Allah Maha Mengetahui, Manusia Terbatas Pengetahuannya

CERAMAH: PELAJARAN DARI ASHABUL KAHF

“Allah Maha Mengetahui, Manusia Terbatas Pengetahuannya”

QS. Al-Kahf: 12

ثُمَّ بَعَثْنٰهُمْ لِنَعْلَمَ اَيُّ الْحِزْبَيْنِ اَحْصٰى لِمَا لَبِثُوْٓا اَمَدًا ۖ

“Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).”

Ayat ini merupakan kelanjutan kisah para pemuda Ashabul Kahf. Setelah Allah menidurkan mereka dalam gua, Allah membangunkan mereka kembali. Peristiwa tersebut menjadi tanda kekuasaan Allah, sekaligus sarana untuk memperlihatkan keterbatasan manusia dalam mengetahui perkara yang gaib.


1. Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu

Salah satu pelajaran terbesar dari ayat ini adalah bahwa ilmu manusia sangat terbatas, sedangkan ilmu Allah tidak terbatas.

Allah berfirman:

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata.”
(QS. Al-An‘ām: 59)

Perhatikan ungkapan Al-Qur'an:

“Tidak ada sehelai daun pun yang gugur kecuali Dia mengetahuinya.”

Kalau daun yang jatuh saja diketahui Allah, bagaimana mungkin Allah tidak mengetahui keadaan kita?

Allah mengetahui:

  • apa yang kita pikirkan,
  • apa yang kita ucapkan,
  • apa yang kita kerjakan,
  • apa yang kita sembunyikan,
  • bahkan sesuatu yang belum kita ketahui tentang diri kita sendiri.

Pelajaran

Jangan merasa sendirian ketika menghadapi masalah.

Ketika manusia tidak memahami keadaan kita, Allah memahaminya.

Ketika manusia tidak mengetahui perjuangan kita, Allah mengetahuinya.

Ketika manusia tidak menghargai kebaikan kita, Allah tidak pernah menyia-nyiakannya.


2. “لِنَعْلَمَ” Bukan Berarti Allah Baru Mengetahui

Ayat ini menggunakan ungkapan:

لِنَعْلَمَ

“Agar Kami mengetahui.”

Jangan dipahami bahwa sebelumnya Allah tidak mengetahui, kemudian setelah peristiwa terjadi Allah baru mengetahuinya.

Allah telah mengetahui seluruh kejadian sebelum menciptakan manusia.

Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. Al-Anfāl: 75)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ungkapan semacam ini berkaitan dengan terwujudnya sesuatu dalam kenyataan, sehingga ilmu Allah yang azali berkaitan dengan apa yang kemudian tampak dan terjadi secara nyata.

Penjelasan Imam Ath-Thabari

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, Imam ath-Thabari menjelaskan makna ayat ini berkaitan dengan Allah menampakkan kepada manusia pihak mana yang lebih tepat dalam menghitung masa tinggal mereka.

Dengan kata lain, peristiwa tersebut menjadi penampakan nyata atas apa yang telah Allah ketahui.

Catatan: Ini penting dalam pembahasan akidah: Allah tidak memperoleh pengetahuan baru. Ilmu Allah sempurna sejak azali.


3. Manusia Harus Rendah Hati terhadap Ilmunya

Ashabul Kahf sendiri tidak mengetahui berapa lama mereka tertidur.

Allah mengabadikan perkataan mereka:

قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۗ قَالُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ

“Mereka berkata, ‘Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.’ Mereka berkata, ‘Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu tinggal (di sini).’”

(QS. Al-Kahf: 19)

Perhatikan sikap mereka.

Mereka tidak mengatakan:

“Kami pasti tahu.”

Tetapi:

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ

“Tuhan kalian lebih mengetahui.”

Inilah akhlak orang berilmu.

Semakin seseorang memahami luasnya ilmu Allah, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.


4. Dalil tentang Keterbatasan Ilmu Manusia

Allah berfirman:

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

(QS. Al-Isrā’: 85)

Ayat ini bukan berarti manusia tidak boleh mencari ilmu.

Justru Islam memerintahkan manusia untuk belajar.

Tetapi ilmu harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.

Orang berilmu berkata:

“Ini yang saya ketahui.”

Dan ketika menghadapi sesuatu yang belum diketahui, ia berani berkata:

اللّٰهُ أَعْلَمُ

“Allah lebih mengetahui.”


5. Rasulullah ﷺ Mengajarkan Sikap “Allah Lebih Mengetahui”

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.”

(HR. Muslim, no. 2363)

Hadis ini menunjukkan adanya ruang bagi manusia untuk menggunakan pengalaman, penelitian, pengamatan, dan ilmu dalam urusan dunia.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berpikir.

Sebaliknya, manusia diperintahkan untuk:

  • belajar,
  • meneliti,
  • mengamati,
  • mengambil pelajaran,
  • kemudian menyadari bahwa ilmu manusia tetap terbatas.

6. Kisah Ashabul Kahf Mengajarkan bahwa Allah Menguasai Waktu

Para pemuda itu masuk ke dalam gua.

Mereka tidur.

Kemudian Allah membangunkan mereka.

Bagi mereka terasa seperti sehari atau setengah hari, padahal mereka telah berada dalam gua dalam waktu yang sangat panjang.

Allah berfirman:

وَلَبِثُوْا فِيْ كَهْفِهِمْ ثَلٰثَ مِائَةٍ سِنِيْنَ وَازْدَادُوْا تِسْعًا

“Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.”

(QS. Al-Kahf: 25)

Ini menunjukkan bahwa ukuran waktu yang dirasakan manusia tidak selalu sama dengan keadaan waktu yang sebenarnya.

Allah yang menciptakan waktu berkuasa atas waktu.

Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”

(QS. Al-Anbiyā’: 33)


7. Tidur Adalah Salah Satu Tanda Kekuasaan Allah

Kisah Ashabul Kahf juga mengingatkan kita kepada nikmat tidur.

Setiap hari manusia mengalami “kematian kecil”: tidur.

Allah berfirman:

اللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ

“Allah memegang nyawa seseorang ketika kematiannya dan nyawa orang yang belum mati ketika tidurnya. Kemudian Dia tahan nyawa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.”

(QS. Az-Zumar: 42)

Setiap kali kita bangun tidur, sebenarnya kita sedang mendapatkan kesempatan baru dari Allah.

Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kebangkitan.”

(HR. al-Bukhari, no. 6312; Muslim, no. 2711)

Perhatikan kalimat:

أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا

“Menghidupkan kami setelah mematikan kami.”

Tidur menjadi pengingat tentang kematian dan kebangkitan.


8. Ashabul Kahf: Pemuda yang Memilih Allah

Kita juga harus melihat siapa sebenarnya Ashabul Kahf.

Mereka adalah para pemuda.

Allah berfirman:

اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”

(QS. Al-Kahf: 13)

Ini pelajaran yang sangat penting.

Masa muda bukan alasan untuk jauh dari Allah.

Justru masa muda dapat menjadi masa terbaik untuk:

  • memperkuat iman,
  • menjaga salat,
  • belajar Al-Qur'an,
  • menjaga pergaulan,
  • berani meninggalkan kemaksiatan,
  • dan mempertahankan prinsip kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat:

وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ

“Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya.”

(HR. al-Bukhari, no. 660; Muslim, no. 1031)


9. Jangan Takut Meninggalkan Sesuatu Demi Allah

Ashabul Kahf meninggalkan lingkungan yang mengancam iman mereka.

Mereka tidak mempunyai kekuatan militer.

Tidak mempunyai kekuasaan.

Tidak mempunyai harta yang luar biasa.

Tetapi mereka memiliki iman.

Allah kemudian memberikan pertolongan dengan cara yang tidak mereka sangka.

Ini sejalan dengan firman Allah:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ۝٢ وَيَرْزُقْهٗ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”

(QS. Ath-Thalāq: 2–3)

Terkadang kita berpikir:

“Kalau saya meninggalkan ini, bagaimana masa depan saya?”

Ashabul Kahf mengajarkan:

Yang terpenting bukan apa yang kita kehilangan ketika memilih Allah, tetapi apa yang Allah siapkan setelah kita memilih-Nya.


10. Allah Menguji, Kemudian Allah Menolong

Kehidupan Ashabul Kahf bukan kehidupan tanpa ujian.

Mereka menghadapi ancaman.

Mereka harus meninggalkan kampung halaman.

Mereka masuk ke dalam gua.

Namun ujian itu menjadi jalan datangnya pertolongan Allah.

Allah berfirman:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ۝١ اَلَمْ ۝٢

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?”

(QS. Al-‘Ankabūt: 2)

Karena itu, ketika menghadapi ujian jangan langsung berpikir:

“Allah meninggalkan saya.”

Bisa jadi justru:

“Allah sedang mendidik saya.”


11. Pelajaran Penting tentang Ilmu dan Perselisihan

Ayat ke-12 menyebut adanya:

اَيُّ الْحِزْبَيْنِ

“dua golongan.”

Mereka berbeda dalam menghitung berapa lama para pemuda itu berada di dalam gua.

Ini mengajarkan bahwa manusia bisa berbeda pendapat karena keterbatasan informasi.

Maka seorang Muslim harus memiliki adab ketika berbeda pendapat.

Allah berfirman:

وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Anfāl: 46)

Perbedaan pendapat harus disikapi dengan:

  1. ilmu,
  2. kejujuran,
  3. adab,
  4. tidak merasa paling tahu,
  5. mengembalikan perkara yang tidak diketahui kepada Allah.

12. Nasihat Imam Malik tentang “Saya Tidak Tahu”

Salah satu teladan luar biasa dari ulama adalah keberanian mengatakan “saya tidak tahu.”

Diriwayatkan bahwa Imam Malik رحمه الله pernah ditanya sejumlah persoalan. Beliau menjawab beberapa pertanyaan dan untuk sejumlah pertanyaan lainnya beliau mengatakan:

لَا أَدْرِي

“Saya tidak tahu.”

Ketika ditanya mengapa beliau tidak menjawab, beliau menjelaskan pentingnya seseorang menjaga dirinya agar tidak berbicara tanpa ilmu.

Ini adalah ruh pendidikan Islam:

Tidak tahu bukan aib.

Berbicara tanpa ilmu itulah yang berbahaya.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isrā’: 36)


13. Jangan Menjadikan Kisah sebagai Sekadar Cerita

Kesalahan yang sering terjadi ketika membaca kisah Ashabul Kahf adalah kita sibuk mencari:

  • siapa nama mereka,
  • di mana guanya,
  • siapa nama rajanya,
  • nama anjingnya,
  • kota tempat mereka tinggal,
  • dan berbagai rincian yang tidak ditegaskan Al-Qur'an.

Padahal Al-Qur'an sendiri mengarahkan kita kepada pelajaran.

Allah berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّ ۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى

“Kami ceritakan kepadamu kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”

(QS. Al-Kahf: 13)

Fokus Al-Qur'an adalah:

iman → keberanian → tawakal → pertolongan Allah.

Bukan sekadar rincian sejarah.


14. Hikmah Utama QS. Al-Kahf Ayat 12

Dari ayat ini kita dapat mengambil setidaknya 8 pelajaran:

1. Allah Maha Mengetahui

Tidak ada satu pun kejadian yang luput dari ilmu Allah.

2. Ilmu manusia terbatas

Karena itu jangan sombong dengan ilmu.

3. Berani mengatakan “Allah lebih mengetahui”

Ini adalah adab seorang mukmin.

4. Allah berkuasa atas waktu

Ratusan tahun dapat terasa seperti waktu yang sangat singkat bagi manusia.

5. Tidur mengingatkan kita kepada kematian

Bangun tidur adalah kesempatan baru untuk memperbaiki kehidupan.

6. Pemuda dapat menjadi pembela iman

Ashabul Kahf menunjukkan bahwa pemuda bukan hanya objek pembinaan, tetapi dapat menjadi teladan umat.

7. Ujian tidak berarti Allah meninggalkan kita

Terkadang ujian justru menjadi pintu pertolongan.

8. Jangan terjebak pada perdebatan yang tidak bermanfaat

Ambil pesan iman dari kisah, bukan sekadar memperdebatkan rincian yang tidak ditegaskan wahyu.


Penjelasan Ulama

Imam Ibnu Katsir رحمه الله

Dalam Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah membangunkan Ashabul Kahf setelah masa yang panjang tersebut untuk memperlihatkan kekuasaan Allah dan hujjah-Nya atas manusia, terutama berkaitan dengan kebangkitan setelah kematian.

Peristiwa Ashabul Kahf menjadi bukti bahwa Allah yang mampu menidurkan mereka dalam waktu yang sangat lama dan membangunkan mereka kembali juga mampu membangkitkan manusia setelah kematian.[^1]

Imam ath-Thabari رحمه الله

Ath-Thabari menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut berkaitan dengan ditampakkannya pihak yang lebih tepat dalam menghitung masa tinggal mereka. Perselisihan manusia mengenai masa tersebut menunjukkan keterbatasan pengetahuan manusia dibandingkan ilmu Allah.[^2]

Imam al-Qurthubi رحمه الله

Al-Qurthubi mengaitkan kisah Ashabul Kahf dengan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam membangkitkan makhluk setelah kematian. Kisah tersebut bukan sekadar cerita sejarah, tetapi hujjah tentang kemampuan Allah menghidupkan kembali makhluk.[^3]


Penutup Ceramah

Hadirin yang dirahmati Allah...

QS. Al-Kahf ayat 12 mengajarkan kepada kita satu kalimat yang sangat sederhana tetapi sangat dalam:

اللّٰهُ أَعْلَمُ

“Allah lebih mengetahui.”

Kita boleh memiliki ilmu.

Kita harus belajar.

Kita harus meneliti.

Kita harus menggunakan akal.

Tetapi jangan sampai ilmu membuat kita sombong.

Karena betapapun luas ilmu manusia, Allah mengatakan:

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

“Kalian tidak diberi ilmu kecuali sedikit.”

Maka jadilah orang yang ketika mengetahui sesuatu berkata:

“Alhamdulillah, ini ilmu dari Allah.”

Dan ketika tidak mengetahui sesuatu berkata:

“Allah lebih mengetahui.”

Ketika menghadapi ujian, berkata:

“Allah pasti mempunyai hikmah.”

Ketika kehilangan sesuatu, berkata:

“Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi saya.”

Dan ketika hidup terasa gelap, ingatlah Ashabul Kahf.

Mereka masuk ke dalam gua dalam keadaan terancam, tetapi keluar dari kisah itu sebagai tanda kebesaran Allah sepanjang zaman.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang berilmu, rendah hati, kuat dalam iman, sabar menghadapi ujian, dan selalu bertawakal kepada-Nya.

اللَّهُمَّ زِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَإِيمَانًا صَادِقًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا.

“Ya Allah, tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, iman yang benar, amal yang saleh, dan hati yang khusyuk.”

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


Catatan Kaki / Kitab Rujukan

[^1]: Ismā‘īl ibn ‘Umar ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 12–13.
[^2]: Muhammad ibn Jarīr ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 12.
[^3]: Abū ‘Abdillāh al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 9–12.
[^4]: Abū al-Fidā’ Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa an-Nihāyah, pembahasan kisah Ashabul Kahf.
[^5]: Ṣaḥīḥ al-Bukhāri, Kitāb ad-Da‘awāt, hadis tentang doa bangun tidur, no. 6312.
[^6]: Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Faḍā’il, hadis “أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ”, no. 2363.

Tidak ada komentar