Menunaikan Hak Kerabat, Peduli kepada Sesama, dan Menjauhi Sifat Boros

Materi Ceramah Tafsir Surah Al-Isrā' Ayat 26

"Menunaikan Hak Kerabat, Peduli kepada Sesama, dan Menjauhi Sifat Boros"

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullāh,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menggunakan nikmat harta sesuai dengan tuntunan syariat. Pada kesempatan ini kita akan mentadabburi firman Allah dalam Surah Al-Isrā' ayat 26.


Dalil Utama

Al-Qur'an Surah Al-Isrā' Ayat 26

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا

Artinya:

"Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros."


Tafsir Ayat

Ayat ini merupakan kelanjutan dari rangkaian wasiat agung Allah setelah perintah tauhid dan berbakti kepada kedua orang tua.

Allah memerintahkan tiga kelompok yang harus mendapat perhatian:

  1. Kerabat dekat.
  2. Orang miskin.
  3. Ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal).

Kemudian Allah menutup ayat dengan larangan melakukan tabdzir, yaitu menghamburkan harta pada sesuatu yang tidak bermanfaat.


Pembahasan Pertama

Hak Kerabat Dekat

Allah memerintahkan:

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهُ

"Beri hak kepada kerabatmu."

Hak tersebut meliputi:

  • silaturahmi,
  • nafkah bila membutuhkan,
  • membantu kesulitannya,
  • menjaga kehormatannya,
  • menyenangkan hatinya.

Dalil Al-Qur'an

Surah An-Nisā' ayat 36

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى

Artinya:

"Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, serta berbuat baiklah kepada kedua orang tua dan kaum kerabat."


Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung silaturahmi."

(HR. al-Bukhārī no. 6138, Muslim no. 47)


Hadis lain

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Artinya:

"Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi itu sekadar membalas kebaikan. Akan tetapi orang yang benar-benar menyambung silaturahmi adalah orang yang tetap menyambung ketika hubungan itu diputus."

(HR. al-Bukhārī no. 5991)


Penjelasan Ulama

Ibnu Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm beliau menjelaskan:

Allah memulai dengan hak keluarga karena mereka adalah manusia yang paling berhak menerima kebaikan setelah kedua orang tua.


Al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān beliau berkata:

Silaturahmi merupakan kewajiban syariat yang besar. Memutus hubungan keluarga termasuk dosa besar.


Pembahasan Kedua

Memperhatikan Orang Miskin

Allah berfirman:

وَالْمِسْكِين

Orang miskin adalah mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok kehidupannya.


Dalil Al-Qur'an

Surah Al-Baqarah ayat 177

وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ

Artinya:

"Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim dan orang-orang miskin."


Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Artinya:

"Orang yang mengurus kebutuhan janda dan orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah."

(HR. al-Bukhārī no. 5353, Muslim no. 2982)


Penjelasan Ulama

Imam An-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan:

Hadis ini menunjukkan besarnya pahala membantu fakir miskin, bahkan disamakan dengan pahala jihad dan ibadah malam.


Pembahasan Ketiga

Membantu Ibnu Sabil

Ibnu sabil ialah musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan yang dibenarkan syariat.

Allah memerintahkan agar mereka dibantu hingga dapat mencapai tujuan.


Dalil

Surah At-Taubah ayat 60

وَابْنِ السَّبِيلِ

Artinya:

"Dan (zakat diberikan kepada) ibnu sabil."

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan musafir yang mengalami kesulitan.


Pembahasan Keempat

Larangan Boros

Allah berfirman:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

Jangan menghambur-hamburkan harta.

Tabdzir berbeda dengan israf.

Tabdzir ialah membelanjakan harta pada jalan yang haram atau tidak bermanfaat.

Israf ialah berlebihan walaupun pada perkara yang mubah.


Dalil Al-Qur'an

Surah Al-Furqān ayat 67

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Artinya:

"Dan orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah."


Dalil lainnya

Surah Al-A'rāf ayat 31

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya:

"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."


Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Sa'ad ketika berwudu:

لَا تُسْرِفْ فِي الْمَاءِ وَلَوْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ

Artinya:

"Jangan berlebihan menggunakan air meskipun engkau berada di sungai yang mengalir."

(HR. Sunan Ibnu Majah no. 425; dinilai hasan oleh sejumlah ulama)


Penjelasan Ulama

Ibnu Abbas

Beliau berkata:

التبذير هو الإنفاق في غير حق

"Tabdzir adalah membelanjakan harta bukan pada jalan yang benar."

(Tafsīr Ibnu Abī Ḥātim)


Mujahid bin Jabr

Beliau mengatakan:

Bila seseorang menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah, itu bukan tabdzir. Tetapi mengeluarkan sedikit harta untuk kemaksiatan termasuk tabdzir.

(Tafsīr al-Qurṭubī)


Imam Asy-Syaukani

Dalam Fatḥ al-Qadīr beliau menjelaskan:

Tabdzir bukan diukur dari banyak atau sedikitnya harta yang dikeluarkan, tetapi dari tujuan penggunaannya.


Hikmah Ayat

  1. Harta adalah amanah dari Allah.
  2. Keluarga memiliki hak yang harus ditunaikan.
  3. Membantu fakir miskin merupakan ibadah yang agung.
  4. Islam sangat memperhatikan musafir yang membutuhkan pertolongan.
  5. Pemborosan adalah sifat yang dibenci Allah.
  6. Seorang mukmin harus hidup sederhana, tidak pelit dan tidak boros.

Implementasi dalam Kehidupan

  • Menyisihkan sebagian rezeki untuk keluarga yang membutuhkan.
  • Membayar zakat, infak, dan sedekah tepat sasaran.
  • Menjalin silaturahmi secara rutin.
  • Menghindari budaya konsumtif dan pamer.
  • Menggunakan harta untuk dakwah, pendidikan, dan kemaslahatan umat.
  • Mengajarkan anak-anak hidup hemat dan bertanggung jawab terhadap nikmat Allah.

Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan nikmat harta. Harta bukan untuk ditumpuk atau dihamburkan, melainkan untuk menjadi sarana ibadah, mempererat silaturahmi, membantu sesama, dan mencari ridha Allah. Orang yang mampu menunaikan hak kerabat, peduli kepada fakir miskin, membantu musafir, serta menjauhi pemborosan adalah hamba yang mensyukuri nikmat Allah dengan sebenar-benarnya.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dermawan, bijaksana dalam mengelola harta, gemar menyambung silaturahmi, dan dijauhkan dari sifat boros.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Rujukan Kitab

  1. Tafsir ath-Thabari.
  2. Tafsir Ibnu Katsir.
  3. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an.
  4. Mafatih al-Ghaib.
  5. Fath al-Qadir.
  6. Sahih al-Bukhari.
  7. Sahih Muslim.
  8. Sunan Ibnu Majah.
  9. Musnad Ahmad.

Tidak ada komentar