Menjaga Pendengaran, Penglihatan, dan Hati: Jangan Mengikuti Sesuatu Tanpa Ilmu

Materi Ceramah

Menjaga Pendengaran, Penglihatan, dan Hati: Jangan Mengikuti Sesuatu Tanpa Ilmu

Berdasarkan QS. Al-Isrā' ayat 36


Mukadimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد،

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta'ālā dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu penyakit besar pada zaman ini adalah berbicara tanpa ilmu, menyebarkan berita yang belum jelas, mengikuti isu, fitnah, dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Islam telah memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai hal tersebut.


Dalil Utama

1. Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 36

Arab

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Artinya

"Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."


Tafsir Para Ulama

1. Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan:

Allah melarang seorang hamba berbicara tanpa ilmu, bersaksi tanpa pengetahuan, menuduh tanpa bukti, bahkan berprasangka tanpa dasar. Semua anggota tubuh yang digunakan untuk memperoleh ilmu akan dimintai pertanggungjawaban.

Beliau mengutip perkataan Ibnu Abbas:

Janganlah engkau berkata: "Aku melihat", padahal tidak melihat.

Jangan berkata: "Aku mendengar", padahal tidak mendengar.


2. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menjelaskan:

Ayat ini merupakan dasar besar dalam syariat agar seseorang:

  • tidak berbicara berdasarkan dugaan,
  • tidak menjadi saksi palsu,
  • tidak memfitnah,
  • tidak menyebarkan kabar bohong.

Menurut beliau:

Semua perkataan manusia akan dipertanyakan berdasarkan ilmu atau kebodohan yang menjadi landasannya.


3. Tafsir As-Sa'di

Taisir al-Karim ar-Rahman mengatakan:

Larangan ini mencakup:

  • aqidah,
  • ibadah,
  • hukum,
  • muamalah,
  • ucapan sehari-hari.

Seorang mukmin wajib memastikan kebenaran sebelum berbicara ataupun bertindak.


Dalil Pendukung dari Al-Qur'an

1. Larangan Mengikuti Prasangka

QS. Al-Hujurāt: 12

Arab

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Artinya

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa."

Ulasan

Prasangka yang tidak memiliki dasar dapat melahirkan:

  • fitnah,
  • ghibah,
  • permusuhan,
  • kedustaan.

2. Perintah Tabayyun

QS. Al-Hujurāt: 6

Arab

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Artinya

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita maka telitilah terlebih dahulu."

Hikmah

Ayat ini menjadi dasar kewajiban:

  • cek fakta,
  • verifikasi berita,
  • tidak mudah menyebarkan informasi.

3. Larangan Berkata Tanpa Ilmu

QS. Al-A'rāf: 33

Arab

وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya

"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."

Tafsir

Menurut Ibnu Katsir:

Berkata atas nama agama tanpa ilmu termasuk dosa yang sangat besar.


Dalil dari Sunnah

Hadis Pertama

Rasulullah ﷺ bersabda

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

Artinya

"Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta."

(HR. Muslim, Ahmad, dan At-Tirmidzi)

Penjelasan Imam An-Nawawi

Syarh Shahih Muslim menjelaskan:

Yang dimaksud adalah prasangka buruk yang tidak memiliki bukti.


Hadis Kedua

Rasulullah ﷺ bersabda

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya

"Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar."

(HR. Muslim)

Hikmah

Inilah penyakit media sosial hari ini.

Forward tanpa membaca.

Share tanpa tabayyun.

Komentar tanpa ilmu.


Hadis Ketiga

Rasulullah ﷺ bersabda

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya

"Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan

Imam Nawawi berkata:

Hadis ini merupakan pokok utama dalam menjaga lisan.


Hadis Keempat

Doa Nabi ﷺ

Arab

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

Artinya

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku dan kemaluanku."

(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i; dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi)


Perkataan Para Salaf

Ibnu Abbas رضي الله عنهما

Janganlah engkau menjadi saksi kecuali terhadap sesuatu yang benar-benar engkau lihat dan engkau dengar.


Qatadah رحمه الله

Jangan berkata:

"Aku mendengar."

Padahal engkau belum mendengar.

Jangan berkata:

"Aku melihat."

Padahal engkau belum melihat.


Imam Malik رحمه الله

Beliau berkata:

Tidak semua yang diketahui harus diucapkan.

Rujukan: Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih.


Imam Asy-Syafi'i رحمه الله

Beliau berkata:

Jika seseorang ingin berbicara maka hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Bila manfaatnya jelas maka berbicaralah, bila ragu maka diam lebih baik.

Rujukan: Hilyat al-Auliya'.


Implementasi dalam Kehidupan

Ayat ini sangat relevan pada zaman media sosial.

Jangan:

  • menyebarkan berita hoaks,
  • menjadi penyebar fitnah,
  • menghakimi orang tanpa bukti,
  • membuat konten tanpa ilmu,
  • mengutip hadis tanpa memastikan kesahihannya,
  • berbicara tentang agama tanpa belajar.

Allah akan meminta pertanggungjawaban atas:

  • apa yang kita dengar,
  • apa yang kita lihat,
  • apa yang kita pikirkan,
  • apa yang kita ucapkan,
  • apa yang kita bagikan.

Pelajaran yang Dapat Diambil

  1. Islam mengajarkan verifikasi sebelum berbicara.
  2. Prasangka adalah pintu masuk fitnah.
  3. Lisan merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
  4. Pendengaran, penglihatan, dan hati adalah nikmat sekaligus amanah.
  5. Seorang mukmin wajib berkata berdasarkan ilmu dan bukti.
  6. Diam lebih baik daripada berbicara tanpa ilmu.

Penutup

Jamaah rahimakumullah,

Marilah kita menjaga lisan, pendengaran, penglihatan, dan hati dari segala sesuatu yang tidak diridhai Allah. Jadikan setiap ucapan berdasarkan ilmu, setiap berita berdasarkan tabayyun, dan setiap keputusan berdasarkan petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa menjaga amanah pendengaran, penglihatan, hati, dan lisan sehingga selamat di dunia dan di akhirat.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Tidak ada komentar