Mengingat Allah Saat Susah, Jangan Melupakan-Nya Saat Lapang

Materi Ceramah

"Mengingat Allah Saat Susah, Jangan Melupakan-Nya Saat Lapang"

Tadabbur Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 67


Khutbatul Hājah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ أَنْ يَكُونَ الْعَبْدُ ذَاكِرًا لِلَّهِ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ.


Muqaddimah

Segala puji hanya milik Allah Subḥānahu wa Ta'ālā yang memberikan nikmat, menghilangkan kesusahan, mengabulkan doa, dan menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari berbagai bahaya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam bersyukur ketika lapang dan bersabar ketika sempit.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Di antara penyakit hati yang paling berbahaya adalah mengingat Allah hanya ketika tertimpa musibah, lalu melupakan-Nya ketika nikmat telah kembali. Inilah tabiat kebanyakan manusia yang diingatkan Allah dalam Surah Al-Isrā' ayat 67.


Dalil Utama

Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 67

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا

Artinya:

"Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah semua yang biasa kamu seru selain Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia memang sangat ingkar (tidak bersyukur)."


Tafsir Ayat

Allah menggambarkan keadaan manusia ketika berada di tengah lautan yang diterpa badai. Saat itu, semua sandaran dunia tidak lagi mampu menolong. Harta, jabatan, kekuatan, teknologi, bahkan sesembahan yang mereka agungkan tidak dapat menyelamatkan mereka. Pada saat genting itu, fitrah manusia kembali kepada Allah dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

Namun setelah Allah menyelamatkan mereka dan mengantarkan kembali ke daratan, banyak di antara mereka kembali kepada kesyirikan, kemaksiatan, dan melupakan nikmat Allah.

Ayat ini menjadi cermin bahwa iman yang benar bukan hanya tampak saat kesulitan, tetapi juga ketika seseorang memperoleh kelapangan hidup.


Tafsir Para Ulama

1. Tafsir Imam Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

"Ketika seluruh sebab keselamatan terputus, manusia mengetahui bahwa hanya Allah yang mampu menyelamatkan mereka. Maka mereka memurnikan doa hanya kepada-Nya. Akan tetapi setelah diselamatkan, mereka kembali berpaling."

Rujukan: Jāmi' al-Bayān, tafsir QS. Al-Isrā': 67.


2. Tafsir Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir berkata:

"Ini merupakan pemberitahuan tentang tabiat manusia. Ketika berada dalam kesulitan, ia berdoa dengan penuh keikhlasan. Namun ketika kesulitan telah hilang, ia kembali kepada kebiasaannya yang buruk."

Rujukan: Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, jilid 5.


3. Tafsir Imam Al-Qurthubi

Imam Al-Qurthubi menjelaskan:

"Ayat ini menunjukkan bahwa tauhid rububiyyah telah diakui oleh orang-orang musyrik. Mereka mengakui Allah sebagai penyelamat ketika musibah datang, tetapi mereka tidak mengikhlaskan ibadah kepada-Nya setelah memperoleh keselamatan."

Rujukan: Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, juz 10.


4. Tafsir As-Sa'di

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di berkata:

"Di antara tanda kelemahan manusia adalah ia sering melupakan nikmat setelah musibah berlalu. Padahal keselamatan itu semata-mata berasal dari rahmat Allah."

Rujukan: Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān.


Pelajaran Pertama

Fitrah Manusia Mengakui Allah Saat Musibah

Allah berfirman:

Surah Luqmān ayat 32

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ

Artinya:

"Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka ke daratan, sebagian mereka kembali menyimpang."

Hikmah

Dalam keadaan terdesak, fitrah manusia menyadari bahwa hanya Allah yang mampu memberi pertolongan.


Pelajaran Kedua

Jangan Hanya Mengingat Allah Ketika Susah

Allah berfirman:

Surah Yūnus ayat 12

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا ۖ فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ

Artinya:

"Apabila manusia ditimpa bahaya, ia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Namun ketika Kami hilangkan bahaya itu, ia kembali berjalan seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Kami."

Ayat ini menggambarkan sifat manusia yang mudah lupa terhadap nikmat Allah.


Pelajaran Ketiga

Bersyukur Saat Lapang dan Bersabar Saat Susah

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ... إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya:

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah kebaikan. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."

HR. Muslim no. 2999

Ulasan Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan keistimewaan seorang mukmin. Ia tidak terputus hubungannya dengan Allah dalam keadaan apa pun; nikmat membuatnya bersyukur, sedangkan musibah membuatnya bersabar. Keduanya menjadi sebab bertambahnya pahala.

Rujukan: Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.


Pelajaran Keempat

Bersyukur adalah Bukti Iman

Allah berfirman:

Surah Ibrāhīm ayat 7

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya:

"Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur (mengingkari nikmat), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Syukur menjaga nikmat, sedangkan kufur nikmat menjadi sebab hilangnya keberkahan.


Pelajaran Kelima

Doa di Saat Lapang Menjadi Sebab Pertolongan Saat Susah

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā:

تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

Artinya:

"Kenalilah Allah pada waktu lapang, niscaya Allah akan menolongmu pada waktu sempit."

HR. at-Tirmidzi no. 2516; dinilai hasan sahih oleh at-Tirmidzi, dan disahihkan oleh al-Albani.

Penjelasan Ibn Rajab al-Hanbali

Ibn Rajab menjelaskan bahwa orang yang senantiasa taat, berzikir, dan mendekat kepada Allah saat lapang akan memperoleh pertolongan, penjagaan, dan kemudahan dari Allah ketika menghadapi kesulitan.

Rujukan: Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam, syarah Hadis ke-19.


Pelajaran Keenam

Nabi Muhammad ﷺ Menjadi Teladan dalam Bersyukur

Dari Aisyah radhiyallāhu 'anhā:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ... فَقَالَ: أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

Artinya:

"Nabi ﷺ melaksanakan salat malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal itu padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab: 'Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur?'"

HR. al-Bukhari no. 1130 dan Muslim no. 2819


Bentuk "Kufur Nikmat" di Zaman Sekarang

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Banyak orang:

  • Rajin berdoa ketika sakit, tetapi lalai salat ketika sehat.
  • Memperbanyak istighfar ketika menghadapi masalah ekonomi, tetapi lupa bersedekah ketika rezekinya lapang.
  • Memenuhi masjid saat tertimpa musibah, namun menjauh ketika urusan dunia kembali lancar.
  • Mengaku bergantung kepada Allah saat bencana, tetapi merasa semua keberhasilan semata-mata hasil usaha sendiri ketika sukses.

Inilah yang diperingatkan Allah dengan firman-Nya:

وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا

"Dan manusia memang sangat ingkar (tidak bersyukur)."


Cara Menjaga Hati Agar Tidak Menjadi Kufur Nikmat

  1. Memperbanyak zikir dalam setiap keadaan.
  2. Menjaga salat lima waktu, baik ketika lapang maupun sempit.
  3. Membiasakan mengucapkan Alhamdulillāh dengan penghayatan.
  4. Menggunakan nikmat untuk ketaatan, bukan kemaksiatan.
  5. Bersedekah sebagai bentuk syukur atas rezeki.
  6. Mengingat bahwa setiap nikmat dapat dicabut kapan saja.
  7. Membaca dan mentadabburi Al-Qur'an agar hati tetap hidup.

Pelajaran yang Dapat Diambil

  1. Musibah sering kali mengembalikan manusia kepada fitrah tauhid.
  2. Allah adalah satu-satunya tempat bergantung ketika seluruh sebab dunia tidak lagi mampu menolong.
  3. Seorang mukmin harus mengingat Allah dalam keadaan susah maupun senang.
  4. Syukur adalah ciri orang beriman, sedangkan melupakan Allah setelah memperoleh nikmat merupakan bentuk kufur nikmat.
  5. Hubungan yang terus terjaga dengan Allah pada masa lapang akan menjadi sebab datangnya pertolongan-Nya pada masa sulit.
  6. Rahmat Allah senantiasa mendahului murka-Nya; Dia tetap menyelamatkan manusia meskipun banyak yang kembali berpaling setelah menerima nikmat.

Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Surah Al-Isrā' ayat 67 mengajarkan bahwa manusia sering kali baru mengingat Allah ketika berada di tengah badai kehidupan. Padahal Allah menghendaki agar kita menjadi hamba yang selalu mengingat-Nya dalam setiap keadaan. Jangan sampai doa kita hanya lahir ketika musibah datang, lalu menghilang ketika nikmat kembali.

Marilah kita menjadi hamba yang selalu bersyukur, senantiasa bertawakal, dan terus beribadah kepada Allah, baik ketika hidup terasa mudah maupun ketika menghadapi ujian. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan hingga akhir hayat.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِينَ لَكَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، وَمِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى. آمِينَ

Tidak ada komentar