Mengimani Hari Kebangkitan: Bukti Kekuasaan Allah Menghidupkan Kembali Makhluk-Nya
Materi Ceramah Tafsir Tahlili Al-Qur'an
Surah Al-Isrā' Ayat 49
"Mengimani Hari Kebangkitan: Bukti Kekuasaan Allah Menghidupkan Kembali Makhluk-Nya"
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Salah satu rukun iman yang wajib diyakini adalah iman kepada hari akhir, termasuk keyakinan bahwa Allah akan membangkitkan seluruh manusia setelah kematian untuk dihisab dan diberi balasan atas amal perbuatannya. Pada kesempatan ini kita akan mentadabburi firman Allah dalam Surah Al-Isrā' ayat ke-49.
Ayat yang Dibahas
Firman Allah ﷻ
وَقَالُوا أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا وَرُفَاتًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ خَلْقًا جَدِيدًا
Artinya:
"Dan mereka berkata, 'Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?'"
(QS. Al-Isrā': 49)
Kandungan Ayat
Ayat ini menggambarkan pengingkaran orang-orang musyrik Mekah terhadap hari kebangkitan. Mereka menganggap mustahil manusia yang telah menjadi tulang-belulang dan hancur menjadi tanah dapat hidup kembali.
Padahal mereka lupa bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan manusia dari ketiadaan. Maka, menghidupkan kembali makhluk setelah mati tentu lebih mudah bagi Allah dibanding menciptakannya pertama kali.
Tafsir Para Ulama
1. Imam Ath-Ṭabari
Dalam Jāmi' al-Bayān, Imam Ath-Ṭabari menjelaskan bahwa orang-orang musyrik mengukur kekuasaan Allah dengan kemampuan manusia. Mereka tidak memahami bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Oleh sebab itu, mereka menganggap kebangkitan sebagai sesuatu yang mustahil.
2. Imam Ibnu Katsir
Dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Azhīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bantahan terhadap orang yang mengingkari hari kebangkitan. Allah kemudian menjawab keraguan mereka pada ayat-ayat berikutnya dengan menunjukkan bukti-bukti kekuasaan-Nya dalam penciptaan langit, bumi, dan manusia.
3. Imam Al-Qurthubi
Dalam Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān, beliau menerangkan bahwa keraguan terhadap hari kebangkitan muncul karena lemahnya iman dan sempitnya cara berpikir. Mereka hanya menilai sesuatu berdasarkan pengalaman duniawi, bukan berdasarkan kekuasaan Allah Yang Mahasempurna.
Dalil-Dalil Al-Qur'an
1. Allah Mampu Menghidupkan Tulang yang Hancur
QS. Yāsīn ayat 78–79
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
Artinya:
"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya. Dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?' Katakanlah (Muhammad), 'Yang akan menghidupkannya ialah Allah yang menciptakannya pertama kali, dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.'"
Tafsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang mampu menciptakan dari tidak ada tentu lebih mampu menghidupkan kembali sesuatu yang pernah diciptakan.
2. Penciptaan Langit dan Bumi Lebih Besar
QS. Ghafir ayat 57
لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya:
"Sungguh penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
Pelajaran
Jika Allah mampu menciptakan alam semesta yang begitu besar, maka membangkitkan seluruh manusia bukanlah sesuatu yang sulit bagi-Nya.
3. Allah Memulai dan Mengulangi Penciptaan
QS. Ar-Rūm ayat 27
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
Artinya:
"Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya."
Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan "lebih mudah" dipahami dari sudut pandang manusia. Bagi Allah, mencipta pertama kali maupun menghidupkan kembali sama-sama mudah karena Dia hanya berfirman, "Kun fayakūn" (Jadilah, maka terjadilah).
4. Kebangkitan adalah Kepastian
QS. Al-Hajj ayat 7
وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ
Artinya:
"Dan sungguh, hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan Allah akan membangkitkan siapa pun yang berada di dalam kubur."
Dalil dari Sunnah
1. Seluruh Manusia Akan Dibangkitkan
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
Artinya:
"Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan."
(HR. Al-Bukhari no. 3349; Muslim no. 2859)
Penjelasan
Hadis ini menunjukkan bahwa kebangkitan jasmani adalah nyata. Manusia akan dibangkitkan dengan tubuhnya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.
2. Seluruh Tubuh Akan Hancur Kecuali Satu Tulang
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَأْكُلُهُ التُّرَابُ إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ، مِنْهُ خُلِقَ وَفِيهِ يُرَكَّبُ
Artinya:
"Seluruh tubuh anak Adam akan dimakan tanah kecuali tulang ekor (عَجْبُ الذَّنَبِ). Dari bagian itulah manusia diciptakan dan darinya pula akan disusun kembali."
(HR. Al-Bukhari no. 4935; Muslim no. 2955)
Penjelasan
Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadis ini menunjukkan kemahakuasaan Allah dalam membangkitkan manusia kembali, meskipun jasadnya telah hancur.
Komentar Para Ulama
Imam An-Nawawi
Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menjelaskan bahwa mengimani kebangkitan jasmani merupakan bagian dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Barang siapa mengingkarinya setelah tegaknya hujah, maka ia telah mendustakan nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani
Dalam Fathul Bārī, beliau menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menganggap mustahil kebangkitan karena mereka hanya menggunakan logika yang terbatas. Padahal kekuasaan Allah tidak dapat diukur dengan kemampuan makhluk.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di
Dalam Taisīr al-Karīm ar-Rahmān, beliau menerangkan bahwa keraguan terhadap hari kebangkitan muncul karena lemahnya pengenalan seseorang terhadap nama dan sifat Allah, khususnya sifat Al-Qadīr (Mahakuasa) dan Al-Khallāq (Maha Pencipta).
Imam Fakhruddin Ar-Razi
Dalam Mafātīḥ al-Ghaib, beliau menjelaskan bahwa Allah berulang kali mengajak manusia memperhatikan penciptaan alam semesta sebagai dalil rasional atas kemungkinan dan kepastian adanya kebangkitan.
Hikmah yang Dapat Diambil
- Mengimani hari kebangkitan adalah bagian dari rukun iman kepada hari akhir.
- Kekuasaan Allah tidak boleh diukur dengan logika manusia yang terbatas.
- Orang yang meyakini hari kebangkitan akan lebih berhati-hati dalam beramal karena sadar semua amal akan dihisab.
- Merenungkan penciptaan langit, bumi, dan diri sendiri akan menguatkan keyakinan kepada hari akhir.
- Orang yang mengingkari kebangkitan pada hakikatnya meragukan kekuasaan Allah.
Cara Menumbuhkan Keimanan kepada Hari Akhir
- Memperbanyak membaca dan mentadabburi ayat-ayat tentang kiamat.
- Mengingat kematian dan kehidupan alam kubur.
- Muhasabah diri setiap hari.
- Memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju akhirat.
- Berdoa agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Doa
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُؤْمِنُونَ بِلِقَائِكَ وَيَسْتَعِدُّونَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ
Artinya:
"Ya Allah, kami memohon kepada-Mu akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah), kami berlindung kepada-Mu dari akhir kehidupan yang buruk (su'ul khatimah), dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beriman akan perjumpaan dengan-Mu serta mempersiapkan bekal untuk hari Kiamat."
Penutup
Jamaah yang dirahmati Allah,
Surah Al-Isrā' ayat 49 mengingatkan bahwa keraguan terhadap hari kebangkitan bukanlah karena kurangnya bukti, tetapi karena lemahnya iman dan ketidakmauan untuk mengakui kekuasaan Allah. Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa Dzat yang menciptakan kita dari tiada pasti mampu menghidupkan kita kembali. Keyakinan ini hendaknya mendorong kita untuk memperbanyak amal saleh, menjauhi maksiat, dan selalu mempersiapkan diri menghadapi hari ketika seluruh manusia dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Referensi
- Al-Qur'an Al-Karim.
- Jāmi' al-Bayān – Imam Ath-Ṭabari.
- Tafsīr al-Qur'ān al-'Azhīm – Imam Ibnu Katsir.
- Al-Jāmi' li Ahkām al-Qur'ān – Imam Al-Qurthubi.
- Mafātīḥ al-Ghaib – Imam Fakhruddin Ar-Razi.
- Taisīr al-Karīm ar-Rahmān – Syaikh Abdurrahman As-Sa'di.
- Fathul Bārī bi Syarh Shahih Al-Bukhari – Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani.
- Syarh Shahih Muslim – Imam An-Nawawi.
Post a Comment