Hidayah Allah, Bahaya Kesesatan, dan Dahsyatnya Balasan di Akhirat

Materi Ceramah Tafsir Surah Al-Isrā’ Ayat 97

“Hidayah Allah, Bahaya Kesesatan, dan Dahsyatnya Balasan di Akhirat”

Pembukaan

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan, dan yang paling besar: nikmat hidayah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti beliau hingga hari kiamat.

Pada kesempatan ini kita akan mengambil pelajaran dari QS. Al-Isrā’ ayat 97, sebuah ayat yang mengandung dua sisi yang sangat penting: bagaimana mendapatkan hidayah Allah dan bagaimana akibat orang yang berpaling dari petunjuk-Nya.


1. Ayat Al-Qur'an

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِهٖ ۗ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَلٰى وُجُوْهِهِمْ عُمْيًا وَّبُكْمًا وَّصُمًّا ۗ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنٰهُمْ سَعِيْرًا

Artinya:

“Dan barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa Dia sesatkan, maka engkau tidak akan mendapatkan penolong-penolong bagi mereka selain Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 97)


2. Pelajaran Pertama: Hidayah Adalah Nikmat Terbesar

Allah memulai ayat dengan:

وَمَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ

“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk.”

Perhatikan, Allah tidak mengatakan bahwa orang yang mempunyai banyak harta adalah orang yang paling beruntung.

Tidak pula orang yang memiliki jabatan tinggi.

Bukan pula orang yang terkenal.

Tetapi orang yang paling beruntung adalah orang yang mendapatkan hidayah Allah.

Karena harta bisa hilang, jabatan bisa berakhir, kesehatan bisa berubah, tetapi hidayah membawa seseorang kepada keselamatan dunia dan akhirat.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللّٰهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Barang siapa berpegang teguh kepada Allah, maka sungguh, dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 101)

Renungan

Kita sering berdoa:

“Ya Allah, berikan saya rezeki.”

“Ya Allah, berikan saya kesehatan.”

“Ya Allah, mudahkan pekerjaan saya.”

Itu semua baik.

Tetapi jangan lupa meminta sesuatu yang jauh lebih penting:

“Ya Allah, jangan Engkau cabut hidayah dari hati kami.”

Sebab seseorang bisa memiliki banyak nikmat tetapi kehilangan nikmat iman.


3. Hidayah Ada yang Harus Kita Cari dan Ada yang Allah Berikan

Para ulama menjelaskan bahwa hidayah memiliki beberapa tingkatan.

Pertama: Hidayah berupa penjelasan dan petunjuk

Allah dan Rasul-Nya menjelaskan jalan yang benar.

Allah berfirman:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
(QS. Al-Balad [90]: 10)

Artinya, manusia telah diberi penjelasan mengenai jalan kebaikan dan jalan keburukan.

Kedua: Hidayah taufik

Yaitu Allah memberikan kemampuan kepada seseorang untuk menerima kebenaran, mencintainya, kemudian mengamalkannya.

Inilah hidayah yang sangat kita butuhkan.

Karena seseorang bisa mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutinya.


4. Nabi ﷺ Tidak Bisa Memberikan Hidayah Taufik

Allah berfirman kepada Rasulullah ﷺ:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 56)

Ayat ini sangat dalam.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mulia. Beliau sangat menginginkan agar orang-orang yang beliau cintai beriman. Tetapi hidayah taufik tetap berada di tangan Allah.

Dalam tafsirnya, Ibn Kathīr menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mampu memberikan hidayatul irsyād—menunjukkan dan menjelaskan jalan—tetapi hidayah yang membuat hati menerima dan mengikuti kebenaran berada di tangan Allah.

Rujukan: Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibn Kathīr, tafsir QS. Al-Qaṣaṣ: 56.


5. Karena Itu, Jangan Pernah Merasa Aman dari Kehilangan Hidayah

Di antara doa yang sering dibaca Nabi ﷺ:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmiżī.

Ketika ditanya mengapa beliau sering berdoa demikian, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa hati manusia berada di antara jari-jari Allah; Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.

Pelajaran penting

Kalau Nabi ﷺ saja banyak berdoa agar hatinya diteguhkan, bagaimana dengan kita?

Jangan mengatakan:

“Saya sudah lama mengaji, pasti iman saya aman.”

“Saya sudah menjadi guru agama, pasti tidak akan tersesat.”

“Saya sudah hafal Al-Qur'an, pasti selamanya istiqamah.”

Justru semakin banyak ilmu, semakin kita membutuhkan taufik dan pertolongan Allah.


6. Jangan Hanya Meminta Hidayah, tetapi Tempuh Jalan Hidayah

Hidayah bukan alasan untuk bermalas-malasan.

Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 69)

Perhatikan hubungan antara usaha dan hidayah.

Kita berusaha:

  • belajar Al-Qur'an,
  • membaca tafsir,
  • menghadiri majelis ilmu,
  • berteman dengan orang saleh,
  • memperbanyak doa,
  • meninggalkan maksiat,
  • melaksanakan perintah Allah.

Kemudian kita memohon agar Allah memberikan taufik.


7. Bahaya Kesesatan: Tidak Ada Penolong Selain Allah

Allah melanjutkan:

وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِهٖ

“Dan barang siapa Dia sesatkan, maka engkau tidak akan mendapatkan penolong-penolong bagi mereka selain Dia.”

Ini menunjukkan betapa berbahayanya kesesatan.

Ketika seseorang berpaling dari Allah, siapa yang dapat menyelamatkannya?

Harta tidak dapat menyelamatkan.

Jabatan tidak dapat menyelamatkan.

Keluarga tidak dapat menyelamatkan.

Teman tidak dapat menyelamatkan.

Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ ۝ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 88–89)


8. Mengapa Mereka Dibangkitkan dalam Keadaan Buta, Bisu, dan Tuli?

Allah berfirman:

وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَلٰى وُجُوْهِهِمْ عُمْيًا وَّبُكْمًا وَّصُمًّا

“Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli.”

Ini merupakan gambaran dahsyat tentang keadaan orang-orang yang menolak petunjuk.

Di dunia mereka memiliki mata tetapi tidak mau melihat kebenaran.

Mereka memiliki telinga tetapi tidak mau mendengar nasihat.

Mereka memiliki kemampuan berbicara tetapi tidak mau mengatakan kebenaran.

Maka di akhirat Allah memperlihatkan akibat dari sikap mereka.

Allah juga berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (isi) neraka Jahanam. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami; mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
(QS. Al-A‘rāf [7]: 179)

Komentar ulama

Ibn Kathīr menjelaskan bahwa yang menjadi celaan bukanlah sekadar kondisi fisik mata, telinga, atau hati, tetapi ketidakmauan menggunakan semua itu untuk menerima petunjuk Allah.

Dengan kata lain:

Masalah terbesar bukan tidak tahu kebenaran, tetapi mengetahui kebenaran lalu menolaknya.


9. Hadis tentang Manusia yang Dikumpulkan di Atas Wajahnya

Nabi ﷺ bersabda:

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى وُجُوهِهِمْ؟ قَالَ: أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُمْ عَلَى أَرْجُلِهِمْ قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُمْ عَلَى وُجُوهِهِمْ؟

“Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana manusia dikumpulkan dengan berjalan di atas wajah mereka?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah Dzat yang membuat mereka berjalan dengan kaki mereka mampu membuat mereka berjalan di atas wajah mereka?’”

HR. al-Bukhārī dan Muslim.

Pelajaran

Jangan mengukur kekuasaan Allah dengan kemampuan manusia.

Allah yang menciptakan manusia dari tidak ada mampu melakukan apa saja yang Dia kehendaki.

Karena itu perkara hari kiamat yang belum kita lihat bukan berarti tidak mungkin. Ia adalah perkara ghaib yang wajib kita imani berdasarkan berita wahyu.


10. Neraka Jahanam: Setiap Kali Reda, Ditambah Nyala Apinya

Allah berfirman:

مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنٰهُمْ سَعِيْرًا

“Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Setiap kali nyala api Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka.”

Ini adalah peringatan yang sangat keras.

Allah juga berfirman:

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُوْدُهُمْ بَدَّلْنٰهُمْ جُلُوْدًا غَيْرَهَا لِيَذُوْقُوا الْعَذَابَ

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan azab.”
(QS. An-Nisā’ [4]: 56)

Ayat ini menunjukkan dahsyat dan terus-menerusnya azab bagi orang-orang yang mendapatkan hukuman tersebut.


11. Tetapi Jangan Salah Memahami: Allah Tidak Menyesatkan Orang yang Mencari Kebenaran dengan Zalim

Ada satu prinsip penting dalam memahami ayat ini.

Allah adalah Mahaadil dan tidak menzalimi hamba-Nya.

Allah berfirman:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ

“Dan Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.”
(QS. Fuṣṣilat [41]: 46)

Dan:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْـًٔا وَّلٰكِنَّ النَّاسَ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri.”
(QS. Yūnus [10]: 44)

Maka kita tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan.


12. Hidayah Harus Dijaga dengan Syukur

Allah telah memberikan kepada kita:

  • mata → gunakan untuk membaca Al-Qur'an;
  • telinga → gunakan untuk mendengar ilmu;
  • lisan → gunakan untuk berdzikir;
  • akal → gunakan untuk memahami ayat Allah;
  • hati → gunakan untuk mencintai Allah;
  • tubuh → gunakan untuk beribadah.

Jangan sampai nikmat-nikmat itu digunakan untuk melawan Dzat yang memberikannya.

Allah berfirman:

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrāhīm [14]: 7)

Dan nikmat yang paling layak kita syukuri adalah iman dan hidayah.


13. Cara Menjaga Hidayah

① Perbanyak doa

Di antara doa yang diajarkan Al-Qur'an:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 8)

② Jangan meninggalkan Al-Qur'an

Allah berfirman:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 9)

③ Berteman dengan orang saleh

Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharap keridaan-Nya.”
(QS. Al-Kahf [18]: 28)

④ Jangan meremehkan dosa

Dosa yang terus dilakukan dapat mengeraskan hati.

Allah berfirman:

كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 14)


14. Inti Pesan Ayat untuk Kehidupan Kita

Ayat 97 bukan hanya berbicara tentang orang-orang kafir dahulu.

Ayat ini juga menjadi cermin bagi kita.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya benar-benar mengikuti petunjuk yang sudah saya ketahui?

Karena seseorang mungkin:

tahu shalat itu wajib, tetapi meninggalkannya.

tahu ghibah itu haram, tetapi tetap melakukannya.

tahu riba itu haram, tetapi masih mencarinya.

tahu Al-Qur'an harus dibaca, tetapi jarang membukanya.

tahu sedekah itu mulia, tetapi berat mengeluarkan harta.

Maka persoalannya bukan sekadar “Apakah saya tahu?”

Tetapi:

“Apakah ilmu yang saya miliki telah menjadi petunjuk dalam kehidupan saya?”


15. Kesimpulan Besar

Dari QS. Al-Isrā’ ayat 97 kita mendapatkan lima pelajaran utama:

1. Hidayah adalah karunia Allah yang paling besar

Maka jangan pernah merasa lebih baik daripada orang lain.

2. Hidayah harus dicari dan dijaga

Dengan ilmu, amal, doa, taubat, dan lingkungan yang baik.

3. Jangan sombong dengan iman

Hati manusia dapat berubah. Karena itu kita membutuhkan pertolongan Allah setiap saat.

4. Berpaling dari petunjuk memiliki konsekuensi

Bukan hanya di dunia, tetapi sampai kehidupan akhirat.

5. Akhir kehidupan ditentukan oleh hidayah

Yang kita cari bukan sekadar hidup yang panjang, tetapi hidup yang berada di atas petunjuk dan mati dalam keadaan husnul khatimah.


Penutup Ceramah

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan hidup.

Kita tidak tahu kapan Allah memanggil kita.

Tetapi kita mengetahui satu hal: kita sangat membutuhkan hidayah Allah sampai akhir hayat.

Maka jangan bosan berdoa:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami. Berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”

Dan:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Semoga Allah memberikan kepada kita hidayah, taufik, istiqamah, husnul khatimah, dan mengumpulkan kita bersama Nabi Muhammad ﷺ dan orang-orang saleh di dalam Jannah-Nya.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Rujukan Ulama dan Kitab

Untuk memperdalam materi ini, pembahasan dapat dirujuk kepada:

  1. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm — Imām Ibn Kathīr, tafsir QS. Al-Isrā’: 97.
  2. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān — Imām aṭ-Ṭabarī.
  3. Tafsīr al-Jalālain — Jalāluddīn al-Maḥallī dan Jalāluddīn as-Suyūṭī.
  4. Mafātīḥ al-Ghaib — Fakhruddīn ar-Rāzī.
  5. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān — Imām al-Qurṭubī.
  6. Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān — ‘Abdurraḥmān as-Sa‘dī.
  7. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī — khususnya pembahasan tentang kebangkitan dan keadaan manusia pada hari kiamat.
  8. Ṣaḥīḥ Muslim — hadis-hadis tentang hari kebangkitan dan keadaan manusia di akhirat.
  9. Jāmi‘ at-Tirmiżī — hadis tentang doa memohon keteguhan hati.
  10. Sunan Abī Dāwūd — hadis tentang keadaan manusia ketika dikumpulkan di Mahsyar.

🌿 Pesan utama untuk disampaikan kepada jamaah

“Jangan hanya meminta Allah memberikan kita banyak nikmat. Mintalah nikmat yang membuat semua nikmat lainnya bernilai: yaitu hidayah. Sebab orang yang mendapatkan hidayah Allah, dialah yang benar-benar mendapatkan jalan keselamatan.”

Tidak ada komentar