BUTA HATI DI DUNIA, SEMAKIN TERSESAT DI AKHIRAT

BUTA HATI DI DUNIA, SEMAKIN TERSESAT DI AKHIRAT
 
Dasar Pokok: Surah Al-Isrā’ Ayat 72
 
I. PENDAHULUAN
 
Setelah Allah SWT menjelaskan kemuliaan manusia pada ayat sebelumnya, kini Allah memperingatkan betapa ruginya manusia yang menyia-nyiakan anugerah akal dan petunjuk tersebut. Firman-Nya:
 
وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖٓ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا
 
“Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar).”
(QS. Al-Isrā’/17: 72)
 
Ayat ini mengajarkan bahwa keadaan kita di dunia adalah cerminan dan penentu keadaan kita di akhirat. "Kebutaan" di sini bukan buta mata, melainkan buta hati yang tidak mampu melihat kebenaran.
 
II. PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG MAKNA AYAT
 
Ulama Penjelasan Makna Rujukan 
Ibnu Katsir "Buta" yang dimaksud adalah buta hati, tidak dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Barangsiapa yang tidak mendapat petunjuk di dunia, maka di akhirat ia akan semakin bingung dan tidak menemukan jalan keselamatan. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 
Al-Qurthubi Kebutaan di akhirat adalah balasan yang setimpal karena mereka menutup mata hati terhadap perintah Allah di dunia. Mereka kembali kepada Allah dalam keadaan tidak membawa bekal iman dan amal saleh. Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an 
As-Sa’di Sifat dan karakter manusia tidak berubah saat dibangkitkan. Jika di dunia hatinya mati, tertutup, dan menjauh dari kebenaran, maka di akhirat keadaannya akan semakin parah, jauh dari hidayah dan semakin sesat jalannya. Taisir Al-Karim Ar-Rahman 
Ath-Thabari Kata "a’ma" (lebih buta) bermakna kondisinya lebih buruk di akhirat dibanding saat di dunia, karena di dunia masih ada kesempatan bertaubat, sedangkan di akhirat sudah tertutup segala pintu perbaikan. Jami’ Al-Bayan Fi Ta’wil Al-Qur’an 
 
III. DALIL PENDUKUNG DARI AL-QUR’AN
 
1. Perbedaan Mata dan Hati
 
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
 
“Sebenarnya bukan matanya yang menjadi buta, tetapi yang menjadi buta adalah hati yang ada di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj/22: 46)
 
Ulasan Ulama: Menurut Ibnu Jarir Ath-Thabari, ayat ini menegaskan bahwa kebutaan yang sesungguhnya adalah hati yang tidak mau menerima kebenaran, meskipun matanya melihat tanda-tanda kekuasaan Allah.
 
2. Keadaan Orang yang Menjauh dari Allah
 
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ۝ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
 
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami jadikan untuknya setan yang menjadi peneman yang selalu mengikutinya. Dan sesungguhnya setan-setan itu menghalangi mereka dari jalan yang benar, padahal mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Az-Zukhruf/43: 36–37)
 
Ulasan Ulama: As-Sa’di menjelaskan: Siapa yang lalai mengingat Allah di dunia, ia akan dibimbing ke jalan yang semakin sesat, hingga ia mengira kesesatan itu adalah kebenaran. Maka di akhirat ia pun semakin buta mengenal jalan keselamatan.
 
3. Amal Perbuatan Menjadi Cerminan Diri Saat Berbangkit
 
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ ۝ فَمَا لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ
 
“Pada hari diketahui segala isi hati, maka tidaklah bagi mereka suatu kekuatan dan tidak pula seorang penolong.”
(QS. At-Thariq/86: 9–10)
 
Ulasan Ulama: Ibnu Katsir menambahkan: Manusia dibangkitkan dengan membawa sifat aslinya. Jika di dunia terbiasa buta terhadap kewajiban, maka di akhirat ia tidak memiliki kemampuan untuk melihat kebenaran atau memohon ampunan yang diterima.
 
IV. DALIL PENDUKUNG DARI AS-SUNNAH
 
Hadis 1: Peringatan Menutup Mata Hati
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَ عَبْدَهُ شَرَحَ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يُضِلَّهُ جَعَلَ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ»
 
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila Allah ingin memberi petunjuk kepada seseorang, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan apabila Allah ingin menyesatkan seseorang, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak dan sempit seakan-akan ia sedang mendaki langit.”
(HR. Bukhari no. 4970)
 
Ulasan: Imam An-Nawawi menjelaskan: Kesempitan dada adalah tanda hati yang tertutup, sulit menerima kebenaran di dunia, dan itu akan berlanjut hingga ke akhirat.
 
Hadis 2: Keadaan Orang yang Melalaikan Ilmu
 
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ»
 
Dari Abu Ad-Darda RA, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.”
(HR. Muslim no. 2699)
 
Ulasan: Jika di dunia enggan menempuh jalan ilmu dan petunjuk, maka di akhirat tidak akan ditemukan jalan menuju keselamatan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Isrā’ ayat 72.
 
V. PESAN UTAMA DAN RENUNGAN
 
1. Kebutuhan Terbesar Adalah Hati yang Melihat: Jangan sampai kita memiliki mata yang sempurna namun hati yang buta terhadap perintah Allah, kasih sayang kepada sesama, dan kebenaran agama.
2. Dunia Adalah Ladang Akhirat: Apa yang kita tanam sifat dan perilaku di dunia, itulah yang akan kita petik di akhirat. Jika kita biasakan lalai dan menutup diri, maka di akhirat kita akan semakin bingung dan jauh dari pertolongan Allah.
3. Pintu Taubat Masih Terbuka: Selama masih bernapas, kita bisa memohon kepada Allah agar melapangkan dada, membuka mata hati, dan mengembalikan kita ke jalan yang benar sebelum kita berpulang dalam keadaan buta hati.
4. Kesesatan Berjenjang: Menutup diri dari petunjuk kecil, lama-kelamaan akan menjauhkan dari petunjuk yang lebih besar, hingga akhirnya tersesat jauh tanpa jalan kembali.
 
VI. DAFTAR KITAB RUJUKAN
 
1. Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan Fi Ta’wil Al-Qur’an
2. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim
3. Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an
4. ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Taisir Al-Karim Ar-Rahman
5. Imam An-Nawawi, Syahih Muslim Bi Syarh An-Nawawi
6. Imam Bukhari, Shahih Al-Bukhari
7. Imam Muslim, Shahih Muslim
 

Tidak ada komentar