, Mengikuti Allah Berakhir dengan Surga"


Khutbatul Hājah

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Kehidupan dunia adalah tempat ujian. Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih jalan hidayah atau jalan kesesatan. Namun setiap pilihan memiliki konsekuensi. Orang yang mengikuti petunjuk Allah akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang mengikuti langkah-langkah setan akan berakhir dengan penyesalan dan azab yang pedih.

Pada kesempatan ini kita akan mentadabburi firman Allah ﷻ dalam Surah Al-Isrā' ayat 63.


Dalil Utama

Firman Allah ﷻ

Surah Al-Isrā' Ayat 63

قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا

Artinya:

"Allah berfirman, 'Pergilah! Barang siapa di antara mereka mengikuti engkau, maka sungguh Neraka Jahanam adalah balasan bagi kalian semua, sebagai pembalasan yang sempurna.'"

(QS. Al-Isrā': 63)


Kandungan Ayat

Ayat ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Allah memberi penangguhan kepada Iblis sebagai bagian dari ujian bagi manusia.
  2. Manusia diberi kebebasan memilih antara petunjuk dan kesesatan.
  3. Siapa yang mengikuti jalan Iblis dengan kehendaknya sendiri akan menerima balasan yang setimpal.
  4. Neraka adalah balasan yang adil bagi orang yang tetap memilih kekafiran dan kemaksiatan setelah datangnya petunjuk.
  5. Rahmat Allah tetap terbuka bagi siapa saja yang bertaubat sebelum ajal tiba.

Pembahasan Pertama

Allah Memberikan Penangguhan kepada Iblis sebagai Ujian

Setelah Iblis memohon penangguhan umur hingga Hari Kiamat, Allah mengabulkan permintaannya.

Allah berfirman:

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ ۝ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

Artinya:

"Allah berfirman, 'Sesungguhnya engkau termasuk mereka yang diberi penangguhan sampai hari yang telah ditentukan.'"

(QS. Al-Ḥijr: 37–38)

Penangguhan ini bukanlah bentuk kemuliaan bagi Iblis, melainkan bagian dari ujian Allah kepada manusia. Dengan adanya godaan setan, tampak jelas siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang mengikuti hawa nafsunya.


Tafsir Imam Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan penangguhan kepada Iblis agar sempurna hikmah ujian bagi manusia. Orang-orang yang beriman akan semakin teguh dalam ketaatan, sedangkan orang yang mengikuti setan telah memilih jalan itu dengan kehendaknya sendiri.

Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Imam Ibnu Katsir.


Pembahasan Kedua

Setan Tidak Memiliki Kekuasaan Memaksa Manusia

Allah tidak mengatakan bahwa manusia dipaksa mengikuti Iblis. Sebaliknya, Allah berfirman:

فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ

"Barang siapa di antara mereka yang mengikuti engkau..."

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia mengikuti setan karena pilihannya sendiri.

Pada Hari Kiamat, Iblis akan berlepas diri dari para pengikutnya.

Allah berfirman:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ

Artinya:

"Dan setan berkata ketika urusan telah diputuskan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, sedangkan aku menjanjikan kepadamu tetapi aku mengingkarinya. Aku tidak mempunyai kekuasaan atasmu selain hanya menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Maka janganlah kamu mencela aku, tetapi cela lah dirimu sendiri.'"

(QS. Ibrāhīm: 22)


Tafsir Imam Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa setan hanya mengajak, membisikkan, dan menghias kemaksiatan. Adapun keputusan untuk mengikuti atau menolak ajakannya berada pada manusia, sehingga manusia bertanggung jawab atas amalnya.

Rujukan: Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān.


Pembahasan Ketiga

Neraka Adalah Balasan yang Adil

Allah menyebut:

جَزَاءً مَوْفُورًا

"Sebagai balasan yang sempurna."

Artinya, hukuman Allah diberikan dengan penuh keadilan, tidak dikurangi dan tidak dilebihkan. Allah tidak menzalimi siapa pun.

Allah berfirman:

وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Artinya:

"Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun."

(QS. Al-Kahfi: 49)

Allah juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Artinya:

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri."

(QS. Yūnus: 44)


Hadis Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى

Para sahabat bertanya:

وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

Beliau menjawab:

مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Artinya:

"Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan."

Para sahabat bertanya, "Siapakah yang enggan itu, wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab,

"Barang siapa taat kepadaku, ia akan masuk surga. Dan barang siapa mendurhakaiku, sungguh ia telah enggan."

(HR. Al-Bukhari no. 7280)

Hadis ini menunjukkan bahwa manusia sendirilah yang menentukan jalannya dengan menaati atau mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.


Pembahasan Keempat

Jangan Mengikuti Langkah-Langkah Setan

Allah berulang kali memperingatkan manusia:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan menyuruh kepada perbuatan keji dan mungkar."

(QS. An-Nūr: 21)

Perhatikan bahwa Allah menyebut "langkah-langkah" (خُطُوَاتِ), menunjukkan bahwa setan menyesatkan manusia secara bertahap:

  • dimulai dari dosa kecil,
  • lalu kebiasaan buruk,
  • kemudian maksiat besar,
  • hingga akhirnya mengeraskan hati dan menjauhkan dari Allah.

Hadis Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Artinya:

"Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab, tetapi ia masih berusaha menimbulkan permusuhan di antara mereka."

(HR. Muslim no. 2812)

Hadis ini mengingatkan bahwa salah satu strategi utama setan adalah memecah belah kaum muslimin dengan kebencian, hasad, fitnah, dan permusuhan.


Komentar dan Ulasan Para Ulama

1. Imam Ibnu Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, beliau menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keadilan Allah. Allah tidak menghukum seseorang karena godaan setan semata, tetapi karena ia memilih mengikuti godaan tersebut setelah datang petunjuk.


2. Imam Al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, beliau menerangkan bahwa ungkapan "جَزَاءً مَوْفُورًا" menunjukkan balasan yang sempurna sesuai dengan amal. Tidak ada kezaliman dalam keputusan Allah, karena setiap manusia telah diberi akal, fitrah, dan petunjuk melalui para rasul.


3. Imam Ath-Thabari

Beliau menjelaskan bahwa Allah memberikan kebebasan memilih kepada manusia sebagai bentuk ujian. Karena itu, pahala dan siksa menjadi adil, sebab manusia beramal dengan kehendaknya dalam batas kemampuan yang Allah berikan.

Rujukan: Jāmi' al-Bayān.


4. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di

Dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān, beliau menjelaskan bahwa ancaman neraka dalam ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang terus-menerus mengikuti setan dalam kekafiran dan kemaksiatan tanpa taubat. Adapun orang yang tergelincir lalu kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Hikmah yang Dapat Diambil

  1. Kehidupan dunia adalah ujian antara mengikuti petunjuk Allah atau mengikuti setan.
  2. Setan hanya mengajak, sedangkan manusialah yang menentukan pilihannya.
  3. Allah Maha Adil; tidak seorang pun akan dihukum tanpa sebab.
  4. Neraka adalah balasan bagi orang yang dengan sadar memilih jalan kesesatan setelah datang petunjuk.
  5. Jalan keselamatan adalah berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
  6. Taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.

Penutup

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Surah Al-Isrā' ayat 63 mengingatkan kita bahwa Iblis telah diberi kesempatan untuk menggoda manusia, tetapi Allah juga telah memberikan petunjuk, akal, fitrah, dan para rasul sebagai jalan keselamatan. Karena itu, jangan pernah menyalahkan setan atas dosa yang kita lakukan, tetapi segeralah bertaubat, memperbaiki diri, dan memohon pertolongan Allah agar tetap istiqamah.

Marilah kita memperbanyak doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya:

"Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu."

(HR. At-Tirmidzi no. 2140; dinilai sahih)

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah, terlindung dari tipu daya setan, dimudahkan untuk mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah, serta dikumpulkan di surga bersama Nabi Muhammad ﷺ.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Tidak ada komentar