Belajar dari Ashabul Kahfi: Rendah Hati, Memilih yang Halal, dan Bersikap Bijaksana

MATERI CERAMAH

“Belajar dari Ashabul Kahfi: Rendah Hati, Memilih yang Halal, dan Bersikap Bijaksana”

QS. Al-Kahf: 19

وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَاۤءَلُوْا بَيْنَهُمْۗ قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْۗ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْۗ فَابْعَثُوْٓا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖٓ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَآ اَزْكٰى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ اَحَدًا

Artinya:

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?’ Mereka menjawab, ‘Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.’ Berkata (yang lain lagi), ‘Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun.’”


1. PEMBUKAAN: MANUSIA MEMILIKI KETERBATASAN

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ayat ini melanjutkan kisah Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda beriman yang Allah selamatkan dengan cara yang luar biasa.

Mereka tidur dalam gua dalam waktu yang sangat panjang. Ketika Allah membangunkan mereka, mereka sendiri tidak mengetahui berapa lama mereka telah tidur.

Ketika ditanya:

كَمْ لَبِثْتُمْ؟
“Berapa lama kalian tinggal?”

Mereka menjawab:

لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ
“Kami tinggal sehari atau setengah hari.”

Kemudian mereka berkata:

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ
“Tuhan kalian lebih mengetahui berapa lama kalian tinggal.”

Pelajaran pertama:

Jangan merasa mengetahui segala sesuatu.

Ada perkara yang manusia tahu, ada yang tidak tahu.

Allah berfirman:

QS. Al-Isra’: 85

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Artinya:

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.’”

Manusia boleh berilmu, tetapi jangan sampai ilmu membuatnya sombong.

Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa ilmu manusia tetap terbatas.


2. UCAPKAN “ALLAHU A'LAM” KETIKA TIDAK MENGETAHUI

Ashabul Kahfi memberikan teladan yang sangat indah.

Mereka tidak memaksakan jawaban.

Mereka mengatakan:

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ

“Allah lebih mengetahui berapa lama kalian tinggal.”

Ini adalah akhlak seorang mukmin:

Jika tahu, katakan tahu. Jika tidak tahu, katakan tidak tahu.

Jangan malu mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Karena mengatakan “saya tidak tahu” bukan tanda kebodohan. Justru bisa menjadi tanda kejujuran dan amanah ilmiah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”[^1]

Hadis ini menunjukkan betapa beratnya berbicara tanpa dasar, terlebih lagi ketika mengatasnamakan Rasulullah ﷺ.

Nasihat untuk kita:

Jangan semua yang kita dengar langsung kita sampaikan.

Tabayyun sebelum berbicara.
Periksa sebelum menyebarkan.
Pastikan sebelum mengajarkan.


3. SETELAH BANGUN, MEREKA MEMIKIRKAN MAKANAN

Menarik sekali.

Setelah mereka terbangun, mereka tidak sibuk memperdebatkan hal-hal yang tidak mereka ketahui.

Mereka berkata:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهِ

“Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi membawa uang perak ini.”

Kemudian:

فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا

“Dan hendaklah dia melihat makanan mana yang paling baik.”

Kata أَزْكَى (azkā) mengandung makna sesuatu yang lebih baik, lebih bersih dan lebih layak.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa makanan bukan sekadar soal kenyang.

Seorang muslim harus memperhatikan:

Halal dan thayyib.

Allah berfirman:

QS. Al-Baqarah: 168

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗاِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya:

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Perhatikan dua kata:

حَلَالًا — halal

dan

طَيِّبًا — baik.

Jadi seorang muslim tidak cukup bertanya:

“Apakah ini enak?”

Tetapi juga:

“Apakah ini halal?”
“Apakah ini baik?”
“Dari mana mendapatkannya?”
“Apakah cara memperolehnya benar?”


4. MAKANAN YANG HARAM BISA MERUSAK KEHIDUPAN

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat kuat tentang hubungan antara makanan dan kualitas doa.

Beliau bersabda:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Artinya:

“Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu, lalu ia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku.’ Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan sesuatu yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”[^2]

Pelajarannya:

Jangan hanya memperhatikan apa yang masuk ke mulut, tetapi juga dari mana uang untuk membeli makanan itu berasal.

Karena makanan yang halal adalah bagian dari kesalehan.


5. “REZEKI” HARUS DICARI DENGAN CARA YANG BAIK

Allah berfirman:

QS. Al-Mu’minun: 51

يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا ۖ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ

Artinya:

“Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menghubungkan:

makanan yang baik → amal yang baik.

Maka mari kita perhatikan rezeki kita:

  • Apakah diperoleh dengan cara halal?
  • Apakah tidak menipu?
  • Apakah tidak mengambil hak orang lain?
  • Apakah tidak mengandung riba?
  • Apakah tidak berasal dari korupsi?
  • Apakah tidak diperoleh dengan kecurangan?

Sebab yang kita makan bukan hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan ibadah kita.


6. ISLAM MENGAJARKAN KEHATI-HATIAN

Ashabul Kahfi berkata:

وَلْيَتَلَطَّفْ

“Hendaklah dia berlaku lemah lembut/berhati-hati.”

Kemudian:

وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا

“Dan jangan sampai dia memberitahukan keadaan kalian kepada siapa pun.”

Mereka tidak ceroboh.

Mereka mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga keselamatan.

Ini memberikan pelajaran:

Tawakal bukan berarti ceroboh.

Kita harus berusaha, kemudian bertawakal kepada Allah.

Allah berfirman:

QS. Ali ‘Imran: 159

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Artinya:

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Perhatikan urutannya:

bermusyawarah → mengambil keputusan → berusaha → bertawakal.

Bukan:

“Saya tawakal kepada Allah,”

tetapi tidak melakukan usaha apa pun.


7. JANGAN SEMBARANGAN MEMBUKA RAHASIA

Ashabul Kahfi sangat berhati-hati:

وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا

“Jangan sampai dia memberitahukan keadaan kalian kepada siapa pun.”

Ini bukan berarti Islam mengajarkan manusia menjadi orang yang suka menyembunyikan kebenaran.

Tetapi Islam mengajarkan bahwa tidak semua informasi harus disampaikan kepada semua orang.

Ada:

  • informasi pribadi,
  • amanah,
  • rahasia keluarga,
  • rahasia organisasi,
  • rahasia pekerjaan,
  • dan informasi yang apabila disebarkan dapat menimbulkan mudarat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

“Apabila seseorang berbicara kepada orang lain suatu pembicaraan kemudian ia menoleh, maka pembicaraan itu adalah amanah.”[^3]

Maka jangan menjadi orang yang senang membocorkan cerita pribadi orang lain.

Apa yang disampaikan kepada kita sebagai amanah, harus dijaga sebagai amanah.


8. BOLEH MEWAKILKAN URUSAN KEPADA ORANG LAIN

Ayat:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ

“Maka suruhlah salah seorang di antara kalian...”

menunjukkan adanya tindakan perwakilan.

Seseorang dapat meminta orang lain melakukan suatu urusan yang boleh diwakilkan.

Dalam fikih dikenal dengan istilah:

الْوَكَالَةُ — Al-Wakālah

yaitu memberikan kuasa kepada orang lain untuk melakukan suatu tindakan yang boleh diwakilkan.

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari:

  • seseorang meminta orang lain membeli barang;
  • mewakilkan pembayaran;
  • mewakilkan transaksi;
  • mewakilkan urusan administrasi;
  • memberikan kuasa dalam perkara tertentu.

Allah berfirman tentang kisah Nabi Yusuf:

QS. Yusuf: 55

قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِ ۖ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ

Artinya:

“Dia (Yusuf) berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.’”

Ini menunjukkan pentingnya amanah dan kompetensi ketika seseorang diberi tanggung jawab.


9. DUA SYARAT PENTING ORANG YANG DIBERI AMANAH

Dari perkataan Nabi Yusuf:

حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ

“Pandai menjaga dan berpengetahuan.”

Para ulama menjelaskan bahwa orang yang memegang amanah idealnya memiliki dua sifat utama:

1. Amanah

Dapat dipercaya dan tidak menyalahgunakan tanggung jawab.

2. Kompeten

Memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas tersebut.

Jangan hanya memilih orang karena:

“Dia teman saya.”

Tetapi lihat:

Apakah dia amanah?
Apakah dia mampu?

Karena amanah tanpa kemampuan dapat menyebabkan pekerjaan tidak selesai.

Kemampuan tanpa amanah juga berbahaya.

Yang ideal:

amanah + kompetensi.


10. KEUTAMAAN PEMUDA YANG BERIMAN

Ayat ini juga merupakan bagian dari kisah para pemuda.

Allah sebelumnya berfirman:

QS. Al-Kahf: 13

اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًى

Artinya:

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”

Mereka masih muda, tetapi memiliki iman yang kokoh.

Rasulullah ﷺ juga menyebutkan salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat:

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ

“Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabb-nya.”[^4]

Pesan untuk para pemuda:

Masa muda jangan hanya digunakan untuk:

  • mengejar popularitas,
  • bermain tanpa batas,
  • mengejar kesenangan,
  • mengikuti tren,
  • atau mengejar dunia.

Tetapi gunakan masa muda untuk:

belajar, beribadah, berkarya, berdakwah, dan memberikan manfaat.


11. PENJELASAN PARA ULAMA

Imam ath-Thabari رحمه الله

Dalam menafsirkan ayat ini, beliau menjelaskan bahwa para pemuda tersebut menyuruh salah seorang dari mereka membawa uang untuk mencari makanan yang paling baik dan paling bersih, sekaligus berhati-hati agar keberadaan mereka tidak diketahui.[^5]

Ini menunjukkan dua prinsip:

mencari makanan yang baik dan menjaga keselamatan dari bahaya.


Imam Ibnu Katsir رحمه الله

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ucapan mereka:

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ

menunjukkan sikap mereka menyerahkan perkara yang tidak mereka ketahui kepada Allah. Kemudian mereka memikirkan kebutuhan mereka yang nyata, yaitu mencari makanan.[^6]

Ini memberikan pelajaran yang sangat indah:

Dalam perkara yang tidak kita ketahui, serahkan kepada Allah. Dalam perkara yang mampu kita lakukan, lakukan ikhtiar.


Imam al-Qurthubi رحمه الله

Al-Qurthubi menjadikan ayat:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ

sebagai salah satu dasar pembahasan tentang wakālah, yaitu seseorang meminta orang lain melakukan suatu urusan atas namanya.[^7]

Dengan demikian, Islam bukan hanya mengajarkan ibadah individual, tetapi juga memberikan aturan dalam hubungan sosial dan muamalah.


12. RELEVANSI DENGAN KEHIDUPAN KITA

Jamaah sekalian,

QS. Al-Kahf ayat 19 sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.

Pertama: Dalam mencari ilmu

Jangan malu berkata:

“Saya belum tahu.”

Kemudian belajar.

Kedua: Dalam menggunakan media sosial

Jangan menyebarkan semua informasi yang kita terima.

Periksa dahulu.

Ketiga: Dalam mencari nafkah

Jangan hanya bertanya:

“Berapa besar penghasilannya?”

Tetapi tanyakan:

“Apakah halal?”

Keempat: Dalam memilih makanan

Jangan hanya melihat:

murah atau mahal, enak atau tidak.

Tetapi lihat:

halal dan thayyib.

Kelima: Dalam memberikan amanah

Pilih orang yang:

amanah dan mampu.

Keenam: Dalam menghadapi masalah

Jangan gegabah.

Belajar dari Ashabul Kahfi:

وَلْيَتَلَطَّفْ

“Hendaklah dia berhati-hati.”


13. TIGA PESAN UTAMA QS. AL-KAHF: 19

Kalau ayat ini ingin kita sederhanakan menjadi tiga pesan, maka:

1. رَبُّكُمْ أَعْلَمُ

Allah lebih mengetahui.

➡️ Rendah hati dalam ilmu.

**2. أَزْكَى طَعَامًا

** Pilih makanan yang terbaik.

➡️ Pastikan rezeki dan makanan halal serta baik.

3. وَلْيَتَلَطَّفْ

Bersikaplah hati-hati.

➡️ Jangan ceroboh dalam mengambil keputusan.


PENUTUP

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ashabul Kahfi adalah pemuda-pemuda yang berada dalam keadaan sulit. Mereka kehilangan kenyamanan, meninggalkan lingkungan yang tidak mendukung iman, masuk ke dalam gua, kemudian Allah menjaga mereka.

Ketika mereka dibangunkan, mereka tidak mengetahui berapa lama mereka tidur.

Mereka tidak sombong dengan pengetahuan.

Mereka berkata:

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ

“Tuhan kalian lebih mengetahui berapa lama kalian tinggal.”

Kemudian mereka mencari makanan:

فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا

“Hendaklah dia melihat makanan mana yang paling baik.”

Dan mereka berhati-hati:

وَلْيَتَلَطَّفْ

“Hendaklah dia berlaku hati-hati.”

Maka mari kita bawa tiga sifat Ashabul Kahfi dalam kehidupan kita:

Rendah hati dalam ilmu.
Selektif dalam mencari rezeki.
Hati-hati dalam bertindak.

Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan thayyib, hati yang istiqamah, serta kemampuan menjaga setiap amanah.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan baik, hati yang khusyuk, serta amal saleh yang Engkau terima.”

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


Catatan kaki / Referensi

[^1]: Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Muqaddimah, Bāb Taġlīẓ al-Każib ‘alā Rasūlillāh ﷺ. Hadis ini juga diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dengan beberapa redaksi.

[^2]: Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb az-Zakāh, Bāb Qabūl aṣ-Ṣadaqah min al-Kasb ath-Ṭayyib wa Tarbiyatihā.

[^3]: Abū Dāwud, Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Adab, Bāb fī Naql al-Ḥadīṡ; at-Tirmiżī, Sunan at-Tirmiżī, Kitāb al-Birr waṣ-Ṣilah.

[^4]: Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb az-Zakāh, Bāb aṣ-Ṣadaqah bi al-Yamīn; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb az-Zakāh. Hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah.

[^5]: Muḥammad bin Jarīr ath-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 19.

[^6]: Ismā‘īl bin ‘Umar Ibnu Kaṡīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 19.

[^7]: Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 19, pembahasan tentang al-wakālah.


Tidak ada komentar